Selasa, 31 Mei 2011

Saya dan Museum Nasional

Dalam tugas ke-3 ini, saya berkunjung ke Museum Nasional yang terletak di bilangan Jakarta Pusat.



Benda yang pertama saya akan bahas adalah Sasando. Sasando adalah sebuah alat instrumen petik musik. Instrumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7. Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi.

Keindahan bunyi sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan emosi. Oleh sebab itu, dalam masyarakat NTT, sasando adalah sebagai alat musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, menambah kpceriaan saat bersuka cita, serta sebagai hiburan pribadi.

Secara umum, bentuk sasando serupa dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi tanpa chord (kunci), senar sasando harus dipetik dengan dua tangan, seperti harpa.Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Melingkar dari atas ke bawah tabung adalah ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan dan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar.

Tabung sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah setengah melingkar terbuat dari daun pohon gebang (semacam lontar) yang menjadi tempat resonansi sasando, atau media pemantul. Hingga kini, semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando terbuat dari bahan alami, kecuali senar dari kawat halus.

Dibedakan dari jumlah senar-nya, sasando dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu Sasando Engkel (dengan 28 da-wai); Sasando Dobel (dengan 56 dawai, atau 84 dawai); Sasando Gong atau Sasando I Luk. dan Sasando Biola. Oleh sebab itu, bunyi sasando sangat bervariasi, hampir semuajenis musik bisa dimainkan dengan sasando musik tradisional, pop, slow rock bahkan dangdut. Ada katanya, perbedaan pada cara permainan tipe sasando tertentu tergantung gaya permainan di tiap daerah, kemampuan pemain dan tidak adanya sistem notasi musik, khususnya untuk sasando gong.

Terdapat dua jenis ensemble sasando, yaitu yang terdapat di Pulau Rote, di mana sasando dimainkan untuk mengiringi nyanyian dan tabuhan gendang. Sedangkan di Pulau Sabu, dua buah sasando dimainkan bersamaan dengan iringan vokal tetapi tanpa gendang.

Ada pula jenis Sasando Elektrik yang diciptakan oleh Arnoldus Edon termasuk dalam salah satu jenis Sasando Biola. Sasando Elektrik ini tidak menggunakan daun lontar / haik / peti, karena tidak membutuhkan ruang resonansi yang berfungsi sebagai penampung suara. Bunyi langsung dapat diperbesar lewat alat pengeras suara (sound system/speaker aktif)

Benda selanjutnya yang akan saya bahas adalah patung Ganesa. Ganesa adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa memedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara. Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.

Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda. Ketenarannya naik dengan cepat, dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya, yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama, muncul selama periode itu. Kitab utama yang didedikasikan untuk Ganesa adalah Ganesapurana, Mudgalapurana, dan Ganapati Atharwashirsa

•Etimologi dan Nama Lain
Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian, termasuk Ganapati dan Wigneswara. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan, yaitu Sri seringkali ditambahkan di depan namanya. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama, sebuah doa pengucapan "seribu nama Ganesa". Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. Sekurang-kurangnya ada dua versi Ganesa Sahasranama; salah satu versi diambil dari Ganeshapurana, yaitu sastra Hindu untuk menghormati Ganesa.

Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari kata gana, berarti kelompok, orang banyak, atau sistem pengelompokan, dan isha, berarti penguasa atau pemimpin. Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para gana, pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa. Istilah itu secara lebih umum berarti golongan, kelas, komunitas, persekutuan, atau perserikatan. Ganapati, nama lain Ganesa, adalah kata majemuk yang terdiri dari kata gana, yang berarti "kelompok", dan pati, berarti "pengatur" atau "pemimpin". Kitab Amarakosha, yaitu kamus bahasa Sanskerta, memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka, Wignaraja (sama dengan Wignesa), Dwaimatura (yang memiliki dua ibu), Ganadipa (sama dengan Ganapati dan Ganesa), Ekadanta (yang memiliki satu gading), Heramba, Lambodara (yang memiliki perut bak periuk, atau, secara harfiah, yang perutnya bergelayutan), dan Gajanana (yang bermuka gajah).

Winayaka adalah nama umum bagi Ganesa yang muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha. Nama ini mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. Nama Wignesa dan Wigneswara (Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna).

Nama yang terkenal bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar ("anak kecil"). A. K. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang "anak yang mulia". Dia menambahkan bahwa kata pallu, pella, dan pell dalam bahasa-bahasa kaum Dravida berarti "gigi atau gading gajah", namun lebih lazim diartikan "gajah". Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin aslinya berarti "gajah muda", karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah muda".

•Penggambaran
Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Citra tentang Ganesa menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6. Tidak seperti dewa-dewi lainnya, penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Dia kadangkala digambarkan berdiri, menari, beraksi dengan gagah berani melawan para iblis, bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki, duduk di bawah, atau bersikap manis dalam suatu keadaan.

Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia ambil dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut, ditaksir berasal dari abad ke-7. Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya.

-Atribut Umum
Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam kesenian India. Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Salah satu perwujudannya yang terkenal, yakni Heramba-Ganapati, memiliki lima kepala gajah, dan variasi kecil lainnya pada jumlah kepala diketahui. Sementara beberapa kitab mengatakan bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah, pada cerita yang terkenal dikatakan bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Motif utama yang terulang dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia, kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala, memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Saat Ganesa lahir, ibunya,
Parwati, menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Tiba-tiba, Dewa Sani (Saturnus), yang konon memiliki mata terkutuk, memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala gajah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian, ia memberinya kepala gajah dan perut buncit.

Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana, yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Perut buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman dulu, yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI). Penampilan ini amat penting, karena menurut Mudgalapurana, dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit, atau, secara harfiah, perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar). Kedua nama tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan bagaimana keadaan perutnya. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta di masa lalu, sekarang, dan yang akan
datang ada di dalam tubuhnya. Jumlah lengan Ganesa bervariasi; wujudnya yang terkenal memiliki sekitar dua sampai enam belas lengan. Banyak penggambaran tentang Ganesa yang menampilkan ia bertangan empat, yang telah disebut dalam Purana dan ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi. Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan. Wujud dengan 14 dan 20 lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10. Ular adalah tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam beragam bentuk. Menurut Ganesapurana, Ganesa melilitkan ular Basuki di lehernya. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk, dipegang di tangan, dililitkan di pergelangan kaki, atau dipakai sebagai mahkota. Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa, yang berupa tiga garis mendatar. Ganeshapurana mengatakan bahwa tanda tilaka sama saja
dengan bulan sabit pada dahi kepala. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalachandra memasukkan unsur penggambaran tersebut. Namun warna lain yang spesifik dihubungkan dengan wujud tertentu. Beberapa contoh mengenai hubungan warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi, sebuah buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. Sebagai contoh, putih dihubungkan dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati (Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Ekadanta-Ganapati digambarkan berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu.

-Wahana
Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya, menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan menggunakan Sesa, naga ilahi, dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Pada empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata menunggangi singa, Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi kuda, dan Gajanana menunggangi tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap Ganesa, wahananya ada bermacam-macam, seperti misalnya tikus, gajah, penyu, domba, atau merak.

Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus. Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama dalam sastra tentang Ganesa, di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke-7; tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Tikus sebagai wahana muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam Brahmandapurana dan Ganesapurana, dimana Ganesa menggunakannya sebagai kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. Ganapati Atharwashirsa mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat dalam benderanya. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana (berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.

Ganesa sebagai penguasa tikus menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya.

•Asosiasi
-Buddhi
Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. Dalam bahasa Sanskerta, kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan, kebijaksanaan, atau akal.  Konsep buddhi erat dikaitkan dengan kepribadian Ganesa, khususnya pada zaman Purana, ketika banyak kisah menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Salah satu nama Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya. Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang menurut Ganesa amat penting. Kata priya bisa berarti "yang tercinta", dan dalam konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami", maka nama Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami Buddhi".

-Aum
Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu, yang merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama. Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini:

(O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma, Wisnu, dan Mahesa. Engkaulah Indra. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Engkaulah matahari (Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi], Antariksa-loka [luar angkasa], dan Swargaloka [sorga]. Engkaulah Om. (Itu sebagai tanda, bahwa Engkaulah segala hal tersebut).

Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.

-Cakra Pertama
Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam. Hubungan Ganesa dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa,] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]." Maka dari itu, Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Ganesa memegang, menopang dan memandu cakra-cakra lainnya, sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.

•Mitologi
-Kelahiran
Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati, mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana.

Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik.

Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati puteranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.

Atas saran Brahma, Siwa mengutus abdinya, yaitu para gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan

-Keluarga dan istri
Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda, yang juga disebut Kartikeya, Murugan, dan lain-lain. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda tentang jenjang kelahiran mereka. Di India Utara, Skanda biasanya dianggap yang lebih tua, sementara di India Selatan, Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir. Skanda merupakan dewa perang yang terkenal sekitar tahun 500 SM sampai 600 M, ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara. Seiring dengan memudarnya Skanda, Ganesa mulai berkembang. Beberapa kisah menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja Skanda).

Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema (kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Menurut kisah versi India Utara, puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Film berbahasa Hindi tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma, dewi kepuasan. Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.

•Pemujaan dan festival
Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti) pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada (Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha (Januari/Februari).

-Ganesa Caturti
Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari, dimulai pada Ganesa Caturti, yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal September. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi, ketika arca (murti) Ganesa dicelupkan ke dalam air. Pada tahun 1893, Lokmanya Tilak mengubah festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi masyarakat luas. Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka, dalam cita-cita nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra. Karena Ganesa dipuja secara luas sebagai "dewa bagi semua orang", Tilak memilihnya sebagai tempat menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris. Tilak adalah orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di sebuah paviliun, dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra
Ganesa pada hari kesepuluh. Di masa kini, umat Hindu di penjuru India merayakan festival Ganapati dengan semangat menyala, meskipun hal itu paling populer di negara bagian Maharashtra. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.

Dalam tempat suci Hindu, Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai dewa bawahan (parswadewata); sebagai dewa yang erat dengan dewa utama (pariwaradewata); atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana), dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu. Sebagai dewa keluar-masuk, dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau hal-hal buruk, yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Dan juga, beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri, misalnya Astawinayaka di Maharashtra yang paling terkenal. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari kota Pune, masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama Ganapati, lengkap dengan cerita dan legendanya; bersama-sama mereka membentuk sebuah mandala, menandai wilayah suci Ganesa.

Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di Maharashtra; Ujjain di Madhya Pradesh; Jodhpur, Nagaur dan Raipur (Pali) di Rajasthan; Baidyanath di Bihar; Baroda, Dhokala, dan Balsad di Gujarat dan Kuil Dhundiraj di Benares, Uttar Pradesh. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli; di Rameshvaram dan Suchindram di Tamil Nadu; Hampi, Kasargod, dan Idagunji di Karnataka; dan Bhadrachalam di Andhra Pradesh.

•Sejarah ketenaran
-Kemunculan pertama
Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal, yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra, yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa sebagai berikut:

Apa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Pelopornya tak jelas. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas, yang melampaui batas mahzab dan teritorial, sungguh menakjubkan. Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan, namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi. ...

-Pengaruh memungkinkan
Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India, namun berkesimpulan bahwa, "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah, itu tidak bisa dianggap menggambarkan Ganapati-Winayaka. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini. Ganapati-Winayaka masih membuat debutnya."
Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka. Dalam mitologi Hindu, para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan dan kesulitan, namun mudah untuk ditenangkan. Nama Winayaka adalah nama yang biasa bagi Ganesa, baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha. Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini, yang berkomentar datar tentang Ganesa, "Dia bukan dewa dalam Weda. Asal-usulnya mengikuti jejak empat Winayaka, roh jahat, dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM) yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan". Penggambaran figur manusia berkepala gajah, yang beberapa di antaranya diidentifikasikan dengan Ganesa, muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke-2.

-Sastra Weda dan wiracarita
Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam Regweda, namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. Istilah itu muncul dalam Regweda (Rw 2.23.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati, menurut para komentator. Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada Brahmanaspati, sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih dipakai hingga sekarang. Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda, Ludo Rocher mengatakan bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan hanya Wrehaspati. Hal yang juga mirip, yaitu pernyataan kedua (Rw 10.112.9) merujuk pada Indra, yang diberi gelar 'ganapati', diterjemahkan menjadi "Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut)." Tetapi, Rocher menyatakan bahwa sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk menghormati Ganesa.

Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam, yaitu Maitrayaniya Samhita (2.9.1) dan Taittiriya Aranyaka (10.1), menyatakan permohonan kepada dewa yang "bertaring satu" (Dantih), "bermuka gajah" (Hastimuka), dan "berbelalai bengkok" (Wakratunda). Nama-nama ini mengingatkan kita pada Ganesa, dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas memastikan identifikasi ini. Deskripsi tentang Dantin, yang memiliki belalai bengkok (wakratunda) dan memegang jagung, tebu, dan gada, merupakan karakteristik Ganapati yang utama secara Purana, seperti yang dikatakan Heras, "tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa) dengan (ciri-ciri) Dantin ini". Tapi, Krishan menganggap bahwa himne-himne ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda. Thapan menambahkan bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan. Dhavalikar mengatakan, "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani
Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir, maka tidak begitu berguna dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)".

Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. Sebuah sisipan pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang didikte oleh sang resi kepadanya. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi, yaitu, tanpa berhenti. Sang resi setuju, namun sadar bahwa untuk melakukan jeda, ia perlu menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan bertanya untuk mengklarifikasi. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi kritikan. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut. Richard L. Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8, dan Moriz Winternitz
menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. 900, namun tidak ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian. Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut. Istilah winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan. Sebuah referensi tentang Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan.

-Zaman Purana
Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. Brown mengatakan, sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi, penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan, sekitar th. 600–1300. Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah, ada dalam Purana yang digubah dari th. 600 dan seterusnya. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal, seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana, adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke-7sampai abad ke-10.

Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9, ketika secara formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Filsuf abad ke-9 bernama Shankaracarya memopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud" (pañcāyatana pūjā), sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam tradisi Smarta. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu Ganesa, Wisnu, Siwa, Dewi, dan Surya. Shankaracarya mendirikan tradisi itu dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar pada status yang sama. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai seorang dewa komplementer.

-Buku dan sastra
Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam Brahmanisme, beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa utama mereka. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya, seperti yang dapat disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana.

Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Kedua-duanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuk-tumpuk. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan mengukuhkan pendapatnya. "Sepertinya, mungkin pokok-pokok isi dari Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas", dia berkata, "namun kemudian diberi sisipan." Lawrence W. Preston berpikir bahwa waktu yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan 1400, bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang disebutkan dalam kitab itu.

R.C. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada Ganeshapurana, yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400. Tetapi, Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang menyinggung masalah Ganesa. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah fakta bahwa, di antara bukti-bukti internal lainnya, Mudgalapurana secara spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana (Brahma, Brahmanda, Ganesha, dan Mudgalapurana) yang menyinggung masalah Ganesa. Sementara isinya sudah usang, kitab itu diberi sisipan sampai abad ke-17dan ke-18, sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi penting dalam wilayah tertentu. Kitab lain yang memuji Ganesa, yaitu Ganapati Atharwashirsa, ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17.

Benda selanjutnya yang akan saya bahas adalah sebuah miniatur rumah adat Toraja, yaitu Tongkonan. Rumah asli Toraja disebut Tongkonan, berasal dari kata ‘tongkon‘ yang berarti ‘duduk bersama-sama‘. Tongkonan selalu dibuat menghadap kearah utara, yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Tongkonan berupa rumah panggung dari kayu, dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atap tongkonan berbentuk perahu, yang melambangkan asal-usul orang Toraja yang tiba di Sulawesi dengan naik perahu dari Cina. Di bagian depan rumah, di bawah atap yang menjulang tinggi, dipasang tanduk-tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau ini melambangkan jumlah upacara penguburan yang pernah dilakukan oleh keluarga pemilik tongkonan. Di sisi kiri rumah (menghadap ke arah barat)
dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih, sedangkan di sisi kanan (menghadap ke arah timur) dipasang rahang babi.

Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.

Dalam paham orang Toraja, tongkonan dianggap sebagai ‘ibu‘, sedangkan alang adalah sebagai ‘bapak‘. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah,dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut ‘tangalok‘, berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, juga tempat meletakkan sesaji. Ruangan bagian tengahdisebut ‘Sali‘, berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat meletakkan orang mati, juga dapur. Adapun ruangan sebelah selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Ruangan sebelah selatan ini juga dianggap sebagai sumber penyakit.

Mayat orang mati tidak langsung dikuburkan, tetapi disimpan di tongkonan. Sebelum dilakukan upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘. Supaya tidak busuk, mayat dibalsem dengan ramuan tradisional semacam formalin, yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Jika akan dilakukan upacara penguburan, mayat terlebih dulu disimpan di lumbung padi selama 3 hari. Peti mati tradisional Toraja disebut ‘erong‘, berbentuk babi untuk perempuan dan kerbau untuk laki-laki. Untuk bangsawan, erong dibuat berbentuk rumah adat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar