Tampilkan postingan dengan label Daviatri Apsariputri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daviatri Apsariputri. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2011

LIBERIA

Republik Liberia adalah sebuah negara di pesisir barat Afrika yang berbatasan dengan Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading. Baru-baru ini Liberia dilanda dua perang saudara (1989–1996 dan 1999–2003) yang mengakibatkan ratusan ribu penduduknya mengungsi sekaligus menghancurkan ekonomi Liberia.





WARGA NEGARA LIBERIA

Populasi (2009): 3.955 juta
Perkembangan pertambahan penduduk (2008): 2.1%.
Grup Etnik: Kpelle 20%, Bassa 14%, Gio 8%, Kru 6%, 52% lainnya.
Agama: Kristen 85%, Islam 12%, lainnya 1.5%, atheis 1.5%.
Bahasa: Bahasa Inggris


AGAMA

Islam di Liberia diperkirakan dipraktikkan oleh 12% penduduk Liberia. Sebagian besar penganut Islam di Liberia adalah Muslim Sunni, dengan hanya beberapa Syiah. Kelompok etnis utama yang muslim adalah Vai dan Mandingo, tetapi juga Gbandi, Kpelle dan kelompok etnis lainnya. Secara historis, Muslim Liberia telah mengikuti bentuk santai dan Islam liberal yang banyak dipengaruhi oleh agama-agama adat yang diintegrasikan ke dalam Islam yang ketika itu datang ke Liberia pada abad ke-16 dengan runtuhnya Kekaisaran Songhai di Mali.

Praktek agama yang bervariasi di kota-kota di seluruh negeri. Liberia muda, khususnya di kota-kota di sepanjang pantai, cenderung lebih sekuler tapi masih menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di pedesaan, Muslim Liberia lebih konservatif dalam berpakaian sederhana, melakukan doa dan menghadiri kajian agama. Praktek Islam di Liberia telah dikenal dibandingkan dengan Islam sufi umum di Senegal dan Gambia. Hari libur besar Islam, Idul Fitri, Ramadhan dan Idul Adha yang disebut Hari al-Tabaski dirayakan setiap tahun di Liberia. Orang-orang mulai pergi haji ke Mekah dalam beberapa tahun terakhir. Bersama bahasa Inggris, bahasa Arab, Al-Quran, universitas Islam dan Islam studi sekolah dibuka dan dibangun kembali di ibukota Monrovia, kota pedesaan dan kota-kota lain.

Islam tampaknya mengalami kebangkitan bersama Kristen di negara itu sebagai hasil dari Perang Saudara Liberia. Metodis Amerika-Liberia, orang Kristen pertama di Liberia, tiba pada tanggal 7 Januari 1822.

PRESIDEN LIBERIA

Ini adalah daftar manusia-manusia yang pernah menjabat sebagai presiden Liberia:

1 Joseph Jenkins Roberts (3 Januari 1848-7 Januari 1856)
2 Stephen Benson (7 Januari 1856- 4 Januari 1864)
3 Daniel Warner (4 Januari 1864 -6 Januari 1868)
4 James Spriggs Payne (6 Januari 1868- 3 Januari 1870)
5 Edward Roye (3 Januari 1870- 4 November 1871)
6 James Skivring Smith 4 November 1871 1 Januari 1872
7 Joseph Jenkins Roberts 1 Januari 1872 3 Januari 1876
8 James Spriggs Payne 3 Januari 1876 7 Januari 1878
9 Anthony Gardiner 7 Januari 1878 20 Januari 1883
10 Alfred Russell 20 Januari 1883 7 Januari 1884
11 Hilary Johnson 7 Januari 1884 4 Januari 1892
12 Joseph Cheeseman 4 Januari 1892 12 November 1896
13 William Coleman 12 November 1896 11 Desember 1900
14 Garretson Gibson 11 Desember 1900 4 Januari 1904
15 Arthur Barclay 4 Januari 1904 1 Januari 1912
16 Daniel Howard 1 Januari 1912 5 Januari 1920
17 Charles King 5 Januari 1920 3 Desember 1930
18 Edwin Barclay 3 Desember 1930 3 Januari 1944
19 William Tubman 3 Januari 1944 23 Juli 1971
20 William Tolbert 23 Juli 1971 12 April 1980
* Samuel K. Doe 12 April 1980 25 Juli 1984
21 Samuel K. Doe 25 Juli 1984 9 September 1990
* Amos Sawyer 9 September 1990 18 Agustus 1993
* Bismarck Kuyon 18 Agustus 1993 13 November 1993
* Philip Banks 13 November 1993 28 Februari 1994
* David Kpomakpor 28 Februari 1994 1 September 1995
* Wilton Sankawulo 1 September 1995 3 September 1996
* Ruth Perry 3 September 1996 2 Agustus 1997
22 Charles Taylor 2 Agustus 1997 11 Agustus 2003
23 Moses Blah 11 Agustus 2003 14 Oktober 2003
* Gyude Bryant 14 Oktober 2003 16 Januari 2006
24 Ellen Johnson-Sirleaf 16 Januari 2006 Masih Menjabat

Ellen Johnson Sirleaf adalah Presiden Liberia saat ini. Kemenangannya secara formal disahkan oleh komisi pemilihan Liberia pada 23 November 2005 tak lama setelah pemilu presiden 2005. Ia secara resmi dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden yang diikuti oleh 22 kandidat.

Empat di antaranya adalah ia sendiri, bintang AC Milan tahun 1995 George Weah, mantan presiden dan penjahat perang Charles Taylor, dan mantan pemimpin gerilyawan Sekou Conneh. Pelantikannya sebagai presiden dilakukan pada 16 Januari 2006.

Ellen Johnson Sirleaf adalah kepala negara perempuan pertama di Afrika, oleh karena itu ia dianggap istimewa oleh warganya.

EKONOMI LIBERIA

Ekonomi Liberia sangat bergantung kepada ekspor bijih besi. Sebelum 1990 Liberia juga mengekspor karet. Perang saudara yang panjang telah menghancurkan banyak infrastruktur negara, dan Liberia sangat tergantung kepada bantuan luar negeri. Pada 2005 negara ini memiliki tingkat pengangguran 85%, terburuk di dunia.

PERANG SAUDARA DI LIBERIA

Perang Saudara Liberia Pertama adalah konflik di Liberia dari tahun 1989 sampai tahun 1996. Pada pertengahan tahun 1990, perang saudara meletus. Akibat perang ini, Pemerintahan Samuel Doe dijatuhkan, dan Charles Taylor dipilih sebagai Presiden Liberia.

Perang Saudara Liberia Kedua adalah perang saudara yang terjadi tahun 1999 ketika grup pemberontak yang dibantu oleh pemerintah Guinea, Liberians United for Reconciliation and Democracy (LURD), muncul di Liberia utara. Pada awal tahun 2003, grup pemberontak kedua, Movement for Democracy in Liberia, muncul di selatan, dan pada Juni-Juli 2003, pemerintahan Charles Taylor hanya menguasai 1/3 negara. Ibukota Liberia, Monrovia dikepung oleh LURD, yang menyebabkan kematian banyak penduduk.

KUNJUNGAN KE MUSEUM POLRI



Kemarin hari Minggu, saya bertiga dengan teman sekelas saya, Astidira Apti dan Sabrina Tatya Aprisasuri berwisata dan berkunjung ke sebuah museum. Museum itu bernama museum Polri, yang terletak di Jl. Trunojoyo No. 1, Jakarta Selatan. Museum tersebut (kata orang-orang) adalah museum baru, ruangannya pun ber AC dan tampak sangat modern (dan menurut saya sendiri sangat bagus).

Museum Polri yang menampilkan ribuan foto dan berbagai benda bersejarah yang disajikan secara apik dan dilengkapi dengan fasilitas multimedia interaktif tersebut tampak sangat menarik. Semua barang yang terdapat di museum Polri tertata sangat rapih dan tampak sangat elegan, dan semua barang berada di dalam kaca jadi kami tidak bisa menyentuhnya dan merusaknya.

Museum Polri adalah museum yang sangat unik, museum ini memiliki banyak sekali ruangan, di dalam karangan ini saya akan menjelaskan dan mencantumkan ruangan-ruangan tersebut satu-persatu.

MUSEUM POLRI tersebut memiliki 3 lantai yang berfunitur modern dan cantik untuk dipandang mata. Banyak sekali fasilitas yang terdapat di Museum Polri, contohnya banyak layar-layar flatscreen dan tulisan-tulisan yang dipajang di seluruh museum, yang menjelaskan tentang kejadian-kejadian yang pernah terjadi tentang kepolisian di Republik Indonesia ini.



Saya dan dua teman saya pun berjalan ke lantai dua, yang mempunyai sebuah ruangan besar yang bernama RUANG TEMATIK. Ini adalah ruangan yang akan saya ceritakan pada hari ini. Disinilah, dijelaskan tentang banyak sekali peristiwa-peristiwa, oleh karena itu ini menjadi bagian favorit saya dari seluruh museum ini. RUANG TEMATIK ini terbagi atas 6 bagian, yang menceritakan tentang topik

1. RUANG KEPAHLAWANAN

Ruang kepahlawanan ini adalah ruangan yang menceritakan tentang kisah-kisah tentang pahlawan-pahlawan yang dulu mengabdi ke negara kami, dan di ruangan ini kisah-kisah ini pun diceritakan baik dengan multimedia maupun dengan tulisan-tulisan. Beberapa kisah yang di ceritakan, antara lain adalah:

- "Kisah Operasi Trikora"

Pada salah satu operasi dalam Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 1962, Polri terlibat dalam penyusupan ke Rumbati, Papua (ketika itu bernama Irian Barat) dari Pulau Gorom di wilayah Kepulauan Seram. Penyusupan pertama pada 4 April 1962 mengalami kegagalan karena kerusakan perahu. Penyusupan dilakukan kembali pada 13 Mei. Namun, operasi penyusupan terlacak dan terkepung kapal angkatan laut Belanda. Perbandingan kekuatan yang tak seimbang membuat pasukan penyusup memutuskan menyerah setelah sebelumnya berhasil membuang semua dokumen rahasia agar tak jatuh ke tangan musuh. Pasukan pelopor ini kemudian ditempatkan di Pulau Hundi bersama pasukan dari kesatuan RPKAD, Brawijaya, dan Diponegoro yang juga tertangkap. Pada 7 Agustus, Komandan Detasemen Pelopor, AKP Anton Soedjarwo kembali mem- berangkatkan 65 pasukan pelopor dengan speedboat yang dipimpin Ajun Inspektur Pol. Hudaya Sumarya. Pasukan berhasil mendarat di Rumbati dan menguasai keadaan. Bersama penduduk Papua, pasukan pelopor ini melanjut- kan Operasi Trikora untuk merebut Papua.

- "Kisah Kapal Motor Levina I"

Pada 22 Februari 2007, sebuah Kapal Motor Penumpang (KMP) Levina I terbakar di perairan Kepulauan Seribu. Sekitar 50 orang dari penumpang dan awak kapal meninggal dalam kejadian tersebut. Tim investigasi dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang berkoordinasi dengan Markas Polisi Air Tanjung Priok melakukan penyelidikan ke bangkai kapal pada 25 Februari. Tim investigasi juga disertai oleh beberapa wartawan. Pada siang hari ketika penyelidikan sedang berlangsung, tiba-tiba bangkai kapal oleng dan tenggelam. Peristiwa itu menambah daftar jumlah korban jiwa dari terbakar dan tenggelamnya KMP Levina I. Selain menelan korban dua orang wartawan televisi, dua orang petugas Puslabfor yaitu Ajun Komisaris Besar Langgeng Widodo dan Komisaris Widiantoro gugur saat menjalankan tugas.

- "Mohammad Yasin"

Pada 21 Agustus 1945, Inspektur Polisi Mohammad Jasin, komandan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya, menyatakan bahwa Tokubetsu Keisatsutai Surabaya menjadi Polisi Republik Indonesia dan segera melakukan tindakan-tindakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Sosok kelahiran Sulawesi ini menunjukkan semangat juang dan prestasi cemerlang ketika menjalan- kan tugas dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodimodjo untuk membentuk Brigade Mobil. Saat itu, 1946, Mohammad Jasin menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Kesatuan yang diresmikan pada 14 November 1946 di Purwokerto ini sejak awal berdirinya berjasa mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban seperti pada peristiwa Agresi Militer Belanda dan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung, serta peng- amanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII . Mohammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI.

Itu adalah beberapa cerita yang saya dapat dan saya baca (dan catat) di ruangan Kepahlawanan dan Nilai Luhur. Masih ada beberapa cerita lainnya yang menyangkut dengan kepahlawanan dan nilai luhur, berikutnya ruangan yang saya kunjungi adalah ruangan SELINTAS SATUAN KEPOLISIAN. Beberapa informasi yang saya ambil dan catat dari ruangan tersebut adalah tentang:

- "Detasemen Khusus 88 Anti Teror"

Pascaperistiwa bom Bali 12 Oktober 2002, Kepala Kepolisian RI segera membentuk satuan khusus untuk menyelidiki, menangkap, dan membongkar jaringan teroris yang berada di balik peristiwa bom Bali. Pada 30 Juni 2003, satuan khusus tersebut diresmikan dengan nama Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88/AT) yang berada di bawah Struktur Badan Reserse Kriminal Polri. Pada 2008, keberadaan detasemen berlogo burung hantu berwarna hitam dan abu-abu ini diperbesar hingga ke tingkat Kepolisian Daerah. Selain berhasil menangkap pelaku dan membongkar jaringan pelaku bom Bali 2002, Densus 88/AT berhasil mengatasi berbagai kasus tindak terorisme di Indonesia.

- "Brigade Mobil"

Brigade Mobil (Brimob) berasal dari kesatuan Veld Politie di masa pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Tokubetsu Keisatsutai di masa Pendudukan Jepang yang berarti Polisi Istimewa atau Polisi Bersenjata. Fungsi polisi istimewa adalah sebagai unit reaksi cepat kepolisian untuk melakukan pengamanan tanpa menghadirkan kekuatan militer. Dari anggota Tokubetsu Keisatsutai, Kepolisian RI mem- bentuk kesatuan Polisi Istimewa dengan nama Mobile Brigade (Mobrig) pada 14 November 1946. Penyebutan Mobrig kemudian berganti menjadi Brigade Mobil pada 1961. Sepanjang sejarahnya, kesatuan Brimob terlibat dalam berbagai operasi keamanan dan menjaga keutuhan Republik Indonesia.

Dan masih banyak sekali cerita yang terdapat di ruangan SELINTAS SATUAN KEPOLISIAN, yaitu diantaranya adalah tentang polisi udara, direktorat samapta, dan direktorat lalulintas.

Beberapa ruangan berikutnya yang ada di RUANGAN TEMATIK di antara lain adalah ruangan-ruangan ini, yaitu bagian PERLINDUNGAN, PELAYANAN, PENGAYOMAN, dan juga bagian KEJAHATAN DAN PENEGAKAN HUKUM, serta MINILAB DAN FORENSIK, dan juga PROFIL DAN SIMBOL.

Bagian favorit saya tentang PROFIL DAN SIMBOL, karena di bagian ini banyak sekali menunjukan lambang-lambang POLRI dari berbagai daerah, dan juga menjelaskan tentang makna lambang POLRI.


Itu adalah foto yang saya ambil dari depan museum Polri, di atas museum tersebut terdapat lambang Polri (yang juga terdapat di bagian PROFIL DAN SIMBOL).

"...Lambang Polisi bernama Rastra Sewakottama yang berarti "Polri adalah Abdi Utama dari pada Nusa dan Bangsa." Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1954.


Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat. Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai "penguasa". Ternyata prinsip ini sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police philosophy, "Vigilant Quiescant" (kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram).


Prinsip itu diwujudkan dalam bentuk logo dengan rincian makna sbb:


Perisai bermakna pelindung rakyat dan negara.


Tiang dan nyala obor bermakna penegasan tugas Polri, disamping memberi sesuluh atau penerangan juga bermakna penyadaran hati nurani masyarakat agar selalu sadar akan perlunya kondisi kamtibmas yang mantap.




Pancaran obor yang berjumlah 17 dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga bermakna 17 Agustus 1945, hari Proklamasi Kemerdekaaan yang berarti Polri berperan langsung pada proses kemerdekaan dan sekaligus pernyataan bahwa Polri tak pernah lepas dari perjuangan bangsa dan negara.


Tangkai padi dan kapas menggambarkan cita-cita bangsa menuju kehidupan adil dan makmur, sedangkan 29 daun kapas dengan 9 putik dan 45 butir padi merupakan suatu pernyataan tanggal pelantikan Kapolri pertama 29 September 1945 yang dijabat oleh Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.


3 Bintang di atas logo bermakna Tri Brata adalah pedoman hidup Polri. Sedangkan warna hitam dan kuning adalah warna legendaris Polri.


Warna hitam adalah lambang keabadian dan sikap tenang mantap yang bermakna harapan agar Polri selalu tidak goyah dalam situasi dan kondisi apapun; tenang, memiliki stabilitas nasional yang tinggi dan prima agar dapat selalu berpikir jernih, bersih, dan tepat dalam mengambil keputusan..."


Itu adalah informasi yang kami dapatkan dengan mencatat di bagian PROFIL DAN SIMBOL. Kami juga melihat banyak sekali lambang-lambang kepolisian daerah yang beda-beda dengan makna yang berbeda-beda juga.

Salah satu bagian favorit saya dari MUSEUM POLRI ini adalah koleksi senjata nya yang lumayan lengkap. Beberapa senjata di antaranya adalah:

- Senapan Garand M1 - Termasuk jenis Karabin kaliber 30.06mm. Buatan Amerika tahun 1917, dengan panjang laras 26 inci memiliki jarak tembak efektif 400-500 m, dengan kecepatan peluru 760 m/ detik dan kecepatan penembakan 180 butir/ menit. Senapan ini direbut dari Belanda saat pertama Kepolisian RI terbentuk.

- Senapan Karabin Lee Enfield buatan Inggris tahun 1917 ini adalah senapan bahu yang digunakan pada awal terbentuknya Kepolisian RI. Senjata berkaliber .303 ini memiliki kapasitas amunisi 7 butir dengan jarak tembak efektif 400-500 m. Senapan ini didapat melalui rampasan dari tentara Belanda. Ketika itu senapan jenis ini juga digunakan oleh polisi di berbagai negara seperti Kanada dan India.

- Roket SPG 82 dengan nomor GA 143 ini adalah peluncur roket buatan Uni Sovyet tahun 1946. Senjata berkaliber 82 mm ini digunakan Resimen II Brimob Jawa Barat pada saat operasi peng- amanan Pepera tahun 1963.

- Senjata jenis Heavy Machine Gun model HMG/ SG 43 yang diproduksi Uni Sovyet tahun 1946 dengan nomor seri WA 44 ini memiliki kaliber 303. Senjata ini digunakan Resimen II Brimob Jawa Barat untuk menangkis serangan udara pada saat operasi pengamanan Pepera tahun 1963.

- Senapan Mauser ini adalah senjata buatan Jerman tahun 1920-1938. Senapan berkaliber 7,62x57 ini memiliki kapasitas amunisi 7 butir, dengan panjang laras 26 inci dan mampu menembakkan peluru 180 peluru/ menit. Senapan yang direbut dari tentara sekutu ini digunakan pasukan kavaleri Kepolisian RI pada jaman pendudukan Belanda.

- Senapan Bren MK-II ini adalah buatan Inggris yang diproduksi tahun 1937. Senapan ini memiliki laras sepanjang 20 inci dengan kaliber 303 dan jarak tembak efektif 400-500 m serta kecepatan tembak 500 butir/ menit. Senjata ini digunakan kepolisian dalam mengamankan situasi ketika terjadi pemberontakan PKI tahun 1948.



Itu adalah beberapa informasi yang saya dapatkan dari mengunjungi MUSEUM POLRI. Lain kali saya berharap datang kesini lagi dan melihat koleksi-koleksinya secara lebih detail! :D

Selasa, 10 Mei 2011

Remed Sejarah Soal D, Daviatri Apsariputri

1. Kerajaan-kerajaan di Indonesia belum mengetahui kalau Jepang sudah kalah krn belum mendapat berita, sedangkan Indonesia tau dari radio ilegal yaitu radio BBC sehingga kerajaan-kerajaan di masa lalu tidak sempat mengambil langkah-langkah yang strategis.

2. Pada tahun 1945-1949, belanda berusaha untuk kembali merebut Indonesia, namun dihadapi oleh pertahanan yang kuat dari Indonesia, karena rakyat tidak ingin negaranya terjajah kembali, didukung semangat dan rasa cintanya kepada Indonesia, rakyat dengan kuat mempertahankan negaranya, dibantu oleh persatuan kelautan Australia yang bersimpati dengan usaha kemerdekaan, melarang segala pelayaran Belanda sepanjang konflik ini agar Belanda tidak mempunyai dukungan logistik maupun suplai yang diperlukan untuk membentuk kembali kekuasaan kolonial.
     Tidak lama setelah itu, Indonesia berubah menjadi Demokrasi Parlementer, dimana dewan eksekutifnya bertanggung jawab kepada MPR. MPR terbagi kepada partai-partai politik sebelum dan sesudah pemilu pertama pada tahun 1955, sehingga koalisi pemerintah yang stabil susah dicapai.Peran Islam di Indonesia menjadi hal yang rumit, karena presiden Soekarno lebih memilih untuk menjadi negara Sekuler sesuai dengan Pancasila. Namun beberapa kelompok muslim lebih mengingkinkan negara Islam, sehingga peraturan peraturannya pun berasal dari hukum Islam.Terjadi banyak pemberontakan pada masa itu. Sistem Parlemen di Indonesia menjadi lemah karena banyaknya pemberontakan gagal ditambah kegagalan MPR  untuk mengembangkan konstitusi baru. Akibatnya pada tahun 1959, ketika Presiden Soekarnosecara unilateral membangkitkan kembali konstitusi 1945 yang bersifat sementara, yang memberikan kekuatan presidensil yang besar, dia tidak menemui banyak hambatan. Jadilah Demokrasi parlementer berubah menjadi Demokrasi Terpimpin.

Mewawancarai Kakek Saya, seorang saksi dan pelaku sejarah, Sanyoto Sastrowardoyo.

Pada tugas wawancara saya yang kali ini untuk mewawancarai tokoh yang berperan dalam peristiwa sejarah, saya mewawancarai eyang saya, yang bernama Sanyoto Sastrowardoyo yang lahir pada tahun 1936. Ia mengalami banyak sekali peristiwa sejarah republik Indonesia dalam hidupnya, sekaligus menjadi saksi.

Bagi yang tidak mengenal Sanyoto Sastrowardoyo dari dekat, boleh jadi akan mengira bahwa hidup yang ditapakinya selalu lapang dan mulus. Anak ketiga dari enam saudara ini berasal dari lingkungan keluarga yang bukan saja terdidik, tetapi juga terpandang pada masa itu.

Ayahnya, Suyoto Sastrowardoyo adalah lulusan Mosvia dan Bestuur school pada zaman belanda -- sebuah kemewahan bagi kaum pribumi kala itu. Tugas pertamanya setelah sekolah adalah menjadi Wedana di Bumiayu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Kemudian pada zaman pendudukan Jepang, Ayahnya menjadi Wedana di Cilacap, Jawa Tengah. Lalu setelah pengakuan kedaulatan RI, ia dipindah dan menjadi Bupati Jepara, Jawa Tengah (1950-1954) sebelum akhirnya menjadi residen pekalongan (membawahi lima kabupaten: Pekalongan, Batang, Brebes, Tegal dan Pemalang) sampai pensiun pada tahun 1958.

Kalau ditelusuri lebih jauh, berdasarkan buku karangan Raden Ngabehi Tjokro Hadiwikromo, Babad Pati dan Juwoni, generasi ke 20 sebelum Sanyoto adalah Kanjeng Sunan Ngundung, ayahanda dari Kanjeng Sunan Kudus dan eyang dari Panembahan Kudus. Kemudian berturut-turut sebagai Bupati Pati Magetsari I sampai dengan Magetsari IV.

Akan tetapi meskipun hidup di lingkungan dan suasana priyayi, hidup sehari-hari Sanyoto tidaklah senyaman dugaan orang. Sejak kecil, bersama ibu dan saudara-saudaranya ia telah ditempa agar menjadi manusia yang tahan banting. Semasa Perang Kemerdekaan di tempat tinggalnya, Purbalingga, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan kaum gerilyawan Indonesia. Sang ayah mengungsikan istri dan anak-anaknya bersama rakyat ke lereng Gunung Slamet.

Bersama-sama rombongan pengungsi, mulailah Sanyoto beserta ibu dan saudara-saudaranya berpindah-pindah tempat hingga lebih dari 30 kali. Dari Purbalingga sampai Wonosobo. Ayahnya sendiri memilih tetap tinggal di Purbalingga, ikut bertempur bersama para gerilyawan.

Di tengah situasi yang serba tidak menentu itu beredarlah suatu berita yang amat mengejutkan sekaligus memukul keluarga Sanyoto. Ayahnya yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Purbalingga, dikabarkan berhasil di tangkap dan dibunuh oleh pasukan Belanda. Keluarga Sanyoto pun menangis.

Tiga hari setelah kabar menyedihkan itu, pagi-pagi selepas subuh, seorang lelaki mendatangi tempat pengungsian Sanyoto dan keluarganya. Ketika sang tamu di pagi buta itu membuka capingnya, mereka kaget bukan kepalang, karena yang menyembul dari balik caping itu ternyata wajah sang ayah. Sungguh mirip dengan cerita-cerita silat.

Menurut Sanyoto walaupun ayahnya waktu itu sebagai Bupati, hidup sehari-hari keluarganya sama persis dengan rakyat kebanyakan. Dan itu terasa betul semasa bertahun-tahun dalam pengungsian. Hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain bersama rakyat, makan ala kadarnya, juga tidur di tempat seadanya. Perasaan senasib dan sepenanggungan ini diam-diam menyemaikan pada diri Sanyoto benih-benih cinta yang mendalam kepada nusa, bangsa dan negara.

Benih-benih cinta Tanah Air tersebut kian tersebut kian disuburkan oleh kebiasaan ayahnya yang sering mengajak Sanyoto mengunjungi berbagai pelosok daerah untuk mengetahui keadaan rakyat yang sesungguhnya. Maklum, sanyoto adalah anak lelaki pertama, 2 orang kakaknya keduanya adalah perempuan.

Selain menumbuhkan rasa cinta bangsa dan negara, sang ayah juga menanamk, sikap hidup mandiri sejak Sanyoto masih kecil. Setelah lulus SD, di Banjarnegara pada tahun 1948, ayahnya mengirim Sanyoto ke Yogyakarta untuk melanjutkan SMP.

Ayah Sanyoto berperan sangat besar pada hidup Sanyoto. Bukan hanya ia dianggap sebagai seorang pejuang di kawasan Purbalingga, Sanyoto juga menganggap ia adalah pahlawan untuk Sanyoto dan keluarganya. Meskipun waktunya tersita untuk berperang dan berkerja, ayah Sanyoto tetap mempunyai waktu untuk keluarganya.

Bapak Suyoto adalah inspirasi Sanyoto untuk menjadi Sanyoto yang sekarang. Setelah lulus SMP, ia meneruskan ke jenjang SMA dan lulus pada tahun 1955. Setelah lulus dari SMA, atas beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sanyoto melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia di Bandung -- sekarang di kenal dengan nama ITB.

Sanyoto sendiri setelah itu meraih gelar Master of Science in Electrical Engineering dari Syracuse University, New York tahun 1962. Selama berkerja di pemerintahan, mengabdi untuk bangsa dan negara, karier Sanyoto pun lancar-lancar saja dengan jabatan terakhir sebagia menteri negara penggerak dana invistasi merangkap ketua badan koordinasi penananman modal/bkpm (1993-1998).

Itulah wawancara saya dengan kakek saya, Sanyoto Sastrowardoyo.

Selasa, 12 April 2011

Biografi Daviatri Apsariputri



Nama saya Daviatri Apsariputri Trisna. Saya lahir di Jakarta, pada tanggal 25 Maret tahun 1994 di sebuah rumah sakit yang bernama MMC di lokasi kuningan. Ibu saya dan ayah saya telah menikah selama setahun lebih saat saya lahir, saya lahir dengan kondisi sehat walafiat setelah ibu saya mengandung kurang lebih selama 9 bulan. Saya lahir sebagai bayi berambut hitam dengan kulit berwarna sawo matang, dan muka ke-jawaan, mirip ibu saya. Saya adalah anak pertama dari ayah dan ibu saya, yang telah dinanti-nantikan selama sembilan bulan lebih. Di rumah sakit, saya adalah bayi yang tenang (ini adalah cerita dari ayah dan ibu saya) dan saya jarang sekali menangis.

Saat bayi, saya sangat dimanja oleh orangtua saya, maklum anak pertama. Saat kecil saya sering dibawa kemana-mana oleh orangtua saya, ke kantor, ke taman, ke rumah saudara dan teman-teman orangtua saya. Saya tumbuh menjadi anak kecil yang sehat dan ceria, menurut saya itu adalah karena orangtua saya merawat saya dengan penuh kasih sayang. Saya diajarkan banyak sekali oleh orangtua saya, contohnya membaca surat Al-Fatihah dan berperilaku sopan, memakai sendok dan garpu, dan masih banyak lainnya.

Saat saya kecil saya tinggal di daerah yang bernama rempoa, tepatnya di Taman Rempoa Indah Blok N nomer 20, Tangerang. Di rumah itu, hanyalah tinggal ibu saya, ayah saya, suster saya dan saya, di rumah itu memang sederhana tapi rumah itu sangat membuat saya bahagia karena semua orang saling menyayangi dan mencintai.

Saat saya berusia satu tahun lebih, Allah SWT mengkaruniai ibu dan ayah saya seorang adik perempuan, yang bernama Diandra Indiraputri Trisna, yang akrab dipanggil Didu. Setelah dua tahun, lahirlah adik perempuan saya yang satunya, yang bernama Dheantri Adinda Putri Trisna, yang biasanya dipanggil Dhea. Setelah 7 tahun (berarti berbeda 10 tahun dengan saya), lahirlah adik laki-laki pertama saya yang bernama Thezar Ramadhana Putra.

Saat saya berusia 2 sampai 3 tahun, saya banyak sekali menghabiskan waktu saya dengan nenek dan kakek saya dari ibu saya, yang saya panggil eyang kakung dan eyang putri. Eyang kakung dan eyang putri saya adalah panutan saya, saat orangtua saya sedang berkerja saya dititipkan di rumah eyang saya yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Pusat.

Saya juga dekat dengan nenek dan kakek saya dari ayah saya, yang saya akrab panggil opa dan oma. Waktu itu, saya pernah ditinggal ayah dan ibu saya ke Amerika, dan saya sempat tinggal di rumah opa dan oma saya, karena itu lah saya dekat sekali dengan opa dan oma saya.

Saat saya berusia kurang lebih 3 sampai 4 tahun, orangtua saya memasukan saya ke kelompok bermain agar saya dapat membuat teman-teman baru. Kelompok bermain itu adalah kelompok bermain yang kecil di kompleks saya dulu, namanya Kelompok bermain mutiara. Kelompok bermain mutiara ini sering menampilkan pertunjukan kecil-kecilan di kompleks untuk menghibur para tetangga.

Setelah saya bertambah besar sedikit, saya dimasukan ke TK Global Jaya, sebuah TK berbasis internasional yang terletak di Bintaro sektor 9, dan saya pun belajar bahasa inggris disitu, dan saya mempunyai teman-teman disana. Saya pun melanjutkan sekolah dasar disitu, sampai saya lulus di SD kelas 6. TK dan SD saya agak berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya, kami memiliki drama-drama kecil yang di pertunjukan setiap minggunya di kelas-kelas yang berbeda, dan itu merupakan hal yang paling saya suka.

Sekolah dasar saya memberikan saya banyak sekali ilmu, kami tidak hanya diajarkan pelajaran-pelajaran biasa seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain lain, tetapi kami juga diajarkan untuk bersikap baik kepada anak-anak lainnya, dan diajarkan moral seperti bersikap percaya diri dan peduli sesama manusia.


Masa SD saya adalah masa yang sangat indah, saya membuat banyak teman baru dan banyak sekali kenangan yang lucu. SD saya memang agak berbeda dengan sekolah dasar sekolah dasar lainnya, karena sekolah dasar saya adalah sekolah berbasis internasional, jadi kami selalu berbicara bahasa inggris di sekolah. Di sekolah dasar saya, juga mempunyai banyak fasilitas, sekolah saya mempunyai pelajaran berenang dan gymnastics, dan kami juga mempunyai pelajaran perpustakaan yaitu membaca buku di perpustakaan. 

Saat saya lulus SD, saya diterima di SMP Labschool Kebayoran lalu saya bersekolah disana selama 3 tahun. Tiga tahun itu merupakan tiga tahun yang sangat indah, banyak sekali kenangan dan saya mengalami banyak sekali perubahan di dalam diri saya, baik fisik maupun secara sikap saya. Saya banyak sekali belajar hal-hal baru, dan mempunyai banyak sekali teman baru yang sampai sekarang menjadi sahabat-sahabat terdekat saya. Masa SMP saya benar-benar masa yang sangat tidak terlupakan bersama angkatan ke enam yaitu Averla Sixeras.

Saya masuk ke SMA Labschool Kebayoran pada tahun 2009, dan sampai sekarang saya bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Dulu saya masuk dan menjalankan semua acara sekolah saat kelas 1 SMA, seperti MOS, Lapinsi, Pilar, Bintama, Trip Observasi, TPO, dan lain lain. Harapan saya adalah untuk naik kelas dan menjalani kelas 3 SMA dengan lancar, lulus UAN dan masuk kuliah yang diinginkan.

Saat baru lahir.


Saat berumur 1 tahun.


Saat berumur 2 tahun.


Saat berumur 3 tahun.


Saat berumur 4 tahun.


Saat berumur 5 tahun.


Saat berumur 6 tahun.


Saat berumur 7 tahun.


Saat berumur 8 tahun.


Saya dan keluarga saya di Bali.


Saya dan beberapa teman smp saya.