Tampilkan postingan dengan label Ruliana Nurfadhila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruliana Nurfadhila. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2011

Saya dan Benda Sejarah

KRI DEWARUCI



KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci.

Kapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine ini dibangun di H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produk galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar dari tiga yang pernah diproduksi. Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat Perang Dunia II galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.

Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman Barat, pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, dan diluncurkan pada tanggal 09 juli 1953 untuk berlayar menuju Indonesia. Pada tanggal 01 oktober 1953 KRI Dewaruci dibawah pimpinan Kapten A.F. Hottendorf Roosenow memasuki Pangkalan TNI AL di Surabaya dan selanjutya oleh Menteri / Panglima Angkatan Laut Laksamana Madya RE. Martadinata ditetapkan masuk jajaran Armada TNI AL dan dijadikan kapal latih Taruna Akabri Laut dengan nama KRI DEWARUCI.

Kapal ini merupakan salah satu kapal latih TNI AL yang penggerak utamanya adalah layar, sedang penggerak lainya mesin berbaling-baling satu berdaun empat. Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat gerak dengan satu propeler berdaun 4. Kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot dengan layar.

Setiap tahunnya, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke berbagai belahan dunia dengan tujuan utama adalah latihan pelayaran bintang atau disebut Kartika Jala Krida. KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di berbagai tempat di dunia. Kapal ini juga memiliki marching band sendiri, yaitu marching band taruna Akademi Angkatan Laut yang biasa dikenal dengan nama Gita Jala Taruna.

Layar
Kapal ini memiliki 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna serta memiliki 16 layar.
Type: Barquentin, 16 layar dengan luas total 1091 m2,
Tiang depan (35,25 m)
1. Flying Jib,
2. Outer Jib,
3. Middle Jib,
4. Inner Jib,
5. Royal Sail,
6. Top Gallant sail,
7. Upper top sail,
8. Lower top sail,
9. Fore sail,

Tiang Utama (35,87 m)
1. Main top gallant sail,
2. Main top mast stay sail,
3. Main stay sail,
4. main top sail,
5. Main sail,

Tiang akhir (32,50 m)
1. Mizzen top sail,
2. Mizzen sail.

KAPAL REPUBLIK INDONESIA "DEWA RUCI"
Pembuat: H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman
Mulai dibuat: 1952
Diluncurkan: 24 Januari 1953
Ditugaskan: 1953
Status: Masih bertugas
Pelabuhan daftar: Armada Timur TNI-AL
Karakteristik umum
Berat benanam: 847 ton
Panjang: 58,5 m (191.93 kaki)
Lebar: 9,50 m (31.17 kaki)
Draft: 4,05 m (13.29 kaki)
Tenaga penggerak: 1 unit Diesel 986 HP, dengan satu propeler berdaun 4
Kecepatan: 10,5 knot dengan mesin
9 knot dengan layar
Awak kapal: 75 orang

KRI SINGA



Pembuat: PAL Indonesia, Surabaya
Status: Masih bertugas
Pelabuhan daftar: Armada Timur TNI-AL

Karakteristik umum
Berat benanam: 445 ton (muatan penuh)
Panjang: 58.10 m (190,62 kaki)
Lebar: 7.6 m (24,93 kaki)
Draught: 2.95 m (9,68 kaki)
Tenaga penggerak: 2 x MTU 60V 956 TB92
Kecepatan: 27 knot (maksimum)
15 knot (ekonomis)
Jarak tempuh: 2.200 nm pada 27 knot
6.000 nm pada 15 knot
Awak kapal: 42 orang
Persenjataan: Torpedo Ø 533 millimetre (20,98 in)

KRI Singa (651) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Kapal patroli kelas Andau milik TNI AL. Merupakan jenis kapal cepat torpedo (KCT).
Bertugas sebagai elemen pemukul musuh, baik di permukaan maupun bawah permukaan (ASW - Anti Submarine Warfare) termasuk sebagai kapal pendeteksi anti-kapal selam. Termasuk dalam kelas Andau antara lain KRI Andau (650), KRI Tongkak (652) dan KRI Ajak (653).

Pembangunan
KRI Singa yang dibangun pada tahun 1988 merupakan kapal kedua dalam seri FPB-57 Nav II yang mana sebagian lambung kapal dan peralatannya dibuat di Lurssen, Jerman, dan dipasang di PT. PAL, Surabaya.
KRI ini merupakan jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) untuk menghadapi perang di bawah air (Anti Submarine Warfare) yang dilengkapi dengan torpedo berpemandu AEG SUT (Surface & Underwater Target). Pada tahun 1988, KRI Singa masuk sebagai bagian dari Satuan Kapal Cepat Armada Timur TNI-AL, Surabaya.

Kapal
Data teknis
Kapal ini memiliki panjang 58,1 meter, lebar 7,6 meter, dan draught 2,95 m. Pada beban penuh memiliki bobot 445 ton. Memiliki dua mesin diesel MTU 60V 956 TB92 yang memiliki kecepatan maksimal 27 knot dengan daya jelajah 2.200 mil pada kecepatan 27 knot, atau 6.000 mil pada kecepatan 15 knot.
Persenjataan
  1. Dua tabung peluncur torpedo Ø 533 millimetre (20,98 in), dibekali dengan torpedo berpemandu AEG SUT (Surface & Underwater Target) yang pada kecepatan 23 knot torpedo ini dapat menghantam target berjarak 28 km,
  2. Satu Meriam Bofors SAK 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal LIROD Mk. 2.
  3. Satu Meriam Bofors SAK 40/70 berkaliber 40mm dengan kecepatan tembakan 300 rpm, jangkauan 12 Km untuk target permukaan dan udara.
  4. Dua kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 km untuk target udara.
Sensor dan elektronis
  1. Sonar PHS-32 hull mounted MF
  2. Pengontrol tembakan DR-2000 S3 intercept
  3. Radar permukaan Racal Decca/Signaal Scout
  4. Pengumpan (Countermeasures) Dagie decoy RL
5.       Mulai dibuat: 19 Oktober 1949
Diluncurkan: 17 September 1950 dan bertugas di AL Uni Sovyet pada 30 Juni 1952
Dibeli: 1962 dari Uni Soviet
Ditugaskan: 24 Januari 1963
Nama sebelumnya: Ordzhonikidze (Орджоникидзе) (Object 055)


Karakteristik umum 

Berat benanam: 13.600 T standar, 16.640 T beban penuh
Panjang: 210 m keseluruhan, 205 m garis air
Lebar: 22 m
Draft: 6,9 m
Tenaga penggerak: 2 shaft geared steam turbine, 6 boiler, 110.000 HP
Kecepatan: 32,5 knot
Awak kapal: 1.250 orang
Persenjataan: 12 x 15.2 cm 57 cal B-38, 4 triple Mk5-bis turrets
12 x 10.0 cm 56 cal Model 1934 6 twin SM-5-1 mounts
32 x 3.7 cm
10 x 533 cm tabung torpedo
Perisai: Belt = 100 mm
Conning tower = 150 mm
Dek = 50 mm
Turet = 75 mm

KRI IRIAN



KRI Irian adalah Kapal penjelajah kelas Sverdlov dengan kode penamaan soviet Project 68-bis. Kapal jenis ini adalah Kapal Penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khrushchev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali). Kapal ini adalah versi pengembangan dari Penjelajah Kelas Chapayev.
Kapal ini dibuat di Admiralty Yard, Leningrad.Peletakan lunas pertama dilakukan pada tanggal 9 Oktober 1949, kapal diluncurkan pada tanggal 17 September 1950, dan pertamakali kapal dioperasikan pada tanggal 30 Juni 1952
Pada 11 Januari 1961 Pemerintah Soviet mulai mengeluarkan instruksi kepada Central Design Bureau #17 untuk memodifikasi Ordzhonikidze supaya ideal beroperasi di daerah tropis. Modernisasi skala besar dilakukan untuk membuat kapal ini bisa beroperasi pada suhu +40°C, kelembapan 95%, dan temperatur air +30°C.
Tetapi perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia yang kemudian mengunjungi kota Baltiisk menyatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk menanggung biaya proyek sebesar itu. Akhirnya modernisasi dialihkan untuk instalasi genset diesel yang lebih kuat guna menggerakkan ventilator tambahan.

Desain

Kapal jenis ini adalah pengembangan dan versi yang lebih besar dari Kapal penjelajah kelas Chapayev. Kemiripan KRI Irian dengan kapal kelas Chapayev adalah pada senjata utama , permesinan, dan perlidungan bagian samping. Sedangkan perbedaannya terletak pada kapasitas bahan bakar yang lebih banyak untuk jarak tempuh yang lebih jauh , lambung yang dilas keseluruhnya, proteksi bawah air yang lebih bagus, artileri anti pesawat yang lebih baik dan radar yang lebih baik pula.

Lapisan baja Pelindung

Dalam satuan mm:
• Sabuk lapis baja utama : 100 mm
• Buritan : 32 mm
• Dek : 50 mm
• Rumah Dek : 130 mm
• Tempurung meriam utama : 175 mm

Peralatan Elektronik

• Radar:
o Radar Pencari udara Gyus-2
o Radar pencari permukaan laut Ryf
o Radar navigasi Neptun

• Sonar:
o Tamir-5N dipasang di hull

• Lain-lain:
o Machta ECM (electronic Counter Measures)

Jumlah awak kapal

Kapal ini dapat memuat 1.270 awak kapal, termasuk 60 orang perwira, 75 perwira pengawas, 154 perwira pertama.

Senjata dan tenaga penggerak

Senjata artileri KRI Irian

Senjata utama dari KRI Irian adalah buah 4 turret, dimana setiap turret berisi 3 meriam berukuran 6 inchi. Sehingga total ada 12 meriam kaliber 6 inchi di geladaknya.


Pemandangan lain dari RI Irian.

• 10 Tabung Torpedo anti-Kapal selam kaliber 533 mm
• 12 Buah Kanon tipe 57 cal B-38 Kaliber 15.2 cm (6 depan, 6 Belakang)
• 12 Buah Kanon ganda tipe 56 cal Model 1934 6 (twin) SM-5-1 mounts Kaliber 10 cm
• 32 Buah Kanon multi fungsi kaliber 3,7 cm
• 4 Buah triple gun Mk5-bis turrets kaliber 20 mm (untuk keperluan anti-Serangan udara)

Tenaga penggerak

Sebagai tenaga penggerak, KRI Irian mengandalkan 2 buah turbin uap TB-72 yang mendapat pasokan uap dari 6 buah Pendidih KV-68 dan disalurkan melalui 2 buah shaft.
Tenaga total yang tersedia adalah sekitar 110.000 hp sampai 122.000 hp pada kedua shaft, tenaga ini mampu membuat kapal 13.600 ton ini mencapai kecepatan maksimum 32,5 knot. Sedangkan jarak maksimum yang bisa ditempuh adalah 9000 mil laut dengan kecepatan konstan 18 knot.

Riwayat KRI Irian

KRI Irian sebelumnya adalah kapal Ordzhonikidze (Орджоникидзе) (Object 055) dari armada Baltik yang dibeli oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962. Saat itu KRI Irian adalah kapal terbesar dibelahan bumi selatan. Kapal ini digunakan secara aktif untuk persiapan merebut Irian Barat.

Awal

Kapal ini dibuat di Admiralty Yard, Leningrad.Peletakan lunas pertama dilakukan pada tanggal 9 Oktober 1949, kapal diluncurkan pada tanggal 17 September 1950, dan pertamakali kapal dioperasikan pada tanggal 30 Juni 1952

Persiapan Pengoperasian di Indonesia

Pada 11 Januari 1961 Pemerintah Soviet mulai mengeluarkan instruksi kepada Central Design Bureau #17 untuk memodifikasi Ordzhonikidze supaya ideal beroperasi di daerah tropis. Modernisasi skala besar dilakukan untuk membuat kapal ini bisa beroperasi pada suhu +40°C, kelembapan 95%, dan temperatur air +30°C.
Tetapi perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia yang kemudian mengunjungi kota Baltiisk menyatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk menanggung biaya proyek sebesar itu. Akhirnya modernisasi dialihkan untuk instalasi genset diesel yang lebih kuat guna menggerakkan ventilator tambahan.
Pada 14 Februari 1961 Kapal ini tiba di Sevastopol dan pada 5 April 1962 kapal ini memulai ujicoba lautnya. Pada saat itu Kru Indonesia untuk kapal ini sudah terbentuk dan ada di atas kapal. Mekanik kapal ini Bapak Yatijan, di kemudian hari menjadi Kepala Departemen Teknik ALRI. Begitu juga banyak dari pelaut yang lain, di kemudian hari banyak yang mampu menduduki posisi penting.

Operasional

Datang ke Surabaya pada 5 Agustus 1962 dan dinyatakan keluar dari kedinasan AL Soviet pada 24 Januari 1963. Tidak pernah Uni Soviet menjual kapal dengan bobot seberat ini kepada negara lain kecuali kepada Indonesia. ALRI yang belum pernah mempunyai armada sendiri sebelumnya, belajar untuk mengoperasikan kapal-kapal canggih dan mahal ini dengan cara trial and error / coba-coba. Pada November 1962 tercatat sebuah mesin diesel kapal selam rusak karena benturan hirolis saat naik ke permukaan, sebuah destroyer rusak dan 3 dari 6 boiler KRI Irian rusak. Suhu yang panas dan kelembapan tinggi berefek negatif terhadap armada ALRI, akibatnya banyak peralatan yang tidak bisa dioperasikan secara optimal. Di lain pihak kehadiran kapal ini membuat AL Belanda secara drastis mengurangi kehadirannya di perairan Irian Barat.

Perbaikan

Pada 1964 Kapal Penjelajah ini sudah benar-benar kehilangan efisiensi operasionalnya dan diputuskan untuk mengirim KRI Irian ke Vladivostok untuk perbaikan. Pada Maret 1964 KRI Irian sampai di Pabrik Dalzavod. Para pelaut dan teknisi Soviet terkejut melihat kondisi kapal dan banyaknya perbaikan kecil yang seharusnya sudah dilakukan oleh para awak kapal ternyata tidak dilakukan. Mereka juga tertarik dengan sedikit modifikasi yang dilakukan ALRI yaitu mengubah ruang pakaian menjadi ruang ibadah (sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negara komunis).

Penugasan Kembali

Setelah perbaikan selesai pada Agustus 1964 kapal menuju Surabaya dengan dikawal Destroyer AL Soviet. Setahun kemudian (1965) terjadi pergantian pemerintahan. Kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Soeharto. Perhatian Soeharto terhadap ALRI sangat berbeda dibandingkan Sukarno. Kapal ini dibiarkan terbengkelai di Surabaya, bahkan terkadang digunakan sebagai penjara bagi lawan politik Soeharto.

Pemensiunan

Terdapat beberapa versi tentang riwayat KRI Irian setelah peristiwa G30S.
• Versi pertama menyebutkan bahwa pada tahun 1970, KRI Irian sudah sedemikian parah terbengkalai hingga mulai terisi air. Tidak ada orang yang peduli untuk menyelamatkan Kapal Penjelajah ini. Sehingga pada masa Laksamana Sudomo menjabat sebagai KSAL maka KRI Irian dibesituakan (scrap) di Taiwan pada tahun 1972 dengan alasan kekurangan komponen suku cadang kronis.
• Versi kedua, menurut Hendro Subroto, kapal perang yang dibuat hanya empat buah ini di jual ke Jepang set
elah persenjataannya dipreteli.

Kru Kapal

Perwira yang pernah bertugas di atas KRI Irian adalah:
1. Mantan Panglima TNI dan Menkopolkam di Kabinet Indonesia Bersatu, Laksamana (Purn.) Widodo AS yang saat itu menjabat sebagai Perwira Senjata pada tahun 1968.
2. Dr. Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama di Kabinet Pembangunan VI, sebagai Perwira Kesehatan di KRI Irian.
3. Dr. Kartono Mohamad, kakak kandung dari Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo. Ia pernah menjadi dokter di KRI Irian semasa bertugas di TNI-AL (1964-1975).


SUKA DUKA MENCARI INFORMASI BENDA SEJARAH
Saya berkungjung ke Museum Satria Mandala pada hari Sabtu, 28 Mei 2011. Duka saat mencari informasi adalah saya kesulitan untuk mencari benda apa saja yang belum digunakan teman sekelas saya agar tidak sama dan benda apa saja yang sudah digunakan. Dengan kunjungan ke museum, saya mendapat tambahan wawasan mengenai sejarah Indonesia, Dimana Indonesia pada masa lalu sangat bersikeras untuk mendapatkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Selasa, 24 Mei 2011

Saya dan Republik Demokratik Kongo


Republik Demokratik Kongo, (sebelumnya bernama Zaire antara tahun 1971 dan 1997), adalah sebuah Negara di Afrika bagian Tengah. Negara ini berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Sudan di sebelah utara; Uganda, Rwanda, Burundi, dan Tanzania di timur;Zambia dan Angola di selatan; dan Republik Kongo di Barat.
Bendera Republik Demokratik Kongo

Perang bersaudara berlangsung berkepanjangan di Kongo sejak 1998 yang menghancurkan serta menyeret seluruh wilayah tersebut dan negara-negara di sekitarnya. Aksi kekerasan tersebut telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian negara tersebut hingga akhirnya PBB mengambil alih permasalahan di negara itu dan memaksa Presiden Joseph Kabila menyelenggarakan Pemilihan Umum pada 30 Juli2006.
Kepala negara saat ini, Joseph Kabila (35) disebut-sebut merupakan calon terkuat dan sejumlah polling awal menyatakan Kabila akan menang dalam babak pertama pemilihan presiden. Kabila diperkirakan bisa mengalahkan 33 calon Presiden lain termasuk mantan pemimpin pemberontak Jean-Pierre Bemba, mantan pemberontak yang menjadi menteri keuangan dan dituduh melakukan kejahatan.
Bemba telah melancarkan perang sengit tujuh tahun sejak 1998. Pada puncaknya, konflik di bekas negara Zaire itu, telah menyeret setidaknya tujuh kekuatan militer asing dan, meskipun ada serangkaian kesepakatan perdamaian dan proses peralihan berjalan sejak 2003, pergolakan etnik dan penjarahan terus mewabah bagian timur negeri tersebut.
Calon lain meliputi keturunan tokoh kenamaan di negara bekas koloni Belgia itu, termasuk putra diktator lama Mobutu Seso Seko dan pahlawan kemerdekaan yang terbunuh Patrice Lumumba.
Lumumba menang dalam pemilihan demokratis terakhir di negeri tersebut pada malam menjelang kemerdekaan 1960, tapi ia didepak oleh Mobutu yang membuat negara itu identik dengan korupsi dan salah urus sampai dia digulingkan pada 1997.
Masyarakat internasional, yang mendanai pemilihan umum itu dan mengucurkan dana hampir setengah miliar Dolar AS, berharap pemungutan suara tersebut bukan hanya membawa kestabilan bagi negara Afrika tengah itu tapi juga memungkinkan Kongo menjadi kekuatan ekonomi regional.
Sumber mineral negeri tersebut, yang berlimpah, telah disedot untuk mendanai perang dan bagi keuntungan pribadi sementara kebanyakan warganya hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan tak-adanya prasarana bagi negara tersebut, yang besarnya menyamai Eropa Barat, Pemilu terbukti menjadi tantangan logistik. Di wilayah hutan terpencil, para petugas harus berjalan kaki berhari-hari untuk membawa kartu suara ke TPS.


Motto: Démocratie - Justice - Unité
(Perancis: "Demokrasi, Keadilan, Persatuan")
Lagu kebangsaan: Debout Congolais
Ibu kota
(dan kota terbesar)
Kinshasa
Bahasa resmi
Perancis
Pemerintahan
Republik (pemerintahan sementara)
 -
Presiden
Joseph Kabila
 - 
Perdana Menteri
Adolphe Muzito

Kemerdekaan
 - 
Date
Dari Belgia
30 Juni 1960 
Luas
 - 
Total
2,345,410 km2 (12)
 - 
Air (%)
5,3%
Penduduk
 - 
Perkiraan 2006
57.900.000 (23)
 - 
Sensus 1938
10.217.408 
 - 
Kepadatan
24/km2 (182)
PDB (KKB)
Perkiraan 2003
 - 
Total
US$35,79 miliar (77)
 - 
Per kapita
US$673 (162)
Mata uang
Franc (CDF)
Zona waktu
(UTC+1 dan +2)
 - 
Musim panas (DST)
 (UTC+1 dan +2)
Ranah Internet
.cd
Kode telepon
243



Lambang Republik Demokratik Kongo



KONDISI GEOGRAFIS
Republik Demokrasi Kongo, dahulu dikenal dengan nama Zaire. Negara ini terletak di Afrika tengah yang tepat berada di jantung Benua Afrika. Dahulunya negara ini di jajah oleh Belgia. Setelah merdeka pada tahun 1960, negara ini bernama Republik Demokrasi Kongo yang beribukota di Kinshasa.
1. Luas wilayah : 2.345.909 km2.
2. Letak astronomis : 50 LU-120 LS dan 110 BT-310 BT.
3. Letak geografis : Terletak di bagian tengah benua Afrika.
4. Batas-batas : utara adalah Republik Afrika Tengah dan Sudan. Timur adalah Uganda, Ruwanda, Tanzania, dan Burundi. Selatan adalah Angola dan Zambia. Barat adalah Angola dan Samudera Atlantik.
5. Bentang alam : Republik Demokrasi Kongo berada di aliran sungai Zaire dan anak sungainya (4.666 m) yang mempunyai banyak air terjun yang sangat baik untuk PLTA. Proyek PLTA yang berada di dekat Kinshasa adalah PLTA terbesar

di Bumi. Di sebelah barat adalah daerah pantai sempit yang di apit oleh Angola dan Republik Kongo. Di sebelah timur ada beberapa danau seperti D. Tanganyika, D. Kifu, dan D. Albert. Di antara D. Edward dan D. Albert terdapat G. Rowenzori (5.120 m). Jenis tumbuhannya adalah hutan hujan tropis yang semakin ke selatan menjadi Sabana.
6. Iklim : Tropis.

KONDISI PENDUDUK
Republik Demokratik Congo (RDC) negara dengan luas seperempat Amerika Serikat, berbatasa dengan banyak negara, antara lain Angola, Burundi, Rwanda, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Sudan, Tanzania, Udanda dan Zambia. Luas wilayah RDC adalah 2.345.410 km2, beriklim unik: tropis, panas dan kering di sebelah utara, serta dingin di daerah selatan (pegunungan). Negara ini mempunyai penduduk cukup besar, yaitu sekitar 60.085.804 jiwa, dengan angka pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per-tahu, angka kelahiran rata 44,38 per-1000 dan angka kematian 14,43 per-1000. Ada sekitar 200 etnik di RDC, namun suku terbesar adalah Bantu yang terbagi dalam sub suku Mongo, Luba, Kongo dan Mangbetu-Azande. Mayoritas masyarakat RDC penganut agama Katholik (50%), Protestan (25%), Kimbanguist (10%) dan Islam menjadi minoritas (10%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping ada bahasa lokal Lingala, Kiswahili, Kikongo dan Tshiluba.

KONDISI EKONOMI
Potensi kekayaan yang sangat luas, khususnya suberdaya alam. Namun potensi kekayaan ini berubah drastis sejak tahun 1980-an, karena korupsi dan sebagainya. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi perang saudara yang dimulai sejak tahun 1998 dan menewaskan tidak kurang 3,5 juta penduduk (perang, kelaparan dan penyakit). Perang juga mengakibatkan ketidakpastian hukum dalam bisnis, akibatnya banyak investor yang hengkang keluar RDC. Sumberdaya manusia yang bermutu pun semakin banyak yang lari ke luar negeri, dan akibatnya fatal bagi RDC. Akhirnya pada tahun 2002, IMF dan Bank Dunia turun tangan memberikan bantuan, dan pemerintah RDC harus mengimplementasikan dalam bentuk reformasi ekonomi.
Jumlah angkatan kerja cukup banyak, sebagian besar (55%) diserap pertanian, industri 11% dan jasa 34%. Ekonomi tumbuh sebesar 7,5%, namun inflasi mencapai 14%, dan income per-kapita hanya mencapai US $ 700,-. Hasil tambang RDC meliputi berlian, emas, perak, seng, kobalt, tembaga, minyak, uranium, timah, mangaan, batubara, kayu dan hidropower. Sedangkan hasil pertaniannya berkisar pada kopi, gula, minyak nabati (sawit), karet, teh, tapioca, pisang, jagung, buah-buah dan produk kayu. Komoditi yang diekspor meliputi berlian, tembaga, minyak sawit, kopi dan kobalt, senilai US $ 1,417 milyar, dengan negara tujuan Belgia, Finlandia, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, mesin untuk pertambangan, peralatan transportasi dan produk minyak senilai US $ 933 juta, berasal dari Afrika Selatan, Belgia, Perancis, Kenya, Amerika Serikat dan Jerman (Indonesia belum termasuk di dalamnya). Mata uang RDC adalah Congolese France (CDF) dengan nilai US $1,- = 401,04 CDF.




BENTUK KERJASAMA DENGAN INDONESIA
Bentuk kerjasama Rep. Demokrasi Kongo dengan Indonesia :
a. Kedua Negara telah lama menjalin hubungan diplomatik.
b. Indonesia telah banyak membantu Rep. Demokrasi Kongo dalam pada awal kemerdekaannya.
c. Melalui PBB Indonesia mengirimkan pasukan Garuda II dan III, untuk menertibkan keamanan semasa perang saudara.
d. Kedua negara bekerjasama dalam forum GNB.
e. Keduanya saling mengadakan kunjungan antar kepala negara

ISLAM DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO 
Republik Demokratik Congo (Democratic Republic of the Congo), dahulu terkenal dengan sebutan Zaire, Congo Free State, Belgian Congo, Congo/Leopoldville atau Congo/Kinshasa, untuk selanjutnya disingkat RDC. Ada dua hal yang membuat negara ini ‘mendunia’, yaitu ketika Joseph Mobutu Sese Seko menguasai negara tersebut secara diktator selama kurang lebih 32 tahun (1966-1998) dan ketika petinju legendaris Muhammad Ali bertarung melawan George Foreman pada tahun 1974, di mana Muhammad Ali memenangkan pertarungan keras tersebut.
RDC negara dengan luas seperempat Amerika Serikat, berbatasa dengan banyak negara, antara lain Angola, Burundi, Rwanda, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Sudan, Tanzania, Udanda dan Zambia. Luas wilayah RDC adalah 2.345.410 km2, beriklim unik: tropis, panas dan kering di sebelah utara, serta dingin di daerah selatan (pegunungan). Negara ini mempunyai penduduk cukup besar, yaitu sekitar 60.085.804 jiwa, dengan angka pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per-tahu, angka kelahiran rata 44,38 per-1000 dan angka kematian 14,43 per-1000. Ada sekitar 200 etnik di RDC, namun suku terbesar adalah Bantu yang terbagi dalam sub suku Mongo, Luba, Kongo dan Mangbetu-Azande. Mayoritas masyarakat RDC penganut agama Katholik (50%), Protestan (25%), Kimbanguist (10%) dan Islam menjadi minoritas (10%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping ada bahasa lokal Lingala, Kiswahili, Kikongo dan Tshiluba.
Ekonomi
RDC sebenarnya sebuah negara yang dikaruniai Allah s.w.t. potensi kekayaan yang sangat luas, khususnya suberdaya alam. Namun potensi kekayaan ini berubah drastis sejak tahun 1980-an, karena korupsi dan sebagainya. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi perang saudara yang dimulai sejak tahun 1998 dan menewaskan tidak kurang 3,5 juta penduduk (perang, kelaparan dan penyakit). Perang juga mengakibatkan ketidakpastian hukum dalam bisnis, akibatnya banyak investor yang hengkang keluar RDC. Sumberdaya manusia yang bermutu pun semakin banyak yang lari ke luar negeri, dan akibatnya fatal bagi RDC. Akhirnya pada tahun 2002, IMF dan Bank Dunia turun tangan memberikan bantuan, dan pemerintah RDC harus mengimplementasikan dalam bentuk reformasi ekonomi.
Jumlah angkatan kerja cukup banyak, sebagian besar (55%) diserap pertanian, industri 11% dan jasa 34%. Ekonomi tumbuh sebesar 7,5%, namun inflasi mencapai 14%, dan income per-kapita hanya mencapai US $ 700,-. Hasil tambang RDC meliputi berlian, emas, perak, seng, kobalt, tembaga, minyak, uranium, timah, mangaan, batubara, kayu dan hidropower. Sedangkan hasil pertaniannya berkisar pada kopi, gula, minyak nabati (sawit), karet, teh, tapioca, pisang, jagung, buah-buah dan produk kayu.
Komoditi yang diekspor meliputi berlian, tembaga, minyak sawit, kopi dan kobalt, senilai US $ 1,417 milyar, dengan negara tujuan Belgia, Finlandia, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, mesin untuk pertambangan, peralatan transportasi dan produk minyak senilai US $ 933 juta, berasal dari Afrika Selatan, Belgia, Perancis, Kenya, Amerika Serikat dan Jerman (Indonesia belum termasuk di dalamnya). Mata uang RDC adalah Congolese France (CDF) dengan nilai US $1,- = 401,04 CDF.
Sejarah Pemerintahan
RDC beribukota di KINSHASA (d/h Leopoldville), terbagi dalam 10 propinsi, memperoleh kemerdekaan dari Belgia pada tanggal 30 Juni 1960. Gelombang migrasi pertama di RDC dilakukan oleh suku Bantu Negro (Bantu/Pygmi) pada tahun 200 sampai dengan tahun 500 sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Masehi, pembentukan masyarakat Bantu mulai berkembang di tepian sungai Lualaba di propinsi Katanga, membentuk suatu kebudayaan yang dikenal dengan Upemba, dan pada akhirnya membentuk kerajaan Luba sampai dengan abad ke-15. Kerajaan Luba digantikan dengan kerajaam Kuba, konfederasi dari suku Luba, Leele dan Wongo hingga abad ke-19. Pada abad ke-15 di sekitar RDC juga berdiri Kerajaan Kongo yang meliputi sebelah barat daya RDC, Anggola dan Kabinda. Kerajaan ini memanfaatkan jual beli budak kepada bangsa-bangsa Eropa.
Bangsa Eropa mulai melakukan eksplorasi di RDC pada tahun 1870 hingga tahun 1960. Orang Eropa pertama yang berjasa memetakan RDC adalah Henry Morton Stanley (Inggris) yang mendapatkan sponsor dari Raja Leopold II (Kerajaan Belgia). Pada akhirnya Belgia berhasil menguasai RDC dan memberikan nama Congo Free State. Oleh pemerintah kolonial Belgia, pada tahun 1908, nama Congo Free State diganti menjadi Belgian Congo. Belgia berjasa besar bagi RDC karena berhasil mengusir Italia, namun Belgia juga secara licik menjual hasil tambang ‘uranium’ RDC kepada Amerika Serikat, dan urnium tersebut diproses menjadi bom atom oleh Amerika Serikat, selanjutnya pada Perang Dunia Kedua tahun 1945 berhasil digunakan untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki Jepang.
Berkat kegigihan dan perjuangan bangsa RDC untuk memisahkan diri dari Belgia, maka pada tanggal 30 Juni 1960, RDC memperoleh kemerdekaannya, Joseph Kasavubu diangkat sebagai Presiden, sedangkan Patrice-Emery Lumumba (dari suku Batatele) diangkat sebagai Perdana Menteri. Beliaulah yang berjuang secara gigih untuk memerdekakan RDC, dan menamakan RDC sebagai Congo-Leopoldville. Namun pada perjalanan kariernya, Lumumba menjadi perpanjangan tangan (boneka) Uni Soviet, sehingga sangat dibenci Amerika Serikat. Akhirnya Lumumba disingkirkan. Krisis semakin menjadi-jadi, sehingga tentara multinasional PBB diminta untuk menjadi penengah. Tahun 1964, Morse Tshombe diangkat sebagai Perdana Menteri, dan pada pemilu tahun 1965, Tshombe memenangkannya, namun dikudeta oleh Letnan Jendral Mobutu Sese Seko, pada gilirannya, beliau mendeklarasikan diri sebagai Presiden. Setelah Mobutu berkuasa, RDC relativ damai dan stabil. Namun Mobutu dianggap oleh HAM internasional banyak melakukan praktek pelanggaran hak azasi manusia, repressif dan korup (mempunyai account di bank Swiss sebesar US $ 4 milyar). Pada awal kekuasaannya, Mobutu merubah nama ibukota Leopoldville menjadi Kinshasa, Stanleyville menjadi Kisangani dan Elisabethville menjadi Lubumbashi. Dan puncaknya pada tahun 1971, Mobutu merubah Congo-Leopoldville menjadi Republic of Zaire. Seiring hancurnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, Mobutu melonggarkan pemerintahannya, dan para opposan mendesak adanya perubahan.
Pada tahun 1996, meletuslah perang saudara di Zaire yang menewaskan jutaan manusia, dan pada akhirnya pemberontak yang dikomandoi oleh Laurent-Disire Kabila berhasil menguasai Zaire pada bulan Mei 1997, dan merubah nama Republik of Zaire menjadi Democratic Republic of The Congo. Walaupun Laurent Kabila telah berkuasa, pemberontakan tetap terjadi di RDC. Para pemberontak didukung oleh Rwanda, Burundi dan Uganda, pada akhirnya mengundang pasukan penjaga perdamaian yang beranggotakan Zimbabwe, Angola, Namibia, Chad dan Sudan. Pada tanggal 10 Juli 1999 diadakan gencatan senjata, dan berakhirlah perang saudara di RDC. Pada bulan Januari 2001, Laurent Kabila dibunuh oleh pengawalnya sendiri, dan putra beliau Joseph Kabila diangkat sebagai Presiden RDC yang baru. Pada pemerintahan Joseph Kabila, perdamaian benar-benar terjadi, karena adanya pembagian kekuasaan dan perdamaian dengan negara-negara tetangga, yaitu Rwanda, Burundi dan Uganda.
Perkembangan Islam di RDC
Tidak berbeda dengan Islam di Republik Afrika Tengah (RAT), ditengarai Islam masuk di RDC bersamaan ketika Islam masuk Chad pada abad ke-11, tepatnya ketika Kerajaan Kanem-Borno di bawah kendali Umme-Jilmi pada tahun 1085-1097. Tidak ada petunjuk khusus, siapa yang berjasa membawa Islam ke RDC. Namun secara diam-diam, Islam berkembang secara signifikan di RDC. Gamal Lumemba Ramadan, Ketua Congolese National Islamic Council (CNIC) menyatakan bahwa Islam di RDC sebenarnya berjumlah 25% (15 juta) dari seluruh penduduk RDC yang berjumlah sekitar 60 juta orang, bukan 10% sesuai data resmi pemerintah maupun CIA Worldfact.
Ummat Islam di RDC tetap berjuang untuk menegakkan Islam agar tetap diakui dan diperhatikan pemerintah, mereka menginginkan kondisi hidup yang lebih baik. Walaupun mempunyai pengikut besar, sampai saat ini, pemerintah RDC secara resmi belum mengakui keberadaan dan keikutsertaan mereka dalam peran-peran penting, baik dalam pemerintahan atau negara. Di level pemerintahan pun, ummat Islam di RDC sungguh menderita. Bayangkan dari 450 anggota parlemen hanya diwakili 3 (tiga) orang Islam. Tidak ada satu pun di RDC ummat Islam yang direkrut menjadi menteri, deputi menteri atau pun gubernur (bandingkan dengan Indonesia).
Ummat Islam di RDC masih kekurangan masjid, sekolah-sekolah Islam dan al-Qur’an. Tentu saja hal ini menjadi alarm bagi ummat Islam di seluruh dunia. Di Kinshasa hanya terdapat 14 masjid kecil untuk melayani 950.000 jama’ah, dan di seluruh negara hanya mempunyai 380.000 masjid dengan luas wilayah lebih dari 2 juta km2.
Yang paling menakutkan bagi para pemimpin Islam di RDC adalah, karena ketiadaan sekolah-sekolah Islam, maka mereka terpaksa menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah-skeolah Katholik dan Kristen, dan tentu saja ini membahayakan keimanan mereka. Lebih menggenaskan lagi, karena ketiadaan biaya, mereka drop-out pada tingkat SLTP. Oleh karena itu, Ramadan menghimbau negara Arab dan masyarakat Islam internasional agar segera turun tangan memberikan bantuan.
Ketika terjadi perang saudara tahun 1997-1998, banyak orang Islam yang terbunuh, apalagi ketika Rwanda, Burundi dan Ugunda menyerbu RDC, mereka banyak membunuh orang-orang Islam.
Tokoh muslim lain di RDC adalah Al-Haj Mudilo-wa-Malemba S. (mantan Ketua CNIC) menyatakan bahwa dalam situasi sulit, ummat Islam di RDC masih bersemangat untuk menjadi khatib, guru dan pembimbing Islam bagi mereka yang membutuhkan. Malemba juga menyatakan bahwa ummat Islam di RDC tidak mempunyai fasilitas infrastruktur secara mandiri seperti rumah sakit, pusat kesehatan, universitas, maupun sekolah-sekolah.

Dalam kesempatan konperensi pers, baik Malemba maupun Ramadan menyatakan bahwa secercah harapan masih diperoleh oleh ummat Islam di RDC. Secercah harapan tersebut diperoleh dari mass media, baik Radio maupun Televisi. Radio yang berjumlah 23 stasiun maupun televisi yang berjumlah 5 stasiun memberikan kesempatan (mengizinkan) seluas-luasnya kepada ummat Islam untuk menyampaikan dan mengembangkan dakwahnya di seluruh RDC.

ISLAM DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO, telah dimuat di majalah Amanah No. 70 TH XIX Februari 2006 / Dzulhijjah 1426 H – Muharram 1427 H






Sumber: