Sabtu, 07 Mei 2011

TUGAS 2 SEJARAH M.NASHIR

SAYA DAN TOKOH SEJARAH MR.CLEAN




     
PART 1 :Tokoh sejarah yang saya wawancarai adalah kakek saya, bernama Marie Muhammad, beliau lahir di Surabaya,jawa timur pada tanggal  3 april 1939 dan dulu bekerja menjadi menteri keuangan pada periode orde baru yang pada saat saya smp saya membaca di internet bahwa kakek saya termasuk salah satu dari 3 menteri keuangan yang bersih yaitu mr clean(perjuangannya memberantas korupsi di era-nya yang masih sarat dengan korupsi). Pada waktu kecil beliau sangat nakal ,liar dan aktif.dia melakukan semua permainan di zaman dahulu dan selalu mencoba inovasi baru terhadap dirinya.dia suka menganalisis apapun dan melakukan apapun hal yang sedang bergengsi di zamannya. namun prestasinya di bidang sekolah bisa dibilang termasuk bagus dan di atas rata rata. Dulu kakek saya tergolong sering ada tawuran, dan kadang kakek saya suka ikut ikutan walaupun nenk saya tidak mengiinkannya bahkan dilarang keras.kakek saya bilang kita hanya boleh bertempur untuk bangsa atau agama, bukan untuk hal yang tidak jelas dan semata mata memperebutkan kekuasaan.
    Kakek saya termasuk orang yang wawasannya sangat banyak. Kupingnya pun besar, ibu saya berkata bahwa orang yang kupingnya besar biasanya adalah orang pintar.Kakek saya sering sekali mengikuti acara demonstrasi atau unjuk rasa, bahkan kadang dia yang memimpin dan menyemangati peserta demonstrasi tersebut.
     Kakek saya mendidik anak anaknya dengan penuh kasih sayang, , beratnya turun drastic karena penyakit kankernya. Kakek saya senang mengkoleksi mobil mobil dan motor motor.  Ayah saya mempunya 6 adik, dan sewaktu sma semua mobil ayahnya ayah saya dijual semua hanya untuk biaya sekolah adik adik ayah saya. Dia berkata bahwa itu perjuangan yang sangat berat sampai samai harus bersekolah dengan berjalan kaki demi mendapatkan uang jajan atau tidak mendapatkan uang jajan demi naik umum, nenek saya selalu bersyukur dengan apa yang ada dan terus berusaha untuk mendidik ke tujuh anakanya itunamun harus dijalankan karena pepatah mengatakan bersusah susah dulu bersenang senang kemudian. Itu adalah kata kata bijak yang mutlak kebenranannya.
     Saat kuliah Dia sangat antusias untuk mendapatkan gelar apapun,namun dia hanya mendapatkan 1 gelar dari tempat kuliahnya. Kakek saya mempunyai skill untuk bertinju, namun nenek saya tidak mengizinkannya. Kakek saya bilang bahwa dahulu saat dia melatih tinjunya dia dipanggil sebagai orang yang mengharumkan nama bangsa, tapi kata kata orang tua tidak bisa dihindarkan, sekalinya tidak boleh…. Tidak akan boleh sampai dibilang boleh. Kakek saya tinggal di petojo timur dimana ada tempat makan yang bernama soto dudung yang sangat enak dan murah. Tempat makan itu hanya bukan saat malam hari, namun Kakek saya dan terkadang saya datang untuk menikmati kelezatan daging kambingnya itu.
     Kakek saya sering memotivasi saya dan pada saat itu jua saya pasti akan termotivasi walaupun dalam beebrapa saat motivasi itu akan hilang.tp kadang saya termotivasi sendiri meskipun dia tidak memotivasi saya, motivasi itu ada karena perbuatannya yang sukses dan sering pergi keluar dar negeri tercinta Indonesia ke Negara lain di benua asia, amerika, eropa, bahkan afrika. Dia mempunyai apapun yang diinginkan dengan  menabung terlebih dahulu. Itu adalah sebagian kecil dari perbuatannya yang memmotivasi saya.
     Di setiap tahunnya kakek pasti punya kesenian di bidang olahraga yang bergengsi, contohnya pada zaman dahulu permainan bulu tangkis sedang bergengsi, lalu kakek saya mempelajarinya dan melatih dirinya untuk itu. Namun pada saat sekarang ini dia sedang menggemari permainan golf. Oleh karena itu kakek saya bukan termasuk orang yang buncit seperti orang tua lainnya, bahkan diapun mengaku tidak ingin menjadi buncit.
     kakek saya mempunyai koneksi yang sangat luas, jelas karena dia sering berkenalan dengan orang bahkan sampai diluar negeri.dia bilang bahwa koneksi sangat penting untuk kehidupan kita kerena kadang kita tidak bisa bekerja tanpa. bantuan orang lain dan hanya orang lain atau tuhan yang bisa memperbaiki kita dari kesulitan yang kita hadapi.
Pendidikan terakhir yang ditempuh adalah Master of Arts In Economics, Universitas Indonesiaa. Riwayat pekerjaan pada tahun 1969 - 1972 mengabdi Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara Departemen Keuangan RI. Pada Tahun 1972-1988 mengabdi di Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN Departemen Keuangan RI dengan jabatan terakhir sebagai Direktur. Tahun 1988-1993 mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan sebagai Direktur. Pada tahun 1993-1998 sebagai Menteri Keuangan Kabinet Pembangungan VI. Tahun 2001-2004 sebagai Ketua Oversight Committee (OC) BPPN. Tahun 1999 sebagai mantan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI). beliau pernah menjabat Ketua Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI), Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), dan komisaris utama PT Bank Syaria.Mega Indonesia.

     Beliau tetap optimis dalam menjalani hidupnya. Beliau sangat bahagia dikarunai keluarga yang besar, dan masih hidup untuk melihat itu semua. Beliau berharap suatu saat nanti, akan tiba dimana Indonesia akan menjadi sebuah Negara yang indah dan makmur, bebas dari kekangan-kekangan dan niat jahat orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan, dan Indonesia kembali menjadi sebuah Negara yang dihormati se-Asia Tenggara, atau mungkin, dunia. Semoga harapan beliau terkabul.

Part 2:
Kakek saya adalah saksi sekaligus mantan tokoh di persatuan ketua kamikapi dan HMI(himpunan mahasiswa islam) pada tahun 1965,untuk membantu membuat pada pemerintahan baru , jadi dia memimpin pergerakan untuk menumbangkan soeharto. Lalu dia menjadi anggota dpr dan selanjutnya menjadi menteri keuangan.
yang diberi nama Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Hadir sebagai pendiri dari MTI adalah beberapa tokoh penting yang namanya tidak asing bagi masyarakat luas Sejak beberapa waktu yang lalu, di Indonesia berdiri suatu lembaga masyarakat, baik itu dari kalangan militer, pemerintahan, politisi, pengusaha, LSM, perguruan tinggi maupun budayawan.
beliau adalah mantan Menteri Keuangan, yang oleh kalangan pers dijuluki sebagai "Mr. Clean" untuk pertama kalinya terpilih sebagai ketua untuk memimpin organisasi yang bertujuan mewujudkan masyarakat transparan di Indonesia.
Transparansi:Mengapa dan apa latar belakang yang fundamental sehingga kita perlu membangun masyarakat transparansi?
kakek saya: Nah, untuk menjawab itu, kita perlu dahulu menjawab tiga pertanyaan yang fundamental; yang semuanya itu kaitannya dengan etika kekuasaan, public ethic. Yang kesatu, bagaimana seseorang atau sekelompok orang itu mencapai kekuasaan tertentu. Cara bagaimana, kok dia mencapai kekuasaan itu; pakai cara demokratis nggak; legitimate nggak; manusiawi nggak. Yang kedua, kalau dia sudah mencapai kekuasan, meskipun dia mencapai kekuasaan itu dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum, sesuai dengan konsensus yang berlaku dalam masyarakat, kemudian juga sah secara demokratis, masih timbul pertanyaan: bagaimana kekuasaan itu digunakan. Apakah telah digunakan betul-betul untuk kepentingan publik atau masyarakat yang diwakili; apakah kekuasaan itu telah digunakan sesuai dengan konsensus semula, atau apa tidak ada penyalahgunaan dari konsensus semula; lalu apakah kekuasaan tidak digunakan berlebih-lebihan, excessive use of power, sehingga semua ditekan ke bawah. Nah ini yang terakhir ini biasa disebut soft authoritarian. Seperti negara-negara di Asia Tenggara itu legitimate, sah kekuasaannya, pemilihannya demokratis, tapi kekuasaan digunakan berlebih-lebihan. Kalau tidak abuse, penyalahgunaan biasanya yang terjadi penggunaan kekuasaan berlebih-lebihan, excessive. Lalu juga apakah dia telah menempuh cara-cara yang tidak wajar untuk melanggengkan kekuasaannya. Misalnya, tindakan apapun akan dia lakukan supaya dia itu in power. Contoh, seperti yang sekarang terjadi di Malaysia. Itu 'kan struggle of power bukan persoalan lain, persoalan teknis ekonomi. Kalau soal teknis itu 'kan lumrah... Apakah soal devisa mau dikendalikan. Nggak, sebab itu 'kan bisa dibicarakan. Bahkan nggak usah dipersoal-kan terlalu panjang, serahkan saja itu kepada Menteri Keuangan dan Bank Sentral. Biasanya di Amerika-pun Presidennya nggak turut campur soal-soal teknis seperti itu. Kebijakan itu 'kan soal teknis. Jadi itu 'kan yang kelihatan muncul; tapi makin sekarang makin kelihatan bahwa bukan masalah teknis ekonomi itu, tapi yang lebih pokok: masalah struggle of power. Jadi persoalannya kembali apakah tidak ada upaya-upaya dengan cara apapun hendak melanggengkan kekuasaan, as soon as possible. Di Indonesia itu berlaku abuse of power; kedua, excessive use of power, ketiga melanggengkan kekuasaan. Tiga-tiganya berjalan di Indonesia ini.
Transparansi: Sampai sekarang?
Mudah-mudahan tidak. Kita 'kan mau membuka lembaran sejarah baru; karena itu kita dirikan masyarakat transparansi. Yang ketiga, tentang pertanggungjawaban kekuasaan, public accountability. Supaya orang tahu pertanggungjawaban itu maka harus transparan; yang maksudnya supaya masyarakat itu mengetahui bahwa kekuasaan itu, meskipun susah, telah dipertanggungjawabkan secara transparan. Jadi orang tahu kalau nanti masyarakat itu dilibatkan secara luas dengan cara yang transparan melalui media massa dan lain-lain. Wewenang publik itu telah dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya dan telah digunakan sebetul-betulnya untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok. Betul-betul untuk kepentingan umum. jadi transpirasi benar-benar tidak bisa dipisahkan. Public accountability and transparancy itu tidak bisa dipisahkan. Ini satu. Yang kedua, transparansi penting, mengapa? Orang 'kan banyak bicara tentang good governance. Good governance itu adalah cara-cara menggunakan kekuasaan dan kewenangan sedemikian rupa sehingga kewenangan itu digunakan betul-betul untuk kepentingan umum dengan cara yang transparan. Nah, good governance itu ada jika ada pembagian kekuasaan. Jadi ada disperse of power, bukan concentrate of power. Good governance sama dengan disperse of power, pembagian kekuasaan plus public accountability plus transparancy. Nah kalau tidak ada ini, good governance perlu untuk menekan penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan yang biasanya itu menimbulkan korupsi. Dan corrupt itu selalu abuse of power. Semakin tinggi kualitas dari good governance, semakin rendah korupsi. Sebaliknya semakin rendah kualitas good governance, korupsinya semakin tinggi. Lha, di sini muncul lagi unsur transparansi. Dahulu orang bicara good governance itu hanya untuk wilayah publik. Sekarang ndak karena dibicarakan lebih luas lagi pada perusahaan-perusahaan. Kenapa? Perusahaan-perusahaan itu juga menyandang atau mempunyai kekuasaan dari masyarakat. Mereka menyandang amanat masyarakat. Misalnya, kita taruh uang di Bank. Kalau terjadi apa-apa di bank-nya? Sementara manajemennya nggak betul? Uang kita hilang. Ini berkaitan dengan konsep stake holder. Jadi stake holder-nya tidak hanya share holder. Semuanya berkepentingan. Kalau perusahaan besar manajemennya nggak betul, dampaknya juga pada masyarakat. Jadi sekarang ini yang menyandang public accountability itu tidak hanya kekuasaan-kekuasaan publik tetapi juga meluas pada perusahaan-perusahaan. Karena itu governance di sini pada public sector maka biasanya kita juga ngomong as well as in the corporate sector. Kemudian seperti yang saya katakan, good governance equal to disperse of power atau pembagian kekuasaan, plus public accountability, plus transparancy. Nah pengertian transparansi jauh lebih luas dari hanya sekedar keterbukaan. Sekarang disperse of power itu bentuknya apa? Harus ada suatu lembaga-lembaga di luar eksekutif, yaitu: legislatif, yudikatif dan eksaminatif. Jadi orang sekarang tidak bicara trias politika lagi. Nggak, sudah empat: eksekutif, yudikatif, legislatif dan eksaminatif. Ini menjadi empat pilar. Yang tiga terakhir itu harus independen terhadap eksekutif. Independen itu apa? Dia menyangkut fungsinya dan tingkah lakunya. Dia tidak boleh secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh eksekutif dalam pengambilan keputusan. Begitu dia dipengaruhi, dia tidak independen lagi. Karena memang tugas yang tiga itu mengawasi yang satu, eksekutif itu. Itu satu. Kedua, yang namanya pemisahan kekuasaan itu adalah dilembagakannya yang namanya oposisi. Pelembagaan dari partai oposisi; partai oposisi selalu menjadi bayangan, bahkan dia punya kabinet. Kalau ini (pemerintahan) tidak berkuasa lagi, maka oposisi akan naik. Masalahnya mengapa orang itu menggunakan partai oposisi? Berfikir demokratis itu adalah berfikir dalam kerangka alternatif; sedangkan otoriter itu tidak pernah berfikir dalam kerangka alternatif, karena cuma satu. Mengapa demikian? Supaya masyarakat itu jangan dihadapkan pada suatu keadaan yang vakum. Kalau yang satu gagal, ada yang muncul segera; sehingga sistem itu tidak vakum. Seperti sekarang kita ambruk sistemnya karena selama ini orang yang menjadi sistem. Begitu orangnya turun, habis sistemnya. Yang ketiga, harus ada keseimbangan dan kesetaraan antara pemerintah yang memerintah dan dengan yang diperintah. Yang memerintah itu bukan hanya eksekutif. Jangan salah. Eksekutif plus legislatif, plus yudikatif, plus eksaminatif, itu semua memerintah. Mereka mempunyai kekuasaan formal. Yang memerintah adalah orang-orang atau badan-badan yang mempunyai kewenangan publik, dan itu terdiri dari empat itu. Lalu apa kewenangan publik itu? Suatu kewenangan yang diperoleh dari masyarakat melalui suatu ketentuan tertentu, undang-undang atau dasar apapun juga, yang keputusan-keputusannya akan menyangkut kepentingan umum. Nah itu harus ada kesetaraan antara kekuasaan formal dengan yang diluar; antara yang memerintah dengan masyarakat umum, yang diperintah. Masyarakat umum sendiri mempunyai lembaga-lembaga, seperti partai politik, lembaga sosial, Pers, Universitas, dan lain-lain. Ini yang organized society. Di luar itu ada yang unorganized. Jadi memang sekarang ini kita baru dalam tahap conditioning; menciptakan lingkungan yang kondusif bagi masyarakat yang transparan. Kita menyadari bahwa masyarakat di Eropa - transparansi mulainya di Eropa dulu bukan di Amerika - dan di Amerika, itu memakan waktu lama, ratusan tahun untuk menjadi masyarakat transparan. Tapi kita tidak perlu seperti itu, karena dunia ini 'kan sudah global, sehingga tidak usah menunggu waktu yang sama lamanya. Sebab waktu masyarakat Eropa, Amerika dan Jepang meniti ke masyarakat yang transparan, dunia ini belum seperti sekarang. Sekarang ini dunia ini sudah menjadi masyarakat informasi sehingga kita tidak perlu waktu yang begitu lama untuk menuju masyarakat yang transparan. Tetapi memang yang kita kerjakan sekarang ini adalah membangun suatu lingkungan masyarakat ke arah terwujudnya suatu masyarakat yang transparan. Nah waktunya sampai kapan, itu merupakan suatu proses. Dan perkembangan masyarakat itu 'kan suatu proses.
Kalau menyimak apa yang diungkapkan tadi, kelihatannya masyarakat transparansi erat kaitannya dengan proses demokratisasi.
. Tidak ada suatu masyarakat yang demokratis tanpa transparansi. Makin tinggi transparansi maka makin demokratislah masyarakat itu. Demokratis itu apa sih? Kedaulatan ditangan rakyat, 'kan. Itu di Pancasila 'kan tidak ada kata-kata demokrasi, tapi kedaulatan rakyat. Sama itu. Kedaulatan itu berasal dari kata-kata bahasa Arab; daulah itu artinya kekuasaan, kerajaan, power. Rakyat itu araiyah, ya rakyat. Jadi rakyat yang berdaulat.
Transparansi: Di Indonesia ini korupsi selama ini menjadi masalah besar. Dalam kaitannya dengan upaya membangun masyarakat transparansi ke depan, langkah-langkah apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah korupsi?
Mar'ie Muhammad: Saya pikir, mungkin kita perlu, saya sudah sampaikan pada kawan-kawan, mengumpulkan bahan sekarang dan mulai kita susun bagaimana strategi mengatasi korupsi. Ya, mungkin tidak terlalu detil tapi suatu kerangka, yang nanti kami siarkan kemana-mana. Sifatnya blue print-lah tentang bagaimana to combat corruption.
Transparansi: Itu ada kaitannya dengan rencana World Bank untuk membantu Indonesia dalam memerangi korupsi.

 Part 3 :
Kesulitan mencari tokoh sejarah ini terletak dimana  orang tersebut mempunyai waktu yang kosong untuk memjelaskan, menceritakan, dan menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut.contoh, saya menunggu beberapa lama untuk kepulangan kakek saya dari luar kota dan mencari waktu kosongnya untuk menjelaskan ini.dan saya sempat bingung siapa yang saya akan wawancarai, tp saya sadar bahwa orang yang paling mudah untuk saya wawancarai adala kakek saya. Ini adalah sebuah alasan mengapa saya telllat mengumpulkan tugas sayal. Kesulitan ini bergantung pada waktu seseorang yang bukan saya sendiri. Tapi saya membuat tugas ini tidak sepenuhnya dengan hasilkerja saya melainkan bantuan dari sumber lain
 
maaf untuk kekurangan dari hasil kerja ini.





      

2 komentar:

  1. Padahal, kalau saja sang cucu lebih bersungguh-sungguh untuk menggali cerita dari sang Kakek, pasti ceritanya akan lebih hidup, lebih bernuansa, lebih pribadi, dan yang terpenting lebih inspiratif. Coba saya bayangkan, data yang ditulis diambil begitu saja dari bahan-bahan yang sudah kedaluarsa, menjadi kurang maknanya tulisan ini.
    Sangat disayangkan kalau sang Kakek kemudian menemukan tulisan cucunya (yang ada pada blog kelasnya) hanya begini.

    ms.rasyid
    http://wanakajir.blogspot.com

    BalasHapus
  2. maaf pak,kakek saya jarang sekali ada dirumahnya dan mungkin saya hanya sekali setahun dapat menjumpai dan ngobrol dengannya.saya sudah menghubungi beliau beberapa kali namun waktu kosongnya masih lama dari waktu tugas yang harusnya udh di post.dia sudah mengizinkan saya untuk menggali dr internet walaupun saya harus membacanya dan memahaminya.tp untuk auto biografinya beliau minta untuk saya yang buat sendiri berdasarkan hasil pengalamannya menceritrakannya kepada saya setiap saya bertemu dengan beliau pak

    BalasHapus