Tampilkan postingan dengan label Ferdie Reinaldo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ferdie Reinaldo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Tugas-4: Saya dan Somalia

Oleh: Ferdie Reinaldo 
Kelas: XI IPA 3

SOMALIA


Tanah Somalia terkenal sebagai “Tanah Aromatik” pada zaman Mesir kuno. Namun bangsa Somalia meyakini bahwa nenek moyang mereka sekarang adalah orang-orang Arab yang bermigrasi ke wilayah Somalia pada abad ke-7 pada masa penyebaran agama Islam sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh orang-orang Arab muslim. Sebagian besar dari mereka menetap dan berasimilasi dengan penduduk nomadik setempat yang akhirnya melahirkan bangsa Somalia kini. Sejarah modern Somalia dapat ditarik dari masa kolonialisasi Inggris dan Italia pada pertengahan tahun 1880-an. Daerah Zeila, Berbera diperintah oleh Inggris sebagai Somaliland Inggris dari tahun 1880-an sampai tahun 1960, sedangkan di wilayah selatan terdapat Somaliland Italia, setelah Perang Dunia II, Somalia menjadi wilayah perwalian PBB dan akhirnya mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1960 dengan nama Republik Somalia. Republic Somalia merupakan sebuah negara demokrasi parlementer sampai tahun 1969 sebelum akhirnya angkatan bersenjata mengambil tampuk kepemimpinan dan menjadikan Somalia sebagai negara sosialis dengan nama Republik Demokratik Somalia. Undang-undang dasarnya baru disahkan pada 1979 dan pemilihan umum telah dilakukan untuk memilih Majelis Rakyat. Selain itu, Somalia juga memiliki majelis hukum yang biasa dan yang berdasarkan syariah Islam. Somalia memiliki enam wilayah administratif yang meliputi Mijirtein, Mudugh, Benadir, Hiran, Juba Atas dan Juba Bawah. Somalia sekarang dipimpin oleh presiden dan perdana menteri, yakni presiden Sharif Ahmed dan perdana menteri Omar Ali.
Pada tahun 1977 Somalia sempat terlibat konflik dengan Ethiopia karena Somalia menginginkan wilayah Ogaden yang secara tradisional merupakan wilayah Somalia karena banyak sekali suku-suku Somalia yang menetap disana. Dengan bantuan Uni Soviet, Ethiopia berhasil mempertahankan wilayah itu dan menyebabkan lebih dari 1.000.000 keluarga mengungsi ke Somalia. Hal ini menimbulkan masalah pengungsi yang sangat besar di Somalia. Somalia sendiri memiliki jumlah tentara yang sangat kecil, karena negeri ini selalu dilanda konflik dan perang saudara yang berkepanjangan dan juga masalah perompakan yang belakangan menjadi sangat marak di wilayah laut Somalia.
Antara Arab dan Etiopia 

Tanah rakyat Somalia, banyak yang gersang dan tidak ramah, telah selama ribuan tahun telah dekat dengan peradaban dan perdagangan internasional. Di sebelah utara, tepat di seberang Teluk Aden, adalah Saba , tanah Ratu legendaris Sheba dan bagian awal dari Saudi untuk makmur. Untuk sebelah barat adalah Ethiopia, di mana kerajaan Aksum dibentuk oleh SM 5 abad. Terletak di Tanduk apa yang disebut Afrika, menonjol keluar ke Samudera India, pelabuhan Somalia adalah pelabuhan alami dari panggilan untuk pedagang berlayar ke dan dari India. Jadi garis pantai wilayah ini banyak dikunjungi oleh orang asing, khususnya di Arab dan Persia. Tapi di pedalaman yang Somalia dibiarkan ke perangkat mereka sendiri.  

Kolonial pesaing: 1839-1897 M 

Bunga Eropa di Somalia berkembang setelah 1839, ketika Inggris mulai menggunakan Aden, di pantai selatan Arabia, sebagai stasiun pemuatan batu bara untuk kapal pada rute ke India. Pasukan Inggris membutuhkan daging. Sumber lokal termudah adalah pantai Somalia. Prancis dan Italia, yang membutuhkan fasilitas pemuatan batu bara yang sama untuk kapal mereka sendiri, mendirikan stasiun di daerah Somalia bagian utara. Orang-orang Italia yang sedikit lebih jauh pantai di Aseb, di Eritrea. Ketika Eropa berebut untuk Afrika dimulai, di tahun 1880-an, ini adalah tiga kekuatan yang bersaing untuk wilayah Somalia. Segera mereka bergabung dengan saingan keempat, Ethiopia, dimana Menelik II menjadi kaisar pada tahun 1889.
Perancis dan Inggris, setelah risiko singkat konfrontasi bersenjata, setuju pada tahun 1888 pada garis demarkasi antara saham mereka relatif kecil dari pantai. Wilayah Perancis sekitar Djibouti menjadi secara resmi dikenal sebagai Françcaise Côte des Somalia (Prancis Coast dari Somalia, yang umum dikenal dalam bahasa Inggris sebagai bahasa Perancis Somaliland). Ini tetap merupakan koloni Perancis hingga menjadi independen sebagai republik Djibouti pada tahun 1977. Pengaruh Inggris di daerah pesisir sekitar Zeila dan Berbera adalah diformalkan selama tahun 1880 dalam serangkaian perjanjian yang menjanjikan perlindungan terhadap berbagai pemimpin klan Somalia lokal. Wilayah ini menjadi protektorat dengan judul British Somaliland. Meskipun Perancis dan Inggris telah demikian diperoleh kontrol atas dua membentang berharga dari garis pantai (kepentingan komersial meningkat sekarang bahwa Terusan Suez telah membuka), sejauh ini bagian terbesar dari Somalia adalah sengketa antara Italia dan Ethiopia. Italia menetapkan protektorat di sepanjang pantai ke arah timur di luar Inggris Somaliland, dan perusahaan Italia memperoleh sewa pada bagian Somalia menghadap pantai-timur (di mana pemilik adalah sultan Zanzibar ). Italia setuju lingkungan yang berpengaruh secara damai dengan Inggris pada tahun 1884, menempatkan perbatasan antara Inggris dan Italia Somalia Somaliland sebelah barat Bender Cassim. Pada Italia pertama juga pada istilah menyenangkan dengan Ethiopia - terutama di 1889 perjanjian dari Uccialli tentang Eritrea. Tapi ketidaksepakatan mengenai arti sebenarnya dari perjanjian Eritrea cepat sours hubungan antara Italia dan Ethiopia. Dengan hasil ini 1896 dalam perang secara langsung dan dalam kekalahan dari Italia di Aduwa . Meskipun keprihatinan peristiwa hanya Eritrea, posisi Italia melemah memiliki dampak langsung di Somalia. Ada sebuah wilayah Somalia besar, Ogaden, yang terletak di antara Ethiopia dan bagian pantai Somalia di mana Italia aktif. Sampai sekarang tidak kekuasaan kekaisaran kontrol daerah ini, tetapi setelah Aduwa orang Italia yang tidak dalam posisi untuk menolak klaim Ethiopia untuk itu. Hasilnya adalah sebuah pemukiman baru yang telah disetujui antara kekuasaan di 1896-7. Ethiopia diberikan Ogaden dan menyerahkan strip selatan Inggris Somaliland, sebuah daerah yang dikenal sebagai Haud. Pengaturan ini (yang membawa banyak warga Somalia permanen di Ethiopia) memiliki baik sebagai kompromi kolonial sampai tahun 1920-an, ketika kecewa dengan energi agresif Italia fasis. Dalam tahun-tahun yang paling dramatis pergolakan terjadi di British Somaliland, dimana pemberontakan yang dipimpin oleh Abdullah bin Mohammed Hassan (dikenal ke Inggris pada waktu sebagai Mullah Mad) membutuhkan dua dekade untuk menekan.

Fasisme, Perang Dunia II dan kemerdekaan: 1923-1967 M 

Sebuah era baru dimulai konflik di Somalia pada tahun 1923 dengan kedatangan di koloni Italia gubernur pertama yang ditunjuk oleh Mussolini, yang baru berkuasa sebagai diktator fasis Italia. Kebijakan kuat diadopsi untuk mengembangkan dan memperluas kepentingan kekaisaran Italia, yang berpuncak pada kekalahan dan aneksasi Ethiopia pada tahun 1936. Situasi lokal karena itu tegang ketika Perang Dunia II dimulai, meskipun ada sedikit kesempatan langsung untuk dua koloni yang relatif kecil dari sekutu. Perancis dan Inggris Somaliland seluruhnya dikelilingi oleh Italia Eritrea, Somalia dan Ethiopia - sekarang bersama-sama dikenal sebagai Afrika Timur Italia . Dengan tahun 1940 Inggris telah ditarik dari koloni mereka, sedangkan Somaliland Perancis mengklaim netralitas sesuai dengan kebijakan pemerintah Vichy. Namun pada tahun 1941 pasukan Inggris memulihkan seluruh daerah (kecuali Perancis Somaliland) dari Italia, sehingga menyatukan hampir seluruh wilayah rakyat Somalia di bawah kekuasaan Inggris. Sementara Perancis Somaliland sedang diblokade oleh sekutu. Pada tahun 1942 pemerintah kesetiaan perubahan lokal dan melemparkan banyak dengan Perancis Bebas.
Antara 1948 dan 1950 situasi kembali ke batas kolonial yang disepakati pada tahun 1897 . Ethiopia tetap memiliki Ogaden dan Haud. Prancis dan Inggris Somaliland terus seperti sebelumnya. Dan pada tahun 1950 Italia kembali ke Somalia di bawah perwalian PBB, dengan komitmen untuk membawa koloni untuk kemerdekaan dalam waktu sepuluh tahun. Dalam hal tahun 1960 membawa kemerdekaan untuk kedua koloni Inggris dan Italia, pada bulan Juni dan Juli masing-masing. Mereka memutuskan untuk menggabungkan sebagai Republik Somalia, biasanya lebih dikenal sebagai Somalia. Koloni Perancis harus menunggu hingga 1977 sebelum menjadi independen sebagai Djibouti .


Konflik Somalia: 1960-1999 M 

Awal tema politik utama di Somalia independen adalah kebutuhan untuk menyatukan kembali dengan tiga kelompok besar Somalia terjebak di negara-negara lain - dalam bahasa Prancis Somaliland, di Ethiopia (yang Ogaden menganeksasi dan wilayah Haud) dan di Kenya utara. Kegagalan untuk membuat kemajuan dalam masalah ini terutama disebabkan oleh dukungan Barat untuk Ethiopia dan Kenya, yang menyebabkan Somalia untuk melihat ke Uni Soviet untuk bantuan militer. Namun demikian pemerintah Somalia berhasil mempertahankan sikap yang cukup netral dalam urusan internasional selama tahun 1960-an - posisi yang berubah drastis setelah 1969. Partai yang menang dalam pemilu pertama republik baru adalah Syl atau Liga Pemuda Somalia, yang dibentuk awalnya untuk kampanye kemerdekaan dalam British Somaliland. Pemilu pada Maret 1969 membawa partai mayoritas yang lebih besar. Hal ini menjadi semakin otoriter dalam aturan sampai - pada Oktober tahun ini yang sama - seorang polisi assassinates presiden, Muhammad Egal. Beberapa hari kemudian, dalam krisis politik mounting, komandan tentara, Mohamed Siad Barre, merebut kekuasaan. Presiden Siad tidak diragukan lagi di sisi mana Perang Dingin ia berniat untuk menyelaraskan dirinya sendiri. Kamerad Marx, Kamerad Lenin dan Kawan Siad akan segera muncul bersama-sama pada spanduk dan poster pada unjuk rasa pemerintah. Siad memperkenalkan kediktatoran Marxis brutal, menekankan pada supremasi partai dan bangsa yang bertentangan dengan kesetiaan klan lokal yang merupakan fitur yang kuat budaya Somalia. Tapi itu adalah marga-marga Somalia yang akhirnya menghancurkan negara totaliter-nya. Keruntuhan Hasil dari Somalia menjalankan sakit, pertanyaan tentang Ogaden. tahun 1977, dengan Ethiopia dalam kekacauan setelah jatuhnya Haile Selassie , Somalia serangan garnisun Ethiopia di Ogaden. Namun Presiden Siad adalah dikhianati oleh negara adidaya itu dipilih. Uni Soviet melihat adanya potensi klien yang lebih penting di Ethiopia baru. Awal tahun 1978 tentara Ethiopia, dengan menggunakan peralatan Soviet dan diperkuat oleh pasukan dari Kuba, recaptures yang Ogaden. Hasilnya adalah eksodus massa ratusan ribu pengungsi Somalia atas perbatasan ke Somalia. Setelah terjadinya bencana ini gerilya kelompok, klan berbasis dan regional, terbentuk di dalam dan sekitar Somalia dengan tujuan untuk menjatuhkan's represif Siad dan memusatkan rezim. Tahun 1988 hasilnya adalah perang saudara skala-penuh, mengakibatkan penggulingan Siad pada tahun 1991. Dia menarik diri dengan keselamatan marga sendiri, menjadi salah satu panglima perang di antara sekian banyak bangsa ini semakin kacau. Pada tahun 1991 faksi mengendalikan mantan Somaliland Inggris hal-hal yang membingungkan dengan menyatakan kemerdekaan sebagai Republik Somaliland.
Kelaparan, PBB dan kekacauan melanjutkan: 1992-1999 M 

Konflik Somalia menghancurkan panen selama tahun 1992 dan membawa kelaparan meluas. Makanan diterbangkan oleh badan-badan internasional dijarah oleh milisi berperang. Dengan Desember 1992 situasi sedemikian rupa sehingga PBB aktif melakukan intervensi, mengirimkan kekuatan 35.000 pasukan dalam Operasi Pemulihan Harapan. Sebentar PBB menenangkan situasi, membujuk kelompok lima belas berperang untuk mengadakan di Addis Ababa pada Januari 1993 untuk melakukan pembicaraan perdamaian dan perlucutan senjata. Tampaknya ini pada awalnya untuk membuat kemajuan, tetapi situasi di lapangan terus memburuk. Pada bulan Maret 1994 unit Amerika dan Eropa dalam pasukan PBB menarik, menemukan tingkat korban tidak dapat diterima. Pasukan dari negara-negara Afrika dan anak benua India tetap tinggal di situ. Selama sisa dekade situasi semakin memburuk daripada lebih baik. Dari akhir tahun 1994 ibukota, Mogadishu, dibagi antara kedua paling kuat dari faksi. Dalam setiap pemimpin menyatakan dirinya sebagai presiden bangsa dan menyelenggarakan pemerintahan seharusnya nasional. Pada bulan Maret 1995, sisa pasukan PBB dievakuasi dari pantai di bawah perlindungan sebuah armada internasional. Pada akhir dekade satunya wilayah jarak jauh yang stabil adalah republik yang memisahkan diri dari Somaliland, di barat laut.Tapi calon republik gagal, yang belum, untuk memenangkan setiap pengakuan internasional. 


Sumber: 1) http://id.wikipedia.org/wiki/Somalia 
              2) http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp%3Fhistoryid%3Dad20 
              3) http://blog.lib.umn.edu/marqu154/architecture/Somalia_19881.gif

Waktu itu lupa dikasih label pak -ferdie


Selasa, 24 Mei 2011

Saya dan Tokoh Sejarah

TUGAS 2
OLEH FERDIE REINALDO

Pertama-tama saya ingin memberitahukan mengenai tokoh sejarah atau bisa disebut
pelaku sejarah ini telah meninggal dunia dan saya hanya berkesempatan untuk mewawancarai anak dari almarhum jadi saya tidak akan mempunyai foto saya bersama beliau tetapi saya mempunyai foto beliau saat mengenakan seragamnya.

Pelaku sejarah yang saya kisahkan ini adalah seorang veteran perang seorang tentara dengan masa pelayanannya terhadap Indonesia yang begitu lama dan juga tentara yang ikut dalam perang geriliya sehingga beliau sering mendapatkan penghargaan-penghargaan dari banyak kalangan bahkan sampai ke presiden pun memberikan beliau penghargaan beliau adalah H. Muhammad Bakir. Saya tidak begitu enak atau sungkan saat akan menanyakan orang tua beliau atau saudara-saudara beliau kepada anaknya yang saya wawancarai yang merupakan anak ketiga beliau dari lima bersaudara yang bernama H. Triyanto Bhakti Santosa. Keluarga beliau itu terdiri dari seorang istri dan kelima anaknya, sang istri bernama Siti Murdhiyatun yang lahir pada tanggal 30 Desember 1932 di Yogyakarta. Anak pertama beliau adalah Bambang Sujoko Purnomohadi yang lahir pada tanggal 14 Agustus 1951 di Jakarta, anak kedua beliau bernama Siti Dwiyanti yang merupakan satu-satunya anak perempuan yang dimiliki beliau dia lahir pada tanggal 2 Oktober 1954 di Jakarta pula, anak ketiga dan keempatnya yang laki-laki bernama Triyanyo Bhakti Santosa orang yang saya wawancarai untuk mendapatkan informasi-informasi ini dan Arif Budi Sutomo yang merupakan adiknya. Anak bungsunya atau anak kelimanya adalah Khemara Adi Putranto yang lahir di Jakarta pada tanggal 27 November 1966. Beliau sendiri lahir di Jogjakarta tempat yang sama dengan tempat kelahiran istrinya, beliau lahir pada tanggal 27 November 1924 yang merupakan orang Jawa dan beragama Islam , tinggi badan beliau adalah 167 cm berbobot 62 kilogram dan bergolongan darah a. Beliau pada saat iut bekerja sebagai tentara dan sebagai seorang wartawan. Beliau menjadi tentara dan melayani Indonesia untuk waktu yang lama bahkan sampai sempat dipilih menjadi anggota komando operasi tertinggi yang diberikan langsung oleh presiden Soeharto yang menjabat saat itu. Beliau juga pernah mendapatkan penghargaan Satjalantjana Kesetiaan 24 tahun berkat dedikasi beliau terhadap negeri ini. Beliau wafat paada tanggal 17 Juli 1991. Beliau mempunyai pangkat purnawirawan Mayor pada saat itu dan dinas di pospen hankam.

Berikut adalah catatan riwayat hidup atau kerja singkat beliau, pada agustus 1945 beliau berkedudukan sebagai wakil komandan seksi “Mangsah Pati” barisan pemberontak rakyat Indonesia mataram (T.R.M) pada saat itu beliau belum mendapatkan pangkat. Namun pada saat 1 Februari 1946 hingga 1 Maret 1954 beliau mempunyai pangkat sebagai sersan. Pada kurun waktu itu pada tanggal 1 Februari 1946 beliau mempunyai kedudukan sebagai kepala bagian ekspedisi atau staf redaksi majalah “Kawan Tentara” atau staf Radio Militer balai penerangan markas tertinggi tentara kemudian pada tanggal 1 Desember 1947 menjabat sebagai kepala bagian ekspedisis atau staf redaksi “Suluh Tentara” kementrian pertahanan TNI bagian masyarakat urusan penerbitan lalu pada tanggal 1 Juli 1949 beliau menjabat sebagai kepala ekspedisi atau staf redaksi kementrian pertahanan staf angkatan perang bagian penerangan atau penerbitan. Pada tanggal 1 Januari 1950 menjabar sebagai kepala bagian ekspedisi atau staf redaksi kementrian pertahanan dan S.A.P. bagian penghubung masyarakat, tanggal 24 Maret 1951 menjabat sebagai staf penerangan atau penerbitan kementrian pertahanan biro pendidikan dan latihan, tanggal 1 September 1951 menjabat sebagai staf redaksi majalah atau penerangan biro perantara warta S.A.P. kementrian pertahanan kemudian pada tanggal 1 Oktober 1952 menjabat sebagai redaksi majalah “Yudhagana” secretariat gabungan kepala staf angkatan perang kementrian pertahanan lalu pada tanggal 1 Maret 1954 pun beliau menjabat sebagai staf bagian penerbitan atau perpustakaan departemen pertahanan bagian umum. Pada tanggal 1 Juli 1955 belaiu akhirnya diangkat menjadi Sersan Mayor bahkan belum sampai 4 tahun beliau sudah naik pangkat lagi menjadi Pelda atau pembantu letnan dua dan pada tanggal 29 Juli 1959 beliau menjabat sebagai wakil kepala penerbitan”yudhagana” dan siaran (penyusi) departemen pertanahan bagian umum. Pada tahun 1961 tepatnya tanggal 1 Juli beliau pun dinaikkan pangkatnya menjadi peltu atau pembantu letnan 1. Pada 1 Juni 1962 beliau menjabat sebagai pengurus kepala “penyusi” asisten umum staf keamanan nasional, pada tanggal yang sama tapi pada tahun 1963 beliau menjabat sebagai asisten satu biro pers atau juru bicara staf angkatan bersenjata. Pada 1 Juli 1965 dinaikkan pangkatnya lagi menjadi letda belum genap 4 tahun pada tanggal 1 Juli 19968 pun beliau dinaikkan pangkatnya menjadi letnan satu atau lettu sampai sekarang beliau menjabat sebagai ps.kasubro 1 ro.1 ass.2 DIRBINUMPEN-PUSPEN ABNI departemen pertahanan dan keamanan. Menurut catatan beliau tersebut memberitahukan tentang jabatan beliau adalah sebagai berikut, pertama sebagai anggota redaksi tekhnis majalah angkatan bersenjata lalu menjadi anggota dewan pengurus “ORSAB” (olah raga staf angkatan bersenjata)seksi pubklikasi atau penerangan, lalu sebagai pembantu umum kepala proyek percetakan HAN-KAM. Menjadi Pembina penerangan hubungan masyarakat Dit.Bin Han-Kam kemudian menjadi anggota PANORAB (panitia olah raga angkatan bersenjata) lalu menjadi anggota tim keamanan harian “Indonesia” dan menjadi pembantu harian angkatan bersenjata edisi pusat.

Seperti yang tadi saya sebutkan beliau telah mendapatkan berbagai surat penghargaan seperti dari ketua gabungan V koti sebagai Pa penerangan G.V.KOTI., dari wakil perdana menteri bidang social politik atau coordinator urusan Irian Barat no.17/AD pada tanggal 12 April 1966, dari perwira koordinator karya AD dalam M.P.P.R, dari Sekertaris Musyawarah pembantu pimpinan revolusi (MPPR) sebagai kepala sub biro public relation biro penerangan, dan dari secretariat coordinator umum Irian Barat sebagai asisten satu kepala proyek penerbitan.

Beliau juga telah menerima berbagai macam bintang dan penghargaan satyalencana seperti mendapatkan bintang gerilia dan bintang sewindu juga satyalencana kesetiaan, satyalencana perang kemerdekaan satu, satyalencana perang kemerdekaan dua, satyalencana wira dharma, dan satyalencana penegak serta satu satyalencana dalam pengusulan yaitu satyalencana dharma. Dalam riwayat hidupnya beliau juga tercatat pernah beberapa kali pergi ke luar negeri seperti ke Kamboja –RRT-Korea Utara sebagai Pa pers rombongan tim keolahragaan ABRI pada tanggal 25 Mei 1965, pada tanggal 20 November 1966 beliau kemabli pergi ke Kamboja sebagai Pa. Koordinator wartawan 2 Indonesia di gamefo asia satu, dan terakhir pergi ke Malaysia dan Singapura sebagai pimpinan rombongan bang dara Puspita. Pendidikan beliau yang tercatat dalam riwayat hidupnya yaitu pertama-tama beliau memiliki ijazah sekolah fotografi dinas penyempurnaan pengetahuan dan keahlian tentara dan terrotorius III tanggal 1 Juni 1952 termasuk latihan kemiliteran dan berijazah pendidikan hubungan masyarakat lembaga administrasi Negara No.047/H tanggal 26 April 1962.

Pada paragraf-paragraf sebelumnya saya telaha memeberitahukan riwayat hidup dan juga peran-peran beliau pada masa kemerdekaan, selain sebagai tentara beliau juga aktif dalam pekerjaan wartawan dan salah satu kejadian bersejarah yang pernah beliau alami itu bersangkutan dengan kejadian G30SPKI yang terjadi saat beliau menjadi wartawan. Certitanya adalah ketika Jendral A H Nasution berhasil melarikan diri dari pembunuhan-pembunuhan petinggi tentara lainnya ia bertemu dengan beliu saat Jendral A H Nasution sedang berusaha melarikan diri. Beliau pun membantu menyelamatkan Jendral A H Nasution lari dari Wima Angkasa yang saat itu merupakan kediaman Pak Naws menuju ke pusat diklat di Jalan Haji Nawi jadi beliau mempunyai jasa atas selamatnya satu Jendral pada kejadian G30SPKI tersebut. Selanjutnya beliau mengabadikan peristiwa pengangkutan jenazah dari sumur di lubang buaya sebagai wartawan dari pospen hankam.

Hal-hal tersebut bersumber dari anak beliau yang diceritakan oleh H. Triyanto.

Suka duka saat mencari anak beliau tidak sesulit yang saya kira hal ini sangat memudahka saya. Karena anak beliau itu masih merupakan sepupu atau saudara dari tante saya walaupun bias dibilang saudara jauh tetapi masih ada hubungan saudara jadi hal ini membuat tante saya adalah keponakan beliau dan beliau adalah om dari tante saya. Saya menemui anak beliau ini bapak H.Triyanto di kediamannnya. Saat saya menemui beliau bersama ayah dan tante saya, saya langsung menanyakan tentang beliau dan apa saja yang telah beliau lakukan saat beliau masih hidup, dengan baiknya bapak H.Triyanto ini menyerahkan berbagai fotocopy yang berhubungan dengan beliau seperti foto beliau saat mengenakan seragam, riwayat hidup beliau, sampai surat-surat penghargaan beserta surat perintah yang beliau terima. Setelah melaksanakan wawancara bersamanya saat itu saya tidak membawa tustel karena tidak terpikir untuk foto bersama H.Triyanto ini karena saya berpikir setidaknya ada foto beliau walaupun tidak sedang bersama saya tentunya karena waktu itu saya belum lahir. Jadi dalam mencari sumber informasi dari tugas ini saya tidak menemukan banyak duka karena saya dimudahkan karena tante saya yang mempunyai sepupu yang ayahnya merupakan veteran perang dan juga wartawan pada saat kemerdekaan yang telah melakukan banyak hal dan melaksanakan berbagai jabatan juga mendapatkan banyak penghargaan serta kenaikan pangkat.

Berikut adalah foto-foto beliau dan foto-foto berbagai surat penghargaan dan perintah juga rriwayat hidup beliau :

TUGAS-3: Saya dan Museum Gajah

Oleh: Ferdie Reinaldo XI IPA 3

Saya telah mengunjungi museum gajah bersama teman-teman saya, inilah informasi mengenai beberapa koleksi dari museum gajah tersebut saya akn memberikan informasi mengenai tiga macam koleksi dari museum gajah tersebut.

Koleksi pertama yang saya pilih adalah Nandi, Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa. Koleksi ini terletak di tengah-tengah lapangan rumput yang ada di museum gajah tersebut dan hal ini membuat saya tertarik untuk meliputnya tetapi ternyata informasi yang bisa didapat masih sangat minim.

Koleksi kedua yang saya pilih adalah Yupa, Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Yupa merupakan Prasasti Mulawarman, terdapat di Kerajaan Kutai. Mulawarman merupakan Raja yang terkenal sangat bijaksana. Hal ini terlihat dari kebaikannya dalam memberikan sumbangan sedekah kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Raja ini juga selalu mengadakan upacara penyembahan kepada para dewa. Mulawarman merupakan cucu Kudungga dan anak dari Asmawarman, seperti yang dikatakan oleh para ahli bahwa sebenarnya Kudunggalah yang pertama mendirikan Kerajaan Kutai itu. Ada juga pendapat akan aspek politik Kerajaan Kutai yang mengatakan bahwa Kutai asal mulanya mempunyai sistem pemerintahan berupa suku/kelompok namun setelah budaya Hindu Budha datang ke Indonesia, Kutai mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem kerajaan. Seperti yang kita ketahui bersama,sekarang Kutai berubah nama menjadi Kerajaan Kutai. Aspek Ekonomi, penduduk Kerajaan Kutai hidup dari penghasilan bertani dan beternak. Dalam Pertanian, hal ini diperkuat dengan pendapat yang mengatakan Kerajaan Kutai terletak di daerah aliran sungai Mahakam. sehingga mereka tidak kesusahan mencari air. Sedangkan dalam hal peternakan, dapat diperkuat dengan adnya upacara yang dilakukan oleh Raja Mulawarman menyangkut penumbalan hewan ternak.
Mulawarman sendiri adalah raja ketiga dari kerajaan kutai dan merupakan anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa sansekerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

Sedangkan untuk koleksi ketiga yang saya pilih adalah sesuatu yang merupakan senjata tradisional khas Indonesia, yaitu keris dan salah satu keris yang saya lihat di museum itu adalah keris jawa.
Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik.
Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.

Asal-usul dan fungsi

Asal-usul keris belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah "keris" telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

Awal mula: Pengaruh India-Tiongkok

Senjata tajam dengan bentuk yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian dari Kebudayaan Dongson dan Tiongkok selatan. Dugaan pengaruh kebudayaan Tiongkok Kuna dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal keris, dimungkinkan masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan "jembatan" masuknya pengaruh kebudayaan Tiongkok ke Nusantara. Sejumlah keris masa kini untuk keperluan sesajian memiliki gagang berbentuk manusia (tidak distilir seperti keris modern), sama dengan belati Dongson, dan menyatu dengan bilahnya.
Sikap menghormati berbagai benda-benda garapan logam dapat ditelusuri sebagai pengaruh India, khususnya Siwaisme. Prasasti Dakuwu (abad ke-6) menunjukkan ikonografi India yang menampilkan "wesi aji" seperti trisula, kudhi, arit, dan keris sombro. Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai "keris Buda", yang berbentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen. Keris sajen memiliki bagian pegangan dari logam yang menyatu dengan bilah keris.

Prototipe keris dari masa pra-Majapahit

Karya-karya ukir dari milenium pertama penanggalan Masehi kebanyakan menampilkan bentuk-bentuk senjata tikam dan "wesi aji" lainnya dari India. Meskipun demikian diketahui terdapat satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris.
Dari abad yang sama, prasasti Karangtengah berangka tahun 824 Masehi menyebut istilah "keris" dalam suatu daftar peralatan. Prasasti Poh (904 M) menyebut "keris" sebagai bagian dari sesaji yang perlu dipersembahkan. Walaupun demikian, tidak diketahui apakah "keris" itu mengacu pada benda seperti yang dikenal sekarang.
Dalam pengetahuan perkerisan Jawa (padhuwungan), keris dari masa pra-Kadiri-Singasari dikenal sebagai "keris Buda" atau "keris sombro". Keris-keris ini tidak berpamor dan sederhana. Keris Buda dianggap sebagai bentuk pengawal keris modern. Contoh bentuk keris Buda yang kerap dikutip adalah milik keluarga Knaud dari Batavia yang didapat Charles Knaud, seorang Belanda peminat mistisisme Jawa, dari Sri Paku Alam V. Keris ini memiliki relief tokoh epik Ramayana pada permukaan bilahnya dan mencantumkan angka tahun Saka 1264 (1342 Masehi), sezaman dengan Candi Penataran, meskipun ada yang meragukan penanggalannya.
Keris Buda memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati yang terlihat pada candi-candi di Jawa sebelum abad ke-11. Belati pada candi-candi ini masih memperlihatkan ciri-ciri senjata India, belum mengalami "pemribumian" (indigenisasi). Adanya berbagai penggambaran berbagai "wesi aji" sebagai komponen ikon-ikon dewa Hindu telah membawa sikap penghargaan terhadap berbagai senjata, termasuk keris kelak. Meskipun demikian, tidak ada bukti autentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris buda ini.
Kajian ikonografi bangunan dan gaya ukiran di masa Kadiri-Singasari (abad ke-13 sampai ke-14) menunjukkan kecenderungan pemribumian dari murni India menuju gaya Jawa, tidak terkecuali dengan bentuk keris. Salah satu patung Siwa dari periode Singasari (abad ke-14 awal) memegang "wesi aji" yang mirip keris, berbeda dari penggambaran masa sebelumnya. Salah satu relief rendah (bas-relief) di dinding Candi Penataran juga menunjukkan penggunaan senjata tikam serupa keris. Candi Penataran (abad ke-11 sampai ke-13 M) dari masa akhir Kerajaan Kadiri di Blitar, Jawa Timur.

 

 

Keris modern

Keris modern yang dikenal saat ini diyakini para sejarawan memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kesultanan Mataram baru (abad ke-17-18), meskipun relief di Candi Bahal peninggalan Kerajaan Panai/Pane (abad ke-11 M), sebagai bagian dari kerajaan Sriwijaya, di Portibi Sumatera Utara, menunjukan indikasi bahwa pada abad 10-11 keris sebagaimana yang dikenal sekarang sudah menemukan bentuknya. Dari abad ke-15, salah satu relief di Candi Sukuh, yang merupakan tempat pemujaan dari masa akhir Majapahit, dengan gamblang menunjukkan seorang empu tengah membuat keris. Relief ini pada sebelah kiri menggambarkan Bhima sebagai personifikasi empu tengah menempa besi, Ganesha di tengah, dan Arjuna tengah memompa tabung peniup udara untuk tungku pembakaran. Dinding di belakang empu menampilkan berbagai benda logam hasil tempaan, termasuk keris. Hal ini menjadi alasan para ahli untuk menyatakan bahwa bentuk keris yang dikenal sekarang telah mencapai perkembangan modernnya pada masa Majapahit.
... . Orang-orang ini (Majapahit) selalu mengenakan pu-la-t'ou yang diselipkan pada ikat pinggang, yang terbuat dari baja, dengan pola yang rumit dan bergaris-garis halus pada daunnya; hulunya terbuat dari emas, cula, atau gading yang diukir berbentuk manusia atau wajah raksasa dengan garapan yang sangat halus dan rajin.
— Ma Huan, "Ying-yai Sheng-lan Fai"
Catatan Ma Huan dari tahun 1416, anggota ekspedisi Cheng Ho, dalam "Ying-yai Sheng-lan" menyebutkan bahwa orang-orang Majapahit selalu mengenakan "belati" (pu-la-t'ou) yang diselipkan pada ikat pinggang. Terdapat deskripsi yang menunjukkan bahwa "belati" ini adalah keris dan teknik pembuatan pamor telah berkembang baik. Tome Pires, penjelajah Portugis dari abad ke-16, menyinggung tentang kebiasaan penggunaan keris oleh laki-laki Jawa. Deskripsinya tidak jauh berbeda dari yang disebutkan Ma Huan seabad sebelumnya.
Berita-berita Portugis dan Perancis dari abad ke-17 telah menunjukkan penggunaan meluas pamor dan pemakaian pegangan keris dari kayu, tanduk, atau gading di berbagai tempat di Nusantara.
... setiap laki-laki di Jawa, tidak peduli kaya atau miskin, harus memiliki sebilah keris di rumahnya ... dan tidak ada satu pun laki-laki berusia antara 12 dan 80 tahun bepergian tanpa sebilah keris di sabuknya. Keris diletakkan di punggung, seperti belati di Portugal...
— Tome Pires, "Suma Oriental"

 

 

 

Perkembangan fungsi keris

Pada masa kini, keris memiliki fungsi yang beragam dan hal ini ditunjukkan oleh beragamnya bentuk keris yang ada.
Keris sebagai elemen persembahan sebagaimana dinyatakan oleh prasasti-prasasti dari milenium pertama menunjukkan keris sebagai bagian dari persembahan. Pada masa kini, keris juga masih menjadi bagian dari sesajian. Lebih jauh, keris juga digunakan dalam ritual/upacara mistik atau paranormal. Keris untuk penggunaan semacam ini memiliki bentuk berbeda, dengan pesi menjadi hulu keris, sehingga hulu menyatu dengan bilah keris. Keris semacam ini dikenal sebagai keris sesajian atau "keris majapahit" (tidak sama dengan keris tangguh Majapahit)!.
Pemaparan-pemaparan asing menunjukkan fungsi keris sebagai senjata di kalangan awam Majapahit. Keris sebagai senjata memiliki bilah yang kokoh, keras, tetapi ringan. Berbagai legenda dari periode Demak–Mataram mengenal beberapa keris senjata yang terkenal, misalnya keris Nagasasra Sabukinten.
Laporan Perancis dari abad ke-16 telah menceritakan peran keris sebagai simbol kebesaran para pemimpin Sumatera (khususnya Kesultanan Aceh). Godinho de Heredia dari Portugal menuliskan dalam jurnalnya dari tahun 1613 bahwa orang-orang Melayu penghuni Semenanjung ("Hujung Tanah") telah memberikan racun pada bilah keris dan menghiasi sarung dan hulu keris dengan batu permata.
"Penghalusan" fungsi keris tampaknya semakin menguat sejak abad ke-19 dan seterusnya, sejalan dengan meredanya gejolak politik di Nusantara dan menguatnya penggunaan senjata api. Dalam perkembangan ini, peran keris sebagai senjata berangsur-angsur berkurang. Sebagai contoh, dalam idealisme Jawa mengenai seorang laki-laki "yang sempurna", sering dikemukakan bahwa keris atau curiga menjadi simbol pegangan ilmu/keterampilan sebagai bekal hidup. Berkembangnya tata krama penggunaan keris maupun variasi bentuk sarung keris (warangka) yang dikenal sekarang dapat dikatakan juga merupakan wujud penghalusan fungsi keris.
Pada masa kini, kalangan perkerisan Jawa selalu melihat keris sebagai tosan aji atau "benda keras (logam) yang luhur", bukan sebagai senjata. Keris adalah dhuwung, bersama-sama dengan tombak; keduanya dianggap sebagai benda "pegangan" (ageman) yang diambil daya keutamaannya dengan mengambil bentuk senjata tikam pada masa lalu. Di Malaysia, dalam kultur monarki yang kuat, keris menjadi identitas kemelayuan.
Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Penempatan keris di depan dapat diartikan sebagai kesediaan untuk bertarung. Selain itu, terkait dengan fungsi, sarung keris Jawa juga memiliki variasi utama: gayaman dan ladrang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan dalam upacara-upacara kebesaran.
Bahan, pembuatan, dan perawatan
Logam dasar yang digunakan dalam pembuatan keris adalah besi dan baja. Untuk membuatnya ringan para empu selalu mencampur bahan dasar ini dengan logam lain. Keris masa kini (nèm-nèman, dibuat sejak abad ke-20) biasanya memakai campuran nikel. Keris masa lalu (keris kuna) yang baik memiliki campuran batu meteorit yang diketahui memiliki kandungan titanium yang tinggi, di samping nikel, kobal, perak, timah putih, kromium, antimonium, dan tembaga. Batu meteorit yang terkenal adalah meteorit Prambanan, yang pernah jatuh pada abad ke-19 di kompleks percandian Prambanan.
Pembuatan keris bervariasi dari satu empu ke empu lainnya, tetapi terdapat prosedur yang biasanya bermiripan. Berikut adalah proses secara ringkas menurut salah satu pustaka. Bilah besi sebagai bahan dasar diwasuh atau dipanaskan hingga berpijar lalu ditempa berulang-ulang untuk membuang pengotor (misalnya karbon serta berbagai oksida). Setelah bersih, bilah dilipat seperti huruf U untuk disisipkan lempengan bahan pamor di dalamnya. Selanjutnya lipatan ini kembali dipanaskan dan ditempa. Setelah menempel dan memanjang, campuran ini dilipat dan ditempa kembali berulang-ulang. Cara, kekuatan, dan posisi menempa, serta banyaknya lipatan akan memengaruhi pamor yang muncul nantinya. Proses ini disebut saton. Bentuk akhirnya adalah lempengan memanjang. Lempengan ini lalu dipotong menjadi dua bagian, disebut kodhokan. Satu lempengan baja lalu ditempatkan di antara kedua kodhokan seperti roti sandwich, diikat lalu dipijarkan dan ditempa untuk menyatukan. Ujung kodhokan lalu dibuat agak memanjang untuk dipotong dan dijadikan ganja. Tahap berikutnya adalah membentuk pesi, bengkek (calon gandhik), dan terakhir membentuk bilah apakah berluk atau lurus. Pembuatan luk dilakukan dengan pemanasan.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan ornamen-ornamen (ricikan) dengan menggarap bagian-bagian tertentu menggunakan kikir, gerinda, serta bor, sesuai dengan dhapur keris yang akan dibuat. Silak waja dilakukan dengan mengikir bilah untuk melihat pamor yang terbentuk. Ganja dibuat mengikuti bagian dasar bilah. Ukuran lubang disesuaikan dengan diameter pesi. Tahap terakhir, yaitu nyepuhi, dilakukan agar keris tampak tua. Pada keris Filipina tidak dilakukan proses ini. Nyepuhi ("menuakan") dilakukan dengan memasukkan bilah ke dalam campuran belerang, garam, dan perasan jeruk nipis (disebut kamalan). Nyepuhi juga dapat dilakukan dengan memijarkan keris lalu dicelupkan ke dalam cairan (air, air garam, atau minyak kelapa, tergantung empu yang membuat). TIndakan nyepuhi harus dilakukan dengan hati-hati karena bila salah dapat membuat keris retak.
Pemberian warangan dan minyak pewangi dilakukan sebagaimana perawatan keris pada umumnya. Perawatan keris dalam tradisi Jawa dilakukan setiap tahun, biasanya pada bulan Muharram/Sura, meskipun hal ini bukan keharusan. Istilah perawatan keris adalah "memandikan" keris, meskipun yang dilakukan sebenarnya adalah membuang minyak pewangi lama dan karat pada bilah keris, biasanya dengan cairan asam (secara tradisional menggunakan air buah kelapa, hancuran buah mengkudu, atau perasan jeruk nipis). Bilah yang telah dibersihkan kemudian diberi warangan bila perlu untuk mempertegas pamor, dibersihkan kembali, dan kemudian diberi minyak pewangi untuk melindungi bilah keris dari karat baru. Minyak pewangi ini secara tradisional menggunakan minyak melati atau minyak cendana yang diencerkan pada minyak kelapa.

Morfologi

Beberapa istilah di bagian ini diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia.
Keris atau dhuwung terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bilah (wilah atau daun keris), ganja ("penopang"), dan hulu keris (ukiran, pegangan keris). Bagian yang harus ada adalah bilah. Hulu keris dapat terpisah maupun menyatu dengan bilah. Ganja tidak selalu ada, tapi keris-keris yang baik selalu memilikinya. Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi oleh sarung keris atau warangka.
Bilah keris merupakan bagian utama yang menjadi identifikasi suatu keris. Pengetahuan mengenai bentuk (dhapur) atau morfologi keris menjadi hal yang penting untuk keperluan identifikasi. Bentuk keris memiliki banyak simbol spiritual selain nilai estetika. Hal-hal umum yang perlu diperhatikan dalam morfologi keris adalah kelokan (luk), ornamen (ricikan), warna atau pancaran bilah, serta pola pamor. Kombinasi berbagai komponen ini menghasilkan sejumlah bentuk standar (dhapur) keris yang banyak dipaparkan dalam pustaka-pustaka mengenai keris.
Pengaruh waktu memengaruhi gaya pembuatan. Gaya pembuatan keris tercermin dari konsep tangguh, yang biasanya dikaitkan dengan periodisasi sejarah maupun geografis, serta empu yang membuatnya.

Pegangan keris atau hulu keris
Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai dewa, pedande (pendeta), raksasa, penari, pertapa hutan dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia dan biasanya bertatahkan batu mirah delima.
Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

Warangka atau sarung keris
Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.
Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).


Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

Keris legendaris

  • Keris Mpu Gandring
  • Keris Pusaka Setan Kober
  • Keris Kyai Sengkelat
  • Keris Pusaka Nagasasra Sabuk Inten
  • Keris Kyai Carubuk
  • Keris Kyai Condong Campur
  • Keris Taming Sari
  • Keris Si Ginje 
Suka duka saat mengunjungi Museum Gajah, mungkin mengunjungi museum gajah ini dapat dibilang sesuatu yang spontan dan tiba-tiba karena pada suatu pagi saya diajak teman saya pergi ke museum bersama beberapa teman saya yang lain. Kemudian secara cepat kita telah janjian untuk berkumpul di stasiun busway dekat alpus untuk berangkat ke museum gajah tersebut dengan busway. Saya bersama satu orang teman saya yang kebetulan membawa motor memutuskan untuk berkumpul dulu di sekolah kemudian kita berencana untuk naik taksi menuju ke stasiun busway tempat kita akan berkumpul, karena pada hari itu siangnya saya juga akan melaksanakan latihan futsal bersama teman saya itu jadi kita berkumpul di sekolah setengah jam lebih cepat dari yang dijanjikan lalu kita menitip motor di sekolah. Kebetulan ada satu teman saya juga yang ingin ikut jadi kita bertiga segera bergegas menuju stasiun busway yang dimaksud menggunakan taksi. Argo taksinya tidak mencapai sepuluh ribu karena tempatnya tidak begitu jauh dari sekolah. Kemudian setelah sampai di stasiun tersebut kita membeli tiket busway dan menunggu teman-teman kita yang lain. Setelah semuanya datang kami menunggu buswat yang akan membawa kita ke museum gajah tersebut. Beruntung kami mendapatkan bus yang masih sepi penumpangnya jadi kita semua bisa mendapatkan tempat duduk. Perjalanannya tidak begitu lama mungkin kira-kira hanya 10-15 menit saja. Sesampainya di museum gajah atau museum nasional tersebut kami membayar tiket masuk seharga lima ribu rupiah. Setelah kami masuk ke dalam museum dan melihat-lihat isi museum kami kebingunan mencari informasi. Jadi kami memutuskan untuk membeli buku tentang museum dan koleksi museum tersebut, kita pun mengumpulkan uang untuk membeli buku tersebut yang harganya cukup mahal yaitu enam puluh ribu rupiah. Setelah membeli buku itu kami pun mencari koleksi barang kami masing-masing saya tertarik pada patung nandi, keris, dan yupa. Setelah berfoto dengan koleksi-koleksi museum itu saya mencari informasi sedikit dari buku yang telah kami beli. Lalu karena waktu sudah mepet mendekati waktu latihan futsal saya pun dan satu teman saya bergegas menuju halte busway tempat kita sampai tadi sedangkan teman-teman saya yang lainnya masih melihat-lihat museum itu. Saya dan teman saya pun akhirnya menaiki busway hingga sampai di sekolah.

                                          





Selasa, 12 April 2011

Biografi Ferdie Reinaldo

16 TAHUN HIDUP SAYA

Nama saya Ferdie Reinaldo saya lahir di Jakarta pada tanggal 28 September 1994. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuan saya bernama Alvina Larisa yang berumur 4 tahun lebih tua dari saya dia lahir pada tanggal 1 November 1990. Saya merupakan anak dari pasangan Johan Suhada dan Alm. Lidya Anggraini. Saya menjalani masa TK saya di sebuah sekolah swasta yang bernama Adik Irma, sekolah ini berlokasi di daerah Tebet dekat dengan Pancoran, saya menjalani masa TK saya dari playgroup. Sewaktu saya masih di taman kanak-kanak saya diberitahu olah  orang tua saya bahwa saya pernah diajak tur sampai ke Alaska. Saya bahkan hampir tidak bisa mengingat apapun bahwa saya pernah ke Alaska dan melaksanakan tur bersama keluarga besar saya. Memang dahulu sebelum krisis moneter saya sering diajak pergi ke luar negeri sayangnya saat itu saya masih sangat kecil dan tidak dapat mengingat momen-momen saat saya pergi berwisata. Setelah krisis moneter saya dan keluarga saya hampir tidak pernah lagi pergi keluar negeri karena biaya transport dan hal-hal lainnya sangat mahal.

Ketika saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak saya tinggal di daerah Cibubur satu komplek dengan oma saya dan salah satu om saya. Saat TK saya merupakan salah satu anak yang bisa dibilang hiperaktif saya sangat sering bermain ketika istirahat bahkan saat sedang belajar. Sewaktu TK saya juga ingat bahwa saya pernah memenangi lomba tari dan menggapai juara pertama di Ancol, saya mengingatnya karena itu merupakan salah satu piala pertama saya yang saya dapat dalam hidup saya dan saya sangat senang karena waktu itu setiap saya melihat meja belajar kakak saya, saya selalu melihat banyak sekali piala-piala milik kakak saya yang didapat karena prestasinya. Memang kakak saya bisa dibilang sebagai salah satu anak yang paling pintar di sekolah saya. Kakak saya juga menjalani pendidikannya sekolah dasarnya di Adik Irma. Ia dapat dibilang salah satu anak yang paling pintar karena dari kelas 1 SD hingga dia lulus dia selalu mendapatkan peringkat 1 dan nilai terbaik di kelasnya. Beruntung bagi saya bahwa orang tua saya bukan tipe orang tua yang suka membanding-bandingkan saya dengan kakak saya. Orang tua saya hanya menuntut saya untuk melakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan. Ketika saya TK, lingkungan sosial saya sangat mendukung saya untuk menjadi anak yang aktif dan dapat berkembang disebabkan karena ketika saya masih TK guru dan orang tua saya sangat mendukung perkembangan saya dan mensupport saya.

Selulusnya dari TK saya melanjutkan ke SD Adik Irma. Saya memilih untuk memasuki Adik Irma lagi untuk bisa satu SD dengan kakak saya padahal waktu itu almarhumah ibu saya mengajak saya untuk sekolah di Bakti Mulya di Pondok Indah namun saya menolak karena saya ingin bersama kakak saya. Sewaktu masuk SD saya masuk ke kelas AB atau anak berbakat di sekolah saya seperti kakak saya, di kelas itu hanya terdapat kurang dari 15 orang. Seiring berjalannya waktu, teman-teman saya di kelas AB tersebut keluar satu per satu, ada yang disebabkan karena tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah ini dengan baik, bahkan ada yang dipindahkan orang tuanya karena takut anaknya yang Kristen berpindah agama ke Islam karena dia satu-satunya pelajar yang beragama Kristen di kelas saya. Akhirnya pada kelas 3 SD hanya tinggal 4 siswa yang berada pada kelas AB tersebut, memang masih ada kelas A1 dan A2 yang berisi lebih dari 20 siswa, namun 4 orang itu sangat sedikit bagi satu kelas dan persaingan untuk mencapai rangking satu menjadi sangat ketat. Tidak seperti kakak saya, prestasi saya di SD naik turun. Pada kelas 1 dan 2 saya masih bisa mencapai rangking satu atau rangking dua namun saat beranjak ke kelas 3 dan seterusnya saya merasa keteteran dengan teman-teman saya yang semakin rajin saja belajarnya, namun saya malah lebih sering bermain dengan konsol PS milik kakak saya. Sewaktu di SD saya hampir tidak pernah mencicil pelajaran saya hanya belajar satu hari sebelumnya tetapi saya bisa mengikuti pelajaran di sekolah saya. Pada saat saya masih di SD mendapatkan nilai 7 sudah merupakan hal yang buruk bahkan saya tidak pernah mendapatkan nila di bawah 7 bahkan remed. Karena hal ini saya masih mengingat satu hal yaitu ketika saya kelas 5 ada guru matematika baru yang mengajar di sekolah saya pada saat ulangan saya mendapatkan nila 54 dan saya mengalami shock karena saya belom pernah mendapatkan nilai seburuk ini selama saya di SD, dan saya takut memberitahukannya kepada orangtua saya. Namun setelah orangtua saya tahu mereka bilang bahwa itu tidak apa-apa yang penting saya sudah melakukan yang terbaik. Setelah kejadian itu hingga lulus saya tidak pernah mendapat nilai dibawah tujuh lagi. Saat mau naik ke kelas 6 saya disuruh sunat olah ayah saya karena umur saya sudah semakin bertambah dan tidak lama lagi saya akan mengalami mimpi basah kata ibu saya. Akhirnya saya pun melakukan sunat di rumah sakit tempat ayah dan ibu saya bekerja yaitu Rumah Sakit Polri yang terletak di  Kramat Jati. Saat saya menduduki bangku sekolah dasar lingkungan sosial saya kurang mendukung untuk mengikuti pelajaran dengan baik dikarenakan ayah dan ibu saya yang bercerai ketika saya masih kelas tiga SD. Itu menyebabkan saya tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan membuat saya semakin bandel karena waktu itu saya hanya tinggal bersama ibu dan kakak saya.

Saat saya menduduki kelas 6 SD saya mengalami kesulitan mengikuti pelajaran dan akhirnya pada saat UAN pun di mana ketiga teman saya menjadi siswa yang mendapat nilai-nilai UAN terbaik saya tidak. Saat saya mau memasuki SMP saya berpindah rumah dari Cibubur menuju ke Pondok Indah karena rumah yang di Cibubur mau dikontrak dan opa dan oma saya dari papa ingin berpidah rumah dari rumahya di Pondok Indah ke Permata Hijau. Jadi saya tinggal di rumah opa dan oma saya yang lama. Ibu saya pun menganjurkan saya untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran. Semasa SMP saya merupakan anak yang pendiam dan pemalu menurut saya. Saat menginjak ke kelas 8 saya mengikuti program dari sekolah yaitu BIMENSI salah satu pengalaman yang tak akan bisa terlupakan oleh saya dan teman satu angkatan saya. Saat kelas 9 kita menjalani pendalaman materi untuk menghadapi UAN yang disebut paket. Sebelum UAN saya mengalami salah satu kejadian yang sangat menyedihkan yaitu ibu saya meninggal dunia pada 6 Februari 2009 saya pun tinggal sendiri di rumah saya karena kakak saya lebih sering tinggal di kosnya karena dia waktu itu telah masuk ke universitas SGU di BSD sedangkan ayah saya tinggal di rumahnya sendiri di daerah Condet karena ketika saya SD orang tua saya cerai. Hal ini membuat lingkungan sosial saya menjadi sangat tidak mendukung karena tidak ada yang bisa membimbing saya secara langsung ketika itu dan saya pun tidak dapat belajar dengan benar dan akhirnya saya tidak dapat mencapai nilai maksimal dalam UAN saya. Akhirnya UAN pun tiba dan saya mendapat hasil di bawah harapan saya yaitu NEM dengan total 36.2 padahal saya mengharapkan untuk mendapat 38 ke atas karena waktu itu saya mengincar untuk masuk ke 8 karena saya tidak dapat masuk ke SMAN 8 saya pun bingung untuk memilih antara 70 atau Labschool lagi akhirnya ayah saya yang memilihkan supaya saya masuk ke Labschool Kebayoran lagi. Setelah UAN saya pun berpacaran dengan Reine Endika Juwita salah satu teman sekelas saya ketika kelas 7 dan kita pun masih berhubungan hingga sekarang.

Saat di SMA Labschool Kebayoran pun saya tidak mengalami kesulitan untuk berteman karena banyak teman dari SMP saya yang masuk ke SMA yang sama dengan saya lagi walaupun ada beberapa yang telah beda sekolah. Saat masuk ke SMA saya dikejutkan dengan pelajaran-pelajaran baru target-target yang baru dan remedial yang sering saya alami. Sewaktu kelas 10 saya masih dikejar dengan target untuk masuk ke jurusan IPA karena saya memang lebih suka mata pelajaran IPA dibanding IPS. Akhirnya setelah berusaha dan mendapat nilai rata-rata yang pas-pasan yaitu 71.9 sedangkan nilai rata-rata yang dibutuhkan adalah 70. Pada saat semester satu saya mendapatkan rangking ke 6 dari 30 siswa lebih tetapi di semester dua prestasi saya menurun jauh menjadi ranking tiga puluh dua namun saya sangat bersyukur karena saya masih dapat masuk ke jurusan yang saya inginkan. Tidak terbayangkan oleh saya jika saya sampai masuk ke jurusan IPS karena saya memang tidak menyukai jurusan dan mata pelajaran social kecuali sosiologi. Namun di mata pelajaran IPA pun saya mempunyai pelajaran yang kurang saya kuasai bahkan dari kelas sepuluh yaitu mata pelajaran kimia walaupun terkadang saya mendapat nilai bagus namun entah mengapa saya suka merasa saya tidak menguasai kimia sebaik saya menguasai mata pelajaran IPA yang lain.

Pada saat saya di SMA terlebih pada saat kelas sepuluh banyak sekali kegiatan-kegiatan dari sekolah yang wajib saya ikuti. Pertama jelas mos, masa orientasi siswa namun saya pernah melewatinya di SMP jadi saya sudah bisa dibilang terbiasa dengan hal ini apalagi mos saat SMA hanya memakan waktu selama tiga hari dan kita pulang pukul tiga sore sedangkan saat SMP kita melaksanakan mos selama lebih dari tiga hari yaitu lima hari dan kita baru pulang pukul lima sore jadi sangat terasa perbedaannya. Setelah selesai melaksanakan kegiatan mos kita langsung disuruh untuk mengikuti kegiatan TO atau trip observasi. Kegiatan ini memang menyenangkan namun kegiatan sebelom trip observasi ini yaitu pra-to yang membuat saya malas menjalaninya. Karena pada saat kegiatan ini keita kerjaannya selalu dikerjai dan dimarahi terus-menerus, bahkan kita selalu sengaja dibuat untuk membuat kesalahan jadi kita selalu mendapat teguran dan sebagainya. Perlengkapan dari pra-to ini juga sangat menyulitkan yaitu pengecatan tongkat serta nametag yang harus dibuat dalam waktu yang ditentukan sangat sulit untuk membuat keduanya karena dibuat sebegitu rumitnya seperti terlihat menyusahkan peserta.

Tetapi setelah pra-to kita mendapatkan waktu yang lumayan menyenangkan dibanding dengan pra-to yaitu kegiatan to itu sendiri. Saat tip observasi tersebut kita pergi ke pedesaan untuk tinggal bersama warga setempat selama lima hari. Setelah kegiatan trip observasi kegiatan BINTAMA pun menunggu, semua alumni SMP Labschool pun bisa dibilang takut untuk menghadapi pelatihan seperti ini lagi, hal ini disebabkan karena saat SMP sudah pernah mengalami pelatihan yang dapat dibilang sangat parah untuk taraf siswa SMP karena merupakan pelatihan terparah selama kegiatan BIMENSI tersebut pernah dilaksanakan sampai banyak orang tua siswa yang memprotes.

Tetapi ternyata kegiatan BINTAMA jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan kegiatan BIMENSI, kita diperlakukan dengan sangat baik fasilitasnya pun sangat memadai ada shower untuk mandi toiletnya pun toilet duduk bukan toilet jongkok, makanannya saja prasmanan. BINTAMA itu bisa dibilang pengalaman yang biasa-biasa saja. Sebelum BINTAMA pun kami mempunyai kegiatan yaitu studi lapangan, kelas 10 ke Bandung kelas 11 ke Yogyakarta dan kelas 12 ke Bali. Setelah naik kelas ke kelas 11 dan memasuki jurusan IPA saya sudah merasa lega karena kegiatan-kegiatan yang tidak menyenangkan sudah saya lewati dan di kelas 11 tinggal fokus ke belajar dan ada studi lapangan ke Yogyakarta yang bisa dibilang lebih ke pariwisata walaupun ada tugas yang diberikan namun siswa bisa berekreasi dengan leluasa bahkan diberikan fasilitas tinggal di hotel berbintang. Sekarang saya baru menjalani pendidikan sampai ke kelas 11 SMA dan saya belum mengetahui ingin masuk ke universitas apa dan fakultas apa. Ini disebabkan karena saya tidak mempunyai orang tua yang membimbing saya secara langsung karena ayah saya tinggal beda rumah dengan saya dan kakak saya sekarang sudah magang di Jerman, lingkungan sosial seperti ini membuat saya tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan bahkan sampai saya tidak bisa memutuskan masa depan saya serta tempat kuliah juga fakultas yang saya inginkan.

Tetapi sekarang saya pun masih bercita-cita untuk menjadi dokter dan pergi kuliah ke Singapur untuk sekolah di NUS atau National University of Singapore karena di sana terdapat fakultas kedokteran yang sangat bagus dengan biaya yang tidak begitu mahal jika dibandingkan dengan pelajaran yang didapat, namun niat ini mulai meredup karena saya berfikir bahwa saya memang tidak cocok menjadi dokter, hal ini bisa terjadi karena waktu ada praktek biologi yaitu saat praktek membedah katak saya merasa jijik. Sekarang saya berfikir untuk menjadi seorang developer game, orang yang membuat game. Saya ingin menjadi developer game karena bermain game merupakan salah satu hobi saya dan saya sangat menyukai game sampai saya bercita-cita untuk membuat game-game berkualitas dan meningkatkan gaming di Indonesia.

Namun sepertinya saya tidak akan melakukan hal itu melainkan saya ingin mengambil teknik sipil, hubungan internasional, atau menjadi arsitek. Sekarang saya sangat ingin mengambil hubungan internasional karena sepertinya menjadi dubes Indonesia di Negara asing itu sangat menyenangkan dan seru. Menjadi diplomat Negara dan menjalin hubungan baik dengan Negara lain mengadakan kerjasama, perjanjian internasional dan hal-hal seperti itu. Sampai sekarang pun saya belum memastikan visi dan misi saya ke depan. Sejak kecil saya ingin menjadi astronot karena sepertinya sangan keren jika saya bisa naik pesawat luar angkasa dan pergi ke bulan lalu memakai pakaian astronot yang waktu itu saya bilang sangat keren. Namun sepertinya sangat susah untuk menjadi astronot dan mempunyai resiko yang sangat amat besar. Jadi setelah lulus nanti saya mungkin akan mengikuti jejak kakak saya yaitu ke SGU dan mengambil bio-technical engineering yang bekerja pada bidang peralatan kesehatan. Tetapi biaya untuk kuliah di SGU itu tidaklah semurah kuliah di negeri. Saya pun memutuskan untuk masuk ke UI dan mengambil FKGUI yaitu fakultas kedokteran gigi UI mengikuti jejak ibu saya, lalu saya akan mengambil spesialis dan saya akhirnya bekerja sebagai seorang ortodontis dan membuka praktek sendiri di rumah saya. Saya pun akan menikah dengan pacar saya Reine Endika Juwita dan saya akan tinggal di daerah Pondok Indah.















Demikian sejarah singkat dari hidup saya serta cita-cita saya di masa depan, terimakasih karena telah membaca sejarah singkat serta mimpi saya ini.