Senin, 06 Juni 2011

Saya dan Museum IPTEK, Ilmu Pengetahuan Tak Bisa Lepas Dari SejarahA

Saya dan Museum IPTEK, Ilmu Pengetahuan Tak Lepas Dari Sejarah

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi museum IPTEK. Berbeda dengan museum kebanyakan, museum ini cenderung lebih mempertunjukkan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan.

Berikut ini sekilas mengenai Museum Iptek TMII yang berhasil saya dapat dari petugas setempat.

Sejarah PP-IPTEK

Pada tahun 1984 gagasan pendirian science centre di Indonesia diprakasai oleh Menristek, Prof. Dr. B.J. Habibie.

Dibentuk Supporting Committee tahun 1987 untuk melakukan sosialisasi science centre kepada masyarakat melalui penyelenggaraan pameran fisiska dan matematika di Gedung Pengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Fuad Hasan.

Pada tahun sekitar 1988 dikembangkan 20 peragaan interaktif bidang IPA di Anjungan Istana Anak-Anak TMII, sebagai hasil kerjasama dengan Fakultas Pendidikan Matematika & IPA, IKIP Jakarta. Tujuannya untuk pengenalan dan studi penjajakan animo masyarakat, ternyata kesan pengunjung sangat positif dan para remaja dapat mengenal iptek dengan lebih mudah dan nyata.

Konsep awal perencanaan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) dibantu oleh US Agency for International Development dan Asia Foundation. Sesuai dengan konsep awal tersebut, Master Plan PP-IPTEK dikembangkan oleh Tim Kementerian Ristek, PT Tripanoto Sri Konsultan, Tim dari Musee de La Villete dan Sopha Development dari Perancis.

Pada tanggal 20 April 1991, PP-IPTEK diresmikan oleh Presiden Soeharto di gedung Terminal B Skylift-TMII seluas 1.000 m2. Alat peraga merupakan sumbangan dari industri strategis, IBM, serta sebagian dibuat secara in-house dengan bantuan KIM-LIPI, LUK BPPT, dan BATAN.

PP-IPTEK menempati gedung permanen pada tanggal 10 November 1995, yang berlokasi di poros utama kompleks TMII menghadap Plaza Perdamaian Monumen KTT Non-Blok. Filosofi konsep desain bangunannya futuristic, menjelajah tanpa batas, dengan luas bangunan 24.000 m2 dan luas area 42.300 m2.








Koleksi – koleksi museum IPTEK TMII

Koleksi yang ada terbilang menarik, dan menyenangkan untuk dipelajari. Mulai dari komputer yang sangat kuno, hingga benda benda yang baru seperti mesin sepeda motor.  Berikut ini beberapa alat yang sempat saya amati dan catat.

Giroskop

Alat ini cukup unik. Kita duduk di sebuah kursi, sambil memegang sebuah roda yang berputar. Yang menjadikannya unik adalah, ketika kita memiringkan  giroskop, kursi yang kita duduki akan bergerak searah giroskop tersebut. Tubuh kita pun serasa sedikit tertarik. Sangat menarik untuk dicoba.

Prinsipnya adalah berupa piringan berputar yang disangga oleh pelat yang disebut “gimbal”. Sehingga saat piringan itu berputar, maka unit giroskop itu akan tetap menjaga “posisinya” saat pertama kali dia diputar.
Penggunaan gyroskop seperti yang sudah di jelaskan tadi dipasang pada pesawat terbang, yang membantu kendali sayap (AILERON), yang akan menjaga pesawat tetap horisontal terhadap permukaan bumi.
compas_clip_image028Giroskop juga digunakan sebagai “kompas” untuk menentukan posisi seperti halnya posisi kompas magnetik, namun tidak terpengaruh oleh medan magnet apapun disekitarnya.





Di dekat Giroskop, ada salah satu favorit saya. Yaitu alat flight simulator. Kita bias mencoba menerbangkan sebuah model pesawat yang biasa digunakan untuk aero modeling. Meski hanya menggunakan simulasi computer, kita tetap menggunakan sebuah remote control yang persis seperti aslinya.

Ini adalah salah satu koleksi yang baru. Saya cukup menyukainya. Gambar yang ditampilkan pun juga baik dan realistik. Bila tak mampu mengendalikan pesawat yang ada, maka pesawat mini itu akan tercebur kedalam air.

Tak jauh dari pesawat mainan ini, ada bagian bagian pesawat yang asli. Kita dapat melihat bagian bagian tersebut dan memperhatikannya secara detail.

Bergerak lagi, saya menemukan ruang cahaya. Disana semua alat peraga yang ada menggunakan prinsip prinsip cahaya. Salah satunya adalah alat Zoetrope.

Zoetrope adalah alat yang menghasilkan ilusi dari gambar statis yang diputar dengan cepat . Istilah zoetrope diambil dari kata Yunani ζωή - zoe, "kehidupan" dan τρόπος - tropos, "mengubah". Yang berarti Wheel of Life atau Roda Kehidupan

Zoetrope terdiri dari sebuah silinder dengan celah vertikal di setiap sisinya. Di bagian dalam Zoetrope tepatnya dibawah celah-celah vertikal terdapat barisan gambar yang dijadikan satu. Sebagai silinder berputar pengguna melihat melalui celah-celah vertikal. Karena silindernya berputar dengan cepat jadi kita  melihat gambar yang didalam seperti animasi yang bergerak sesuai dengan yang digambar.

Karena celah berbentuk vertikal , maka gambar yang kita lihat akan lebih kecil dari gambar aslinya.

Zoetrope pertama kali diciptakan oleh Ting Huang pada tahun 180M di China. Zoetropenya masih simple dibanding yang ada beberapa tahun setelahnya. Zoetrope digantung di lampu lalu nanti diputar. Pada tahun 1834 William George Horner membuat Zoetrope yang modern pertama yang dia beri nama Daedalum atau the wheel of the devil tetapi Daedalum masih belum populer sampai dipatenkan oleh pembuat di Amerika bernama William F. Lincoln di tahun 1860, nah baru si william memberi nama Zoetrope. Itulah asal nama Zoetrope. Cara kerja zoetrope sama dengan cara kerja phenakistiscope hanya gambarnya dibuat di atas kertas yang panjang.

Ruang cahaya juga salah satu favorit saya. Saya sempat berfoto di salah satu alat tipuan cermin. Yang terlihat dari kamera adalah kepala saya putus dan berada di atas sebuah piring makanan. Yang terjadi sesungguhnya adalah, tubuh saya tersembunyi karena tipuan cermin, dan hanya memperlihatkan kepala saya.

Di ruang cahaya, banyak sekali cermin dan tipuannya. Kita bisa melihat cerminan diri kita menjadi gemuk, sangat kurus, atau bahkan memiliki kepala seperti alien. Semua itu karena bentuk cermin yang tidak rata.

Tipuan cermin sudah sering digunakan, sejak masa lalu. Contohnya adalah tipuan tipuan cermin para pesulap, yang mampu memunculkan ilusi di mata penonton.

Di area cahaya sangat gelap. Saya tidak bisa terlalu lama berada di sana, karena saya hanya berdua dengan adik saya, dan adik saya ketakutan dan merengek untuk segera meninggalkan ruang cahaya.

Di lantai bawah, saya mencoba rumah gempa. Nampaknya salah satu alat baru di museum IPTEK. Saya masuk kedalam sebuah model rumah. Betul betul mirip dengan rumah sebenarnya. Begitu simulasi dimulai, efek suara suara teriakan mucul. Gempa awalnya hanya berupa guncangan lemah, namun makin lama semakin keras.

Saat guncangan saat keras, alat alat / perabot rumah tangga yang menjadi bagian dari dekor disana buerdentuman, bergoncang, dan menimbulkan suara gaduh. Saya mencoba berdiri, namun cukup sulit berdiri dengan guncangan sebesar itu. Saya rasa lebih baik duduk selama simulasi, daripada menyebabkan hal hal yang tidak diinginkan.

Simulasi berlangsung singkat, tapi saya benar benar merasakan sensasi gempa bumi.

Di dekat ruang simulasi gempa, saya menemukan banyak peralatan elektronik. Di ruang listrik, banyak koleksi menarik. Diantaranya baterai tangan. Saya menggunakan baterai tangan untuk karya tulis saya saat SMP.


Alat ini termasuk kuno. Prinsipnya hanya menempelkan tangan pada dua  logam berbeda, yaitu zinc dan cuprum. Atau biasa kita kenal seng dan tembaga. Dasarnya adalah dari seorang ilmuan atau ahli fisika dari Negara Itali, yaitu Alessadro Volta. Teori ini dikemukakan pada tahun 1800. Yaitu perpindahan ion antara 2 logam yang berbeda jenis adalah prinsipdasar dari baterai. Disini tangan atau tubuh manusia menjadi perantara perpindahan .

Pada alat ini, karena arus yang mengalir sangat lemah, yang digunakan untuk mengukur arus adalah galvanometer. Galvanometer adalah alat yang ditemukan oleh Leupold Nobili. Ia hidup pada masa tahun 1784-1835. Galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakn untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung . Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt). Galvanometer itu sendiri adalah alat pengukur listrik yang sensitive / peka.
Di dekat perangkat baterai tangan, ada sebuah pembangkit listrik dengan tenaga manusia. Jadi kita mengayuh sesuatu yang menyerupai kayuh sepeda untuk menghasilkan listrik. Namun sayangnya ada kerusakan pada alat sehingga tidak dapat digunakan.
Di bagian area suara, saya menemukan sesuatu yang baru. Setidaknya, beberapa tahun lalu saat saya brkunjung, alat ini belum ada. Alat tersebut adalah seperangkat angklung lengkap.   Yang menjadikannya unik adalah, angklung ini dapat bergerak sendiri sesuai program, dan memainkan sebuah lagu.
Juga ada pipa pipa yang merambatkan suara. Jika kita berbicara kea rah salah satu pipa, di sisi lainnya akan terdengar rambatan suara kita, meskipun jaraknya cukup jauh. Sebenarnya ini juga telah lama dikenal orang. Rambatan suara pada medium padat telah lama digunakan oleh orang Indian kuno, dalam system navigasi darat mereka. Mereka bias mendengar suara derap langkah sepasukan orang berkuda yang jaraknya masih jauh, hanya dengan mendengarkan rambatannya di tanah.


Perjalanan saya ke museum IPTEK TMII menyadarkan saya, bahwa dibalik segala ilmu pengetahuan, pasti ada sejarah bagaimana pengetahuan itu ditemukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar