Minggu, 29 Mei 2011

Aku dan Museum Gajah

Pada hari Sabtu pada tanggal 28 Mei 2011, saya dan kedua teman saya, Gitasha dan Wimala memutuskan untuk berkunjung ke Museum Nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah karena pada halaman depan museum tersebut terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang berkunjung ke museum nasional pada tahun 1871. Museum Nasional atau Museum Gajah terletak di Jalan Medan Merdeka Barat 12 Jakarta Pusat , dekat dengan Monumen Nasional atau Monas yang juga terletak di Jalan Medan Merdeka. Sebelum berangkat, kami bertiga janjian untuk bertemu di Pondok Indah Mall 2 untuk selanjutnya bersama-sama meanjutkan perjalanan ke Museum Gajah. Pada Pukul 10.00 kami bertiga berangkat dari PIM 2 menuju ke Museum Nasional atau Museum Gajah.


Museum Nasional atau Museum Gajah adalah suatu lembaga sebagai pusat studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif. Museum Gajah mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan an melestarikan benda warisan budaya Bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang dikelola tidak kurang dari 142.000 benda, terdiri dari 7 Jenis koleksi, yaitu koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik, dan heraldik, relik sejarah, etnografi dan geografi. Berdirinya Gedung Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang didirikan oleh pemerintah belanda pada tanggal 24 April 1778 dimana pada masa itu di Eropa Tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen merupakan lembaga independen yang didirikan dengan tujuan untuk memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian. Museum Nasional dibangun pada tahun 1862. Bangunan yang sekarang merupakan pengembangan gedung sejak tahun 1996.
Setibanya kami di Museum Nasional atau Museum Gajah, kami bertiga langsung mambeli tiket untuk tiga orang dengan harga pertiket Rp. 5000. setelah membayar, kami bertiga pun langsung masuk ke dalam Gedung Selatan atau Gedung Gajah Museum Nasional. Di dalam Museum, saya melihat banyak sekali patung dan prasasti yang pernah diajarkan disekolah seperti arca dewa siwa, brahma, wisnu, arca Adityawarman sebagai Bhairawa setinggi 4 meter, arca Ganesha dan banyak prasasti. Di Gedung Selatan juga terdapat banyak sekali ruangan koleksi. Namun yang sangat menarik perhatian saya adalah ruangan disebelah kiri pintu masuk gedung yang memiliki pintu dengan ukiran kayu tertutup sehingga jarang orang yang masuk keruangan tersebut. Pada awalnya kami sempat ragu untuk memasuki ruangan tersebut karena pintunya tertutup dan tidak seorang pun masuk ke dalam ruangan itu. Namun, pada akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan tersebut berbeda dari ruangan-ruangan koleksi lainnya karena ketika kami masuk, ruangan tersebut sangat dingin, sepi oleh pengunjung karena hanya kami bertiga yang ada di ruangan tersebut dan berisi sangat banyak benda peninggalan dari masa pendudukan bangsa eropa di Indonesia seperti perabot, Meriam yang terbuat dari perunggu yang merupakan peninggalan zaman Portugis, patung kepala Raffles yang juga terbuat dari perunggu, dan satu yang sangat menarik perhatian saya adalah sebuah batu seperti prasasti berbentuk tugu batu. Namun, yang membuat saya tertarik di bagian atasnya terdapat gambar bola dunia. Setelah membaca penjelasan yang tergantung di dinding ruangan baru saya mengetahui bahwa batu tersebut bernama Padrao atau Batu Perjanjian.


Padrao adalah batu yang terbuat dari batu Andesit yang ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di Jalan Cengkeh(dahulu Prinsen Straat), Jakarta Barat pada tahun 1918. Padrao ini merupakan batu peringatan atau tanda perjajjian antara Portugis dengan Kerajaan Sunda. Pada tahun 1522, Gubernur Portugis di Malaka Jorge d’Albuquerque mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan dagang dengan raja sunda yang bergelar ‘Samiam’(maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa  pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda. Perjanjian antara Portugis dengan Kerajaan Sunda dibuat pada 21 Agustus 1522. Isi perjanjian tersebut antara lain adalah orang-orang Portugis diijinkan mendirikan kantor dagang di Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis harus menjaga keamanan daerah Sunda Kelapa dari serangan Kerajaan-kerajaan Islam. Padrao didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis.  Pada batu Padrao, terdapat tulisan dan simbol bola dunia Raja Manuel dari Portugis yang berarti Portugal adalah tuan dari segala dunia. Tulisannya menggunkan aksara gotik dan berbahasa Portugis. Pada dokumen perjanjian, saksi dari Kerajaan Sunda adalah Yang Dipertuan Temanggung, Sang Adipati, Bendahara dan Syahbandar Sunda Kelapa. Saksi dari pihak portugis bernama Joao de Barros, ada delapan orang. Saksi dari Kerajaan Sunda Kelapa tidak menandatangani dokumen, mereka melegalisasinya dengan adat istiadat melalui “selamatan’. Kerajaan Sunda bersedia membuat perjanjian tersebut, selain karena hubungan perdagangan juga untuk mendapaat bantuan Portugis dalam menghadapi Kerajaan Islam Demak. Perjanjian tersebut tidak terlaksana karena Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa pada tahun 1527. Padrao ini terbuat dari batu setinggi 165 cm. Di bagian atas prasasti ini terdapat gambar bola dunia (armillarium) dengan garis khatulistiwa dan lima garis lintang sejajar. Lambang ini sering digunakan pada masa pemerintahan Raja Manuel I danJoao III dari Portugal. Di atas lambang tersebut terdapat gambar trefoil kecil, yaitu tumbuhan dengan tiga daun. Pada baris pertama tulisan prasasti tersebut terdapat lambang salib, dan di bawahnya terdapat tulisan DSPOR yang merupakan singkatan dari Do Senhario de Portugal (penguasa Portugal). Pada kedua baris berikutnya terdapat tulisan ESFERЯa/Mo yang merupakan singkatan dari Esfera do Mundo (bola dunia) atau Espera do Mundo (harapan dunia).
Setelah berfoto-foto di ruangan tersebut, kamipun keluar untuk melanjutkan perjalanan kami untuk menjelajahi Museum Nasional. Ditengah-tengah Gedung Gajah terdapat halaman yang sangat luas pada bagian tengahnya terdapat patung sapi yang merupakan kendaraan dewa Siwa. Setelah dari Gedung Gajah atau Gedung Selatan, kami memutuskan untuk pergi melihat-lihat ke Gedung Arca atau Gedung Utara Museum Nasional. Gedung Arca terlihat lebih baru dan lebih bagus dibandungkan dengan gedung Gajah. Gedung Arca terdiri dari 5 lantai. Di gedung ini, terdapat banyak prasasti seperti prasasti Mulawarman, Talang Tuo, Tugu, dan sebagainya yang terletak di lantai 2. Namun, saya sangat tertarik untuk mengambil foto pada prasasti Mulawarman karena prasasti ini sangat sering disebut dalam pelajaran sejarah dari SD hingga SMA. Prasasti Mulawarman merupakan sebuah prasasti yang terdapat di Kerajaan Kutai. Dalam prasasti yang beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta disebutkan silsilah dari raja Mulawarman yang merupakan Raja yang terkenal sangat bijaksana. Hal ini terlihat dari kebaikannya dalam memberikan sumbangan sedekah kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Raja ini juga selalu mengadakan upacara penyembahan kepada para dewa. Mulawarman merupakan cucu Kudungga dan anak dari Asmawarman, seperti yang dikatakan oleh para ahli bahwa sebenarnya Kudunggalah yang pertama mendirikan Kerajaan Kutai itu. Ada juga pendapat akan aspek politik Kerajaan Kutai yang mengatakan bahwa Kutai asal mulanya mempunyai sistem pemerintahan berupa suku/kelompok namun setelah budaya Hindu Budha datang ke Indonesia, Kutai mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem kerajaan. Seperti yang kita ketahui bersama,sekarang Kutai berubah nama menjadi Kerajaan Kutai. 


Selain Prasasti ini, saya juga mengambil gambar dan informasi dari prasasti Talang Tuo yang terletak tidak jauh dari prasasti Mulawarman. Prasasti Talang Tuo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, Sumatera Selatan dan dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berisi tentang pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Punta Hyang Sri Jayanasa untuk kemakmuran semua makhluk. Ada juga doa dan harapan yang menunjukan sifat agama Buddha. Ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuna.
Setelah berkeliling-keliling di Gedung Arca, kami memutuskan untuk berfoto-foto dan kembali ke Gedung Gajah untuk mengambil foto yang dianggap kurang. Di gedung Gajah, saya sempat melihat arca Buddha setengah badan yang berada di dalam kaca. Saya pun meminta teman saya untuk mengambil foto saya dengan arca itu. Dibawah arca tersebut, terdapat penjelasan tentang Arca Buddha tersebut. Arca tersebut ditemukan pada tahun 1921 di Sikendeng, Sempega, Sulawesi Selatan. Berdasarkan ciri Ikonografinya dapat menunjukkan arca ini memiliki gaya seni Amarawati tua dari India Selatan antara abad 1-5M. Arca dari Sempaga tersebut diduga berasal dari abad 2 M. Arca ini membuktikan bahwa buddha terlebih dahulu masuk ke Indonesia dibandingkan dengan Hindu.


Setelah berkeliling dan berfoto-foto di Museum Gajah, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 sehingga kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing masing karena Museum juga semakin sepi. Hari itu merupakan hari yang sangat menyenangkan bagi saya karena saya bisa melihat langsung barang barang peninggalan dari masa lampau yang selama ini hanya saya ketahui dengan membaca buku dan melihat foto-fotonya saja. Apalagi dengan ditemani kedua orang teman saya yang tambah membuat suasana menjadi seru.


2 komentar:

  1. good ! anak muda harus tahu dan senang akan berita-berita lalu (sejarah) .... membanggakan !

    BalasHapus
  2. http://dahridahlan.blogspot.com/2014/05/berkenalan-dengan-kalumpang.html

    BalasHapus