Tampilkan postingan dengan label Abi Rafdi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abi Rafdi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Saya dan Negara Ghana

Republik Ghana adalah sebuah negara di Afrika Barat yang berbatasan dengan Pantai Gading di sebelah barat, Burkina Faso di utara, Togo di timur, dan Teluk Nugini di selatan. Luas wilayahnya hampir dua kali luas pulau Jawa. Ghana merupakan salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia di samping penghasil alumunium terbesar di Afrika. Dahulu bernama Pesisir Emas, nama "Ghana" berasal dari Kekaisaran Ghana (walaupun wilayahnya tidak seluas Ghana saat ini).
Sebelum zaman penjajahan, Ghana diduduki oleh beberapa kekaisaran kuno, termasuk kekaisaran pedalaman di Ashanti dan pelbagai negara Fante di sepanjang pantai. Perdagangan dengan negara-negara Eropa berkembang maju setelah hubungan dengan pihak Portugis pada abad ke-15
Lokasi Negara Ghana

Bercerita soal Ghana boleh dikata tak dapat lepas dari kiprah Kwame Nkrumah. Kondisi negeri itu sekarang tidak bisa dilepaskan dari perjuangannya. Betapa tidak. Nkrumah muda sudah berjuang melawan kolonialisme yang mencengkeram negaranya. Pria kelahiran 21 September 1909 itu berayahkan seorang pandai emas. Sebagai guru, tahun 1935 ia melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Lewat empat tahun, ia lulus dengan dua gelar magister, lalu melanjutkan pendidikan di Inggris. Selama kuliah pemuda berpaham sosialis itu sudah aktif dalam berbagai organisasi seperti Pan African Congress. 

Tidak mengherankan ketika tahun 1947, kembali ke negaranya, ia diminta bergabung dalam United Gold Coast Convention (UGCC) sebagai sekretaris jenderal. Partai yang terdiri atas kaum cendekia ini punya misi memperjuangkan peralihan secara berangsur-angsur untuk mencapai pemerintahan sendiri dan memperoleh kemerdekaan.

Namun, Nkrumah yang beraliran revolusioner tidak tahan melihat gaya konservatif UGCC. Ia pun memisahkan diri untuk membentuk Conventional People’s Party (CPP) yang mencanangkan satu bentuk pemerintahan mandiri. Sejak itu ia sering bergesekan dengan penguasa kolonial. Namun, dengan tetap berpegang pada prinsip antikekerasan, Nkrumah meraih simpati masyarakat. Toh, ia tersandung juga saat menganjurkan pemogokan nasional tahun 1950, sampai ditahan penguasa kolonial dan dijebloskan ke bui.

Peristiwa itu tak menciutkan nyali para pendukung CPP. Buktinya, tahun 1951, CPP memenangkan pemilihan umum badan legislatif. Terpaksalah, gubernur Inggris waktu itu, Sir Charles Arden-Clarke, mengalah. Ia membebaskan Nkrumah dan mengundangnya untuk menyusun pemerintahan baru. Begitu kisahnya sehingga setahun kemudian Nkrumah menjadi perdana menteri asal Afrika pertama dalam Persemakmuran. 

Lalu ketika pemilihan umum digelar, ia berhasil memenangkannya tahun 1954 dan 1956. Saat itu CPP masih kooperatif dengan Inggris. Namun, tanggal 3 Agustus 1956, Sidang Dewan Legislatif dengan suara bulat memutuskan untuk memperoleh kemerdekaan penuh. Tanggal 6 Maret 1957 menjadi hari bersejarah bagi Ghana ketika koloni Inggris ini menyatakan kemerdekaan dengan bentuk negara re-publik. Nama Ghana sendiri dipilih dari nama sebuah Kerajaan di abad IV yang terletak di hulu Sungai Niger. Secara aklamasi Kwame Nkrumah dipilih sebagai presiden pertama Ghana. 

Rupanya kemerdekaan Ghana menginspirasi negara Afrika lain untuk mendapatkan kemerdekaan. Barangkali ini tak lepas dari gaung Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 yang menggugah rakyat Asia-Afrika keluar dari belenggu penjajahan. 

Nkrumah berkembang menjadi seorang pemimpin besar, bukan saja bagi Ghana, tetapi juga bagi seluruh Afrika. Pendiriannya teguh untuk ikut mengentaskan negara-negara lain Afrika. Ia berperan dalam pembentukan organisasi Persatuan Afrika tahun 1963. Ia juga menyokong politik Nonblok dalam menghadapi hegemoni Barat. 

Di dalam negeri pun energi Nkrumah dapat dirasakan. Ia membangun kota pelabuhan Tema, dengan proyek-proyek industri, antara lain proyek peleburan emas. Secara bersamaan dibangun sebuah proyek ambisius Bendungan Akosombo untuk pembangkit listrik tenaga air. 

Sayangnya, strategi ekonomi Nkrumah tidak membumi, karena terlalu mahal. Maunya membangun banyak proyek mercusuar yang prestisius, yang secara ekonomis sebenarnya tidak menguntungkan. Seperti Gedung Pusat Konferensi yang megah, lapangan Black Star yang monumental, juga Wisma Negara. Apalagi tahun 1960 harga biji coklat di pasaran jatuh. Ghana pun terbelit utang ratusan juta dolar AS.

Situasi ekonomi Ghana menyuram, ketidakpuasan mencuat menjadi masalah politik. Namun, Nkrumah bergeming, bahkan menepuk dada untuk meraih reputasi internasional. Rakyat yang sebelumnya mendukung, berbalik menggerogoti pemerintahannya. 

Tak terduga, tahun 1963 Ghana menjurus ke arah diktaktor dengan partai tunggal dan mengangkat Nkrumah menjadi presiden seumur hidup. Untuk menekan oposisi, Nkrumah memenjara sejumlah lawan politiknya. Belum puas, ia pun menghapus kebebasan pers dan membentuk pasukan pengawal sendiri. Semua itu dilakukan atas nama undang-undang darurat negara. 

Sejak itu negara-negara Barat yang dulu mendukungnya mulai melancarkan kritik soal maraknya praktik korupsi. Nkrumah lantas membawa Ghana di bawah pengaruh blok Uni Sovyet. Ini membuat Ghana makin terpuruk. 

Seperti tak dapat dihindari lagi, pada 24 Februari 1966, saat ia bertandang ke Beijing, Cina, militer melakukan kup tanpa pertumpahan darah. Mantan orang kuat itu pun terpaksa melewati tahun-tahun sisa hidupnya di pengasingan, menjadi tamu Presiden Sekou Toure di Guinea, sampai meninggalnya pada tanggal 27 April 1972, di usia 63 tahun, di Rumania, karena kanker.

Walau gagal memimpin Ghana sampai akhir hayat, Dr. Kwame Nkrumah masih dihormati sebagai perintis dan pejuang kemerdekaan negara-negara Afrika dan salah satu pendiri Organisasi Persatuan Afrika. 

Untuk menghormati jasanya, di tengah Kota Accra, ibukota Ghana, terdapat beberapa bangunan monumental yang menarik banyak wisatawan. Salah satunya Lapangan Merdeka dengan Monumen Kemerdekaan. Monumen ini berwujud gerbang kokoh yang dibangun tahun 1957. Di dinding coklat susunya tertulis “Freedom and Justice”. Pada puncak bangunan terdapat sebuah bintang berwarna hitam. Sementara di samping bangunan terdapat obor tak kunjung padam, yang disulut pertama kali oleh Nkrumah tahun 1961.
Lapangan Merdeka diapit beberapa bangunan besar, yakni stadion, Wisma Negara, Pusat Konferensi Kwame Nkrumah, dan Lapangan Parade yang dikenal sebagai “Black Star Square”, dengan kapasitas 30.000 tempat duduk.

Di Kota Accra juga terdapat taman luas yang di tengahnya berdiri bangunan musoleum Dr. Kwame Nkrumah. Di sinilah jenazah Nkrumah dimakamkan. Di atas makam dibangun monumen berupa struktur kolom-kolom beton menjulang tinggi berlapis marmer. Di depan makam terdapat patung Nkrumah, sedangkan di belakangnya ada museum yang mengisahkan sejarah kehidupan Nkrumah.

Dua bangunan monumental itu amat impresif, mengingatkan betapa luhur perjuangan kemerdekaan Nkrumah, kendati akhir hidupnya sangat tragis. Melihat perjuangan Nkrumah, tak salah kalau dikatakan perjalanan hidupnya mirip dengan Bung Karno, Presiden pertama RI.
Ghana menajdi negara Afrika pertama yang merdeka dan menajdi anggota PBB. Pada tahun 2005, jumlah penduduknya mencapai 21.029.853.

Republik Ghana dinamakan menurut Kekaisaran Ghana zaman pertengahan di Afrika Barat. Nama asli kekaisaran ini adalah Ouagadouogu. Ghana merupakan gelar raja yang memerintah kerajaan terkait. Negeri tersebut diperintah Sundiata pada tahun 1240, dan telah digabungkan ke Kekaisaran Mali yang lebih besar. (Kekaisran Mali mencapai puncak kejayaannya di bawah Mansa Musa sekitar tahun 1307.)

Hingga bulan Maret 1957, Ghana dikenal di seantero dunia sebagai Pesisir Emas. Bangsa Portugis yang tiba di Ghana pada abad ke-15 menemui banyak emas di antara sungai Ankobra dan Volta lalu menamakan tempat itu Mina, yang berarti "tambang". Pesisir Emas kemudian diterima oleh penjajah Inggris. Pihak Perancis yang tertarik dengan barang hiasan yang dipakai penduduk pesisir menamakan kawasan di barat Ghana sebagai Pantai Gading.

Sebelum tahun 500, kebanyakan kawasan tengah Afrika sub-Sahara menyaksikan peluasan pertanian. Pertanian bermula di kawasan paling di selatan Gurun Sahara, lalu terbangunlah perkampungan. Menjelang akhir zaman klasik, kerajaan serantau yang lebih besar didirikan di Afrika Barat, salah satunya ialah Kekaisaran Ghana yang terletak di utara negara Ghana zaman sekarang. Setelah tumbang pada awal abad ke-13, suku Akan pindah ke selatan lalu mendirikan beberapa negeri termasuk kekaisaran Akan agung pertama bernama Bono yang kini dikenal sebagai Brong Ahafo di Ghana. Negeri-negeri Akan yang menyusul seperti persekutuan Ashanti dan negeri-negeri Fante dipercaya muncul dari wilayah asli Bono di Bono Manso. Kebanyakan kawasannya disatukan di bawah Kekaisaran Ashanti hingga abad ke-16. Kerajaan Ashanti bermula sebagai satu rangkaian yang longgar lalu berangsur-angsur menajdi kerajaan terpusat dengan birokrasi yang maju berpusat di Kumasi.
Penduduk Ghana
Secara geografis, Ghana kuno terletak kira-kira 500 mil dari utara Ghana kini, dan menduduki kawasan antara Sungai Senegal dan Nigeria. Sebagian penduduk Ghana modern adalah keturunan dari nenek moyang yang berhubungan dengan Ghana zaman pertengahan. Hal tersebut dapat dilacak hingga bangsa Mande dan Volta di Ghana Utara—Mamprussi, Dagomba dan Gonja. Bukti anekdot mengaitkan suku Akan dengan kekaisaran ini. Bukti tersebut terletak pada nama-nama seperti Danso yang dikuasai suku Akan di Ghana zaman sekarang dan Mandinka di Senegal/Gambia yang kuat pertaliannya dengan kekaisaran ini. Ghana juga merupakan situs Kekaisaran Ashanti yang mungkin sekali negeri kulit hitam yang paling maju dalam sejarah Afrika sub-Sahara. Konon pada masa keemasannya, Raja Ashanti mampu mengerahkan 500.000 prajurit.
Pada tahun 1481, Raja João II dari Portugal menugaskan Diogo d'Azambuja untuk membangun Kastil Elmina yang lengkap pada tahun berikutnya. Tujuan mereka adalah untuk berdagang emas, gading dan budak, lalu menyatukan kekuasaan mereka yang berkembang di rantau ini. Mereka juga disertai Belanda pada tahun 1598, di mana Belanda mendirikan kubu di Komenda dan Kormantsi. Pada tahun 1637 Belanda merebut Kastil Elmina dari Portugis dan Axim pada tahun 1642 (Kubu St. Anthony). Menjelang pertengahan abad ke-17, pedagang Eropa lain seperti Inggris, Denmark dan Swedia juga turut bergabung. Di sepanjang garis pantai Ghana didirikan 30 buah kubu dan kastil oleh saudagar Belanda, Britania dan Denmark. Pesisir Emas menjadi tumpuan terbesar arsitektur militer Eropa di luar Eropa. Menjelang akhir abad ke-19, hanya Belanda dan Britania yang masih menetap di situ dan setelah Belanda mundur pada tahun 1874, dan Britania menjadikan Pantai Emas sebagai protektorat.
Bendera Ghana
Negara-negara kuno Afrika sebelumnya menjalin pelbagai persekutuan dengan penjajah dan dengan satu sama lain, lalu tercetusnya Perang Ashanti-Fante pada tahun 1806, dan juga perjuangan Kekaisaran Ashanti menentang British. Gerakan menuju berakhirnya penjajahan bermula pada tahun 1946, dan konstitusi pertama kawasan itu disahkan pada tahun 1951.
Dibentuk dari penggabungan Pesisir Emas, Kekaisaran Ashanti, dan daerah kepercayaan Togoland Britania oleh plebisit yang didukung Perserikatan Bangsa-bangsa, Ghana menjadi negara sub-Sahara pertama yang mendapatkan kemerdekaan. Kwame Nkrumah, pendiri dan presiden pertama negara Ghana modern, tak hanya pimpinan anti-kolonial Afrika pertama namun juga seseorang yang memimpikan Afrika bersatu yang tidak terjebak ke neo-kolonialisme. Ialah kepala negara pertama di Afrika yang menyerukan Pan-Afrikanisme, gagasan yang didapatnya selama belajar di Universitas Lincoln di Pennsylvania (Amerika Serikat), pada saat itu ketika Marcus Garvey terkenal akan "Gerakan Kembali ke Afrika". Ia menggabungkan mimpi Marcus Garvey dan sarjana Afrika-Ameriks terkenal W.E.B. Du Bois ke dalam pembentukan Ghana modern. Asal kebebasan dan keadilan, kesetaraan dan pendidikan bebas bagi sesama tanpa memandang suku, agama atau kepercayaan berasal dari implementasi Osagyefo Dr. Kwame Nkrumah atas Pan-Afrikanisme.
Nkrumah didepak oleh kudeta militer pada tahun 1966. Diduga bahwa kejadian ini didukung oleh CIA;. Serangkaian kudeta berakhir dengan naiknya Let. Jerry Rawlings pada tahun 1981. Perubahan itu menyebabkan tertundanya konstitusi pada tahun 1981 dan pelarangan ParPol. Konstitusi baru yang memulihkan multipartai diumumkan secara resmi pada tahun 1992, dan Jerry John Rawlings diangkat sebagai presiden dalam PemilU yang JurDil di tahun itu dan kembali memenangkan PemilU pada tahun 1996 untuk masa jabatannya yang kedua. Konstitusi melarangnya ikut PemilU untuk yang ketiga kalinya. Pada tanggal 6 Maret 2007, Ghana memperingati hari kemerdekaannya yang ke-50.
Geografi
Pembagian Wilayah Negara Ghana
Ghana terletak di Teluk Guinea, hanya beberapa derajat utara Equator. Garis pantainya kebanyakan rendah, berpasir dengan tanah datar dan dipotong oleh beberapa sungai.
Iklimnya adalah tropis. Danau Volta, danau buatan-manusia terbesar di dunia, terletak di timur Ghana.
Ibu kotanya adalah Accra.
Kawasan dan distrik
Ghana terbagi atas 10 kawasan administratif, dan dibagi lagi atas 138 distrik. Kawasan tersebut adalah:
  • Ashanti, ibukota Kumasi
  • Brong Ahafo, ibukota Sunyani
  • Tengah, ibukota Cape Coast
  • Timur, ibukota Koforidua
  • Accra Raya, ibukota Accra

  • Utara, ibukota Tamale
  • Timur Hulu, ibukota Bolgatanga
  • Barat Hulu, ibukota Wa
  • Volta, ibukota Ho
  • Barat, ibukota Sekondi-Takoradi

Kota utama
Kota lainnya termasuk:
  • Asamankese
  • Bolgatanga
  • Cape Coast
  • Elmina
  • Ho
  • Kumasi
  • Nsawam
  • Takoradi
  • Tamale
  • Tarkwa
  • Tema
Pemerintahan dan politik
Menurut Indeks Negara Gagal 2009, Ghana ditempatkan pada urutan ke-53 sebagai negara gagal di dunia dan yang ke-2 di Afrika setelah Mauritius. Ghana menduduki peringkat ke-124 dari 177 negara dalam indeks tersebut. Ghana juga menduduki urutan ke-7 dari 48 negara Afrika sub-Sahara dalam Indeks Pemerintahan Baik Ibrahim 2008 yang didasarkan pada data tahun 2006. Indeks Ibrahim adalah ukuran komprehensif atas pemerintahan Afrika, didasarkan pada sejumlah variabel yang berbeda yang mencerminkan keberhasilan yang digunakan pemerintah untuk menyampaikan kebajikan politik kepada warganegaranya.
Pemerintahan: Ghana dibentuk sebagai negara demokrasi parlementer pada saat merdeka di tahun 1957, diikuti oleh pemerintahan militer dan sipil yang silih berganti. Pada bulan Januari 1993, pemerintahan militer memberikan jalan kepada Republik Keempat setelah pemilu presiden dan parlemen pada akhir tahun 1992. Konstitusi tahun 1992 membagi kekuasaan di antara presiden, parlemen, kabinet, dewan negara dan mahkamah peradilan independen. Pemerintah dipilih dengan hak pilih universal; namun, badan legislatif sangat malaportif, karena distrik-distrik yang berpenduduk sedikit menerima lebih banyak perwakilan per orang daripada di distrik yang berpenduduk banyak.
Pembagian administratif: Terdapat 10 kawasan administratif yang terbagi menjadi 138 distrik, masing-masing memiliki perwakilan distrik. Di bawah distrik terdapat berbagai jenis dewan, termasuk 58 dewan kota atau wilayah, 108 dewan zona, dan 626 dewan wilayah. 16.000 komite unit di tingkat terendah.
Sistem peradilan: Hukum di Ghana didasarkan pada hukum umum Britania Raya, hukum adat (tradisional), dan konstitusi tahun 1992. Hirarki pengadilan terdiri atas Mahkamah Agung (lembaga peradilan tertinggi), Mahkamah Banding, dan Mahkamah Kehakiman Tinggi. Di bawah badan-badan tersebut terdapat mahkamah keliling, magistrat, dan tradisional. Lembaga luar pengadilan termasuk pengadilan publik. Sejak kemerdekaan, peradilan relatif independen, hal itu terus berlanjut hingga Republik Keempat. Peradilan yang lebih rendah ditegaskan dan disusun kembali di masa Republik Keempat.
Politik: Partai politik dilegalkan pada pertengahan tahun 1992 setelah kekosongan 10 tahun. Banyak partai politik di masa Republik Keempat; namun yang terbesar adalah Kongres Demokrasi Nasional yang memenangkan pemilu presiden dan parlemen pada tahun 1992, 1996 dan 2008; Partai Patriotik Baru adalah partai oposisi utama yang memenangkan pemilu tahun 2000 dan 2004; Konvensi Nasional Rakyat, dan Partai Rakyat Konvensi adalah penerus partai Nkrumah yang bernama sama.
Kofi Annan
Hubungan luar negeri: Sejak kemerdekaan, Ghana secara sungguh-sungguh menganut paham non-blok dan Pan-Afrikanisme, yang diperkenalkan secara dekat oleh presiden pertama, Osagyefo Dr. Kwame Nkrumah.
Banyak diplomat dan politikus Ghana yang memegang jabatan penting dalam organisasi internasional. Contohnya adalah diplomat dan mantan SekJend. PBB, Kofi Annan, hakim Pengadilan Kriminal Internasional Akua Kuenyehia, dan mantan presiden Jerry Rawlings, yang diangkat sebagai ketua Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat.
Ekonomi
Diberkati dengan kekayaan alam yang melimpah, Ghana memiliki produksi dua kali per kapita di antara negara miskin di Afrika Barat. Meski demikian, Ghana tetap agak bergantung pada perdagangan dan bantuan luar negeri juga aktivitas investasi dari penduduk Ghana yang bekerja di luar negeri. Sekitar 28% penduduk tinggal di bawah garis kemiskinan internasional (US$1,25 sehari), mayoritas adalah wanita Ghana dari kawasan utara dan hulu yang miskin dan secara politis terpinggirkan dan menurut Bank Dunia, pendapatan per kapita Ghana telah meningkat 2 kali lipat selama 45 tahun. Ghana yang dikenal akan emasnya sejak masa penjajahan tetap menjadi salah satu produsen emas teratas dunia. Ekspor lain seperti biji cokelat, kayu, listrik, berlian, bauksit, dan mangan adalah sumber utama pertukaran asing yang dipantau, dijalankan, dan dikelola oleh Cabang Pertanian Kementerian Kepresidenan Republik Ghana yang dikepalai Ny. Antoinette Efua-Addo (lebih lanjut bisa dibaca di www.Ghana-agricexport.com). Ladang minyak yang dilaporkan mengandung lebih dari 3 m³ minyak ringan ditemukan pada tahun 2007. Eksplorasi minyak terus berlanjut dan jumlah minyak terus bertambah. Diharapkan, arus masuk modal yang besar terjadi dari caturwulan terakhir di tahun 2010 ketika negeri ini mulai memproduksi minyak dalam jumlah komersial.
Bendungan Akosombo yang dibangun di sungai Volta pada tahun 1965 menjadi sumber tenaga listrik bagi Ghana dan negara sekitarnya.
Angkatan kerja Ghana pada tahun 2008 berjumlah 11,5 juta jiwa. Ekonomi terus pulih berkat pertanian yang terhitung 37,3% PDB dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 56% angkatan kerja, terutama pemilik lahan kecil. Bidang produksi hanya menjadi bagian kecil ekonomi Ghana yang berjumlah 7,9% PDB pada tahun 2007.
Kebijakan ekonomi pemerintahan militer masa lalu yang tak efektif dan komitmen penjaga perdamaian daerah menimbulkan pendanaaan defisit inflasi, menurunnya nilai cedi, dan meningkatnya ketidakpuasan publik atas tindakan penghematan Ghana. Meskipun demikian, Ghana tetap menjadi salah satu negara yang secara ekonomi lebih kuat di seantero Afrika.
Pada bulan Juli 2007, Bank Ghana memulai pelaksanaan redenominasi mata uang, dari cedi (¢) ke mata uang baru, cedi Ghana (GH¢). Tingkat pengiriman adalah 1 cedi Ghana untuk setiap 10.000 cedi. Bank of Ghana menjalankan kampanye media yang agresif untuk mendidik masyarakat tentang redenominasi.
Cedi Ghana yang baru relatif stabil an pada tahun 2009 umumnya dipertukarkan pada kisaran $1 USD =Gh¢ 1.4. Pajak pertambahan nilai adalah pajak konsumsi yang dijalankan di Ghana. Rezim pajak yang bermula di tahun 1998 memiliki kurs tunggal namun sejak bulan September 2007 masuk rezim multikurs.
Pada tahun 1998, kurs pajak berjumlah 10% dan diamandemen menjadi 12,5% pada tahun 2000. Namun, dengan diundangkannya UU 734 tahun 2007, skema kurs rata PPT sebesar 3% mulai beroperasi untuk sektor distribusi eceran. Hal ini memungkinkan pengecer benda-benda yang dapat dikenai pajak menurut UU 546 membebankan batas 3% pada penjualannya dan begitu pula pada Layanan PPN.
Pariwisata menjadi sektor yang berkembang pesat, khususnya di antara orang Eropa, Amerika, dan bangsa lain yang terkait dengan diaspora Ghana di seluruh dunia. Kestabilan politik dan ekonomi Ghana, tingkat kejahatan yang rendah, dan penggunaan bahasa Inggris yang meluas membuat negeri ini menjadi pintu masuk yang menarik ke Afrika Barat bagi orang asing. Situs Warisan Dunia UNESCO yang ada di Ghana termasuk Kastil Cape Coast dan Elmina, taman nasional seperti Taman Nasional Kakum dan Mole, juga peringatan budaya seperti Panafest menjadi pusat kegiatan wisata utama.

Sumber:

Minggu, 29 Mei 2011

Saya dan Benda Sejarah

Museum Wayang
Pada hari Sabtu tanggal 29 Mei 2011, saya melakukan kunjungan ke museum wayang dan museum sejarah Jakarta yang berada di kawasan kota tua, Jakarta Pusat bersama teman saya. Di sana kami melihat dan mengamati banyak koleksi dari museum tersebut. Ada tiga koleksi dalam museum yang membuat saya tertarik untuk menjelaskannya, yaitu kapal Caravela buatan portugis yang miniaturnya terdapat di Museum Sejarah Jakarta, lalu Blencong yang merupakan alat penerangan dalam pagelaran wayang yang terdapat di museum wayang, dan logo Jakarta yang dijelaskan dalam Museum Sejarah Jakarta.
CARAVELA
Caravela adalah kapal kecil yang bermanuver tinggi yang dikembangkan pada abad ke 15 oleh orang Portugis untuk menjelajahi wilayah sepanjang pantai Afrika Barat hingga ke Samudera Atlantik. Pada kapal ini terdapat layar lateen yang memberikan kecepatan dan kapasitas untuk berlayar dengan bantuan angina. Caravela banyak digunakan oleh bangsa Portugis untuk perjalanan eksplorasi laut selama abad ke 15 dan 16.
Saya bersama miniatur kapal Caravela
Jenis kapal ini adalah kapal portugis pertama yang berlayar di laut yang bergolak. Panjangnya 20-30 meter dengan lebar dek antara 6 sampai 8 meter. Kapal ini memiliki daya angkut sebesar 80 ton dan dapat membawa awak sebanyak 50-70 awak. Kapal ini memiliki dayung artileri yang dapat digunakan saat keadaan berbahaya.
Awalnya, sampai abad ke-15, Eropa hanya sebatas menggunakan kapal tongkang (Barca) atau balinger (barinel), yaitu kapal kargo kuna yang digunakan mediterania dan dapat menampung beban sekitar 50 sampai 200 ton. Namun, kapal-kapal tersebut sangat rapuh karena hanya disangga dengan satu layar dengan satu tiang penyangga sehingga tidak dapat mengatasi kesulitan untuk mengeksplorasi kea rah selatan karena kuatnya angin, beting, dan arus laut mudah mengganggu kestabilan kapal.
Pada akhirnya, dikembangkanlah kapal Caravela ini berdasarkan perahu nelayan yang dananya disponsori oleh Pangeran Henry sang Navigator dari Portugal dan menjadi kapal favorit diantara penjelajah-penjelajah Portugis. Nama Caravela atau Caravel berasal dari jenis perahu kuno yang dikenal sebagai carabus dalam bahasa latin, καραβος dalam bahasa yunani, dan qārib dalam bahasa arab. Banyaknya sari kata ini menunjukkan kontinuitas dari kapal Caravela ini dari tahun ke tahun. Kapal ini sendiri lebih mudah untuk digunakan dan lebih lincah untuk melakukan eksplorasi. Dengan daya tampung seberat 50-160 ton dan mempunyai satu hingga tiga tiang penyangga dengan layar laten, kapal ini menjadi kapal yang berkelas.
Karena bentuk dan ukuran kapal Caravela yang kecil, kapal ini dapat berlayar ke hulu di perairan pantai yang dangkal. Dengan layar lateen terpasang, kapal ini sangat bermanuver dan dapat berlayar mendekati arah angin, sedangkan dengan tipe layar atlantik persegi terpasang membuat kapal ini melaju dengan cepat. Dilihat dari segi ekonomi, kecepatan, dan ketangguhan membuat kapal ini sebagai kapal layar terbaik pada generasinya. Keterbatasan muatan untuk kargo dan awak menjadi salah satu kelemahannya walaupun tidak menghalangi kesuksesannya.
Eksplorasi dengan menggunakan Caravela biasanya ditujukan untuk perdagangan rempah-rempah dari Portugis dan Spanyol yang pada akhirnya dibuat kapal baru bernama Nau yang notabene lebih besar dan lebih menguntungkan untuk mengadakan perdagangan.
Karena kecepatan beratnya lebih ringan dan dengan demikian lebih tinggi, Caravela adalah anugerah bagi pelaut. Awal mulanya Caravela memiliki dua atau tiga tiang penyangga dengan layar lateen yang kemudian mengalami pengembangan menjadi memiliki empat tiang. Menjelang akhir abad ke-15, Caravela itu mulai dimodifikasi dengan penambahan berbagai suku cadang. Kapal modifikasi inilah yang dipakai oleh Christopher Columbus untuk melaksanakan ekspedisinya pada tahun 1492.
Pada awal abad 16, orang Portugis menciptakan sebuah kapal perang khusus yang berdasar pada rangka kapal Caravela yang bernama caravela redonda. Kapal ini ditugaskan di Brazil dan Hindia Timur. Bentuk modifikasi kapal Caravela ini menyerupai galleon dan diperkirakan kapal inilah yang memicu pertempuran dari kapal galleon. Kapal ini diberi nama Portuguese Man o’ War dan digunakan hingga abad ke 18.
BLENCONG
Sebelum dikenal adanya lampu listrik, maka pertunjukkan wayang kulit menggunakan pelita dengan minyak kelapa dan sumbu dari lawe, atau benang kapas bahan untuk tenun pakaian. Gerak nyala Blencong menimbulkan bayangan wayang menjadi lebih hidup dan Nampak lebih dramatis.
Lampu blencong ini berbentuk macam-macam. Ada yang berbentuk seperti burung Jatayu, ada yang berbentuk seperti celengan dengan sayap kiri dan kanan, dan berbagai macam bentuk lainnya. Blencong terbuat dari kayu berukir ataupun perunggu, dengan lubang di tengah untuk menaruh minyak dan mempunyai sumbu yang menghadap kea rah kelir/layar.
Blencong merupakan alat penerangan yang berfungsi untuk menghidupkan bayangan wayang di layar. Wayang yang mempunyai cat dasar prada emas akan terlihat lebih hidup. Blencong letaknya di depan layar, di atas Ki dalang duduk bersila. Blencong menggunakan bahan bakar dari minyak kelapa, sehingga cahaya dapat menyala lebih lama, apinya bersi, baunya pun harum dan gurih.
Blencong yang terdapat di Museum Wayang
Filsafan Blencong umpama wahyu kehidupan, atau atma sejati yang menghidupkan segala yang hidup, cahaya blencong umpama cahya sejati. Blencong berasal dari yang Widhi yang tak tergambarkan dalam pagelaran wayang.
Dalang perlu mengecek dan membenahi untuk menarik sumbu blencong agar tidak padam dan sinarnya sesuai dengan kebutuhan pargelaran. Satu alat lain yang namanya sumpit diperlukan untuk menjepit sumbu blencong yang biasanya terbuat dari kain atau kapas yang telah dibentuk seperti tali. Kehati-hatian seorang dalang juga mutlak diperlukan dalam menggunakan sumpit ini, karena percikan api blencong mudah membakar kain yang dikenakan oleh Dalang.
Namun blencong saat ini sudah jarng dipergunakan karena dianggap tidak praktis dan sinarnya kurang terang. Seiring perkembangan zaman, Blencong pun digantikan oleh lampu petromaks. Saat listrik sudah masuk, lampu petromaks pun mulai ditinggalkan dan diganti dengan lampu pijar. Kemudian pula seiring semakin canggihnya teknologi, keberadaan lampu-lampu tadi pun digantikan dengan lampu halogen dengan daya sebesar 1000 watt.
Pada Blencong yang saya temukan di museum wayang di daerah kota tua, benda ini berbentuk seperti ungags dengan kepala sebagai sumber cahayanya. Bahan Blencong ini terbuat dari logam yang sepertinya merupakan perunggu. Di bagian perut ungags ini keluar satu juluran sumbu tali yang merupakan sumbu api dari Blencong ini sendiri. Blencong yang terdapat pada museum wayang ini merupakan pemberian dari Kolonel (Purn) Carel A. Heshusius, yaitu perwira kerajaan Belanda.
Perbandingan dan Penjelasan Logo Jakarta
LOGO JAKARTA
Logo Jakarta yang kita kenal saat ini sebenarnya sudah berkali-kali berubah sesuai zaman. Namun lambang yang akan saya jelaskan adalah  mulai dari tahun 1951. Sejak tahun 1951, Jakarta mempunyai logo baru yang berwarna biru muda gelap yang di dalamnya terdapat gambar tugu proklamasi. Kemudian, logo ini bertahan sampai digantikan oleh logo Jakarta yang baru yang memiliki slogan Jaya Raya yang kita kenal sekarang.
Lambang yang pertama dibuat berdasarkan hasil sayembara 111 pelukis di daerah Indonesia yang dimenangkan oleh pelukis Djadjamarta. Akhirnya, logo ini ditetapkan pada April 1951 dengan rincian sebagai berikut:
·         Sebuah lukisan perisai dengan mahkota Benteng diatasnya sebagai lambang suatu kota, dasar perisai itu berwarna hijau tua yang mengandung arti pergaulan internasional.
·         Ditengah perisai berdiri sebuah tugu berwarna putih sebagai lambang proklamasi kemerdekaan Indonesia
·         Pada kaki tugu sebelah muka digambar peta kepulauan Indonesia berwarna hijau sebagai pernyataan sejarah.
·         Melingkari tugu tersebut karangan padi dan kapas berwarna emas muda sebagai lambang kemakmuran, dan tangkai karangan padi dan kapas diikat dengan pita merah putih yang melambai-lambaik melingkupi peta kepulauan Indonesia
Kemudian, Jakarta berganti logo pada tahun yang tidak disebutkan. Logo ini masih bertahan hingga sekarang dan memiliki deskripsi sebagai berikut :
·         Lukisan perisai segi lima yang didalamnya melukiskan gerbang terbuka
·         Di dalam gerbang terbuka itu terdapat “Tugu Nasional” yang dilingkari oleh untaian padi dan kapas. Sebuah tali melingkar pangkal tangkai-tangkai padi dan kapas
·         Pada bagian atas pintu gerbang tertulis Sloka “Jaya Raya”, sedang di bagian bawah perisai terdapat lukisan ombak-ombak laut
·         Gerbang terbuka bagian atas berwarna putihm sedang huruf-huruf Sloka “Jaya Raya” berwarna merah
·         “Tugu Nasional” berwarna putih
·         Untaian padi berwarna kuning dan untaian kapas berwarna hijau dan putih
·         Ombak-ombak laut berwarna dan dinyatakan dengan garis-garis putih. Kesemuanya ini dilukiskan atas dasar yang berwarna biru
Saya dengan salah satu koleksi di Museum Sejarah Jakarta
KESAN DAN PESAN MENGUNJUNGI MUSEUM

Mengunjungi museum membutuhkan waktu karena harus mengatur transportasi dan bepergian dengan jarak yang cukup jauh baik dari rumah maupun dari sekolah. Pada akhirnya saya berhasil berkelana di daerah kota tua dan mengunjungi museum di daerah tersebut yang koleksinya cukup baik. Kemudian, setelah dokumentasi dikumpulkan, ternyata informasi yang diperoleh masih sangat sedikit karena tidak terdapat pemandu saat saya berkunjung sehingga harus mencari lagi dari berbagai sumber.
Pada akhirnya tulisan ini selesai dan semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. History Vitae Magistra.


Selasa, 17 Mei 2011

Saya dan Tokoh Sejarah Bernama Rukasah Rukmantara

Saya mewawancarai salah satu tokoh sejarah bernama Rukasah Rukmantara. Beliau lahir di Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat tanggal 9 Oktober 1933. Beliau lahir dari pasangan Rukmantara dan Arkasih. Beliau mempunyai 7 saudara yang terdiri dari 1 perempuan dan 6 laki-laki. Selama masa kecil, Ia tinggal di Tasikmalaya.

Bapak Rukmantara, bapak dari Bapak Rukasah adalah seorang pendidik yang pernah menjadi penilik sekolah SD dan mengajar di SMA. Sedangkan Ibu Alkasih pernah menjadi guru dan kepala sekolah dari sekolah yang berbeda dari tempat Ia melaksanakan pendidikannya. Mereka melanjutkan kiprah mereka sebagai pengajar hingga mereka pensiun.

Pada masa kecil, ia hobi memancing. Karena bawaan orang tua yang sering memancing, ia dan saudara-saudaranya sering berangkat bersama-sama untuk memancing. Biasanya, ia memancing di kali, di kolam, atau di danau terdekat. Dari hobi tersebut, ia berhasil mendapatkan berbagai macam ikan seperti ikan kakap, ikan mujair, ikan mas, dan berbagai macam ikan lainnya sehingga hobinya bisa juga bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya.

Pada zaman Belanda, Ia bersekolah di HIS di Tasikmalaya sampai kelas 2. Lalu, HIS berganti nama menjadi SR atau Sekolah Rakyat yang kini menjadi SD atau Sekolah Dasar. Ia meneruskan sekolahnya di tempat yang sama hingga masa SMP atau dahulu disebut Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama. Kemudian setelah bersekolah di SMP selama tiga tahun, Ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang SMA Beliton sampai tamat tiga tahun. Di masa SMA atau Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. Ia mengambil jurusan ilmu pasti atau sekarang disebut jurusan IPA. Ia lulus dengan nilai yang cukup memuaskan walaupun tidak terlalu baik.

Setamat SMA, Ia melanjutkan pendidikannya di fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Tidak menyelesaikan kuliahnya, Ia pindah ke Bandung dan memasuki Akademi Lalu Lintas dan Perniagaan Djawatan Kereta Api pada tahun ajaran 1956/1957. Ia mengenyam pendidikan di sana selama satu tahun. Lalu karena tidak lulus untuk tingkatan ke tiga, maka ia keluar dan menjalani kursus kepelabuhan di Djakarta. Ia menjalani kursus tersebut selama setahun. Lalu, setelah menjalani tes selama sekitar dua minggu, Ia dinyatakan lulus pada tahun 1959.

Setelah merasa cukup menjalani pendidikan selama beberapa tahun, ia pun memasuki dunia kerja. Pertama kali, ia bekerja di perusahaan Negara di pelabuhan Tanjung Priok sebagai kepala seksi pangkalan II. Kemudian, setelah 2 tahun bekerja, Ia dipanggil oleh pemerintah untuk bertugas di Irian Barat. Kemudian setelah selesai, Ia melanjutkan kembali kariernya di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1963.

Pada bulan Desember tahun 1962, Ia menikah dengan Suwartini yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak. Mereka dikaruniai 4 anak yang terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki. Salah satu dari anak mereka adalah Bapak saya yang merupakan anak ketiga dari pasangan mereka berdua.
Setelah menikah, ia melanjutkan kerjanya di pelabuhan Cirebon sebagai kepala bagian komersil selama hanya setahun. Dari Cirebon, Ia dipindahtugaskan ke pelabuhan Jambi sebagai kepala perwakilan pelabuhan cabang Jambi. Setelah dari Jambi, Ia dipindahkan ke pelabuhan Pontianak sebagai kepala divisi usaha selama 3 tahun. Walaupun sudah bekerja cukup lama, ia kembali harus berpindah ke pelabuahan teluk bayur sebagai kepala divisi usaha selama 3 tahun. Aceh pun menjadi tujuan terakhirnya saat menjadi administrator pelabuhan selama empat tahun sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan bertugas di Ditjen perhubungan laut sebagai kepala seksi hingga pensiun pada tanggal 18 Oktober 1989.

Selama masa kerjanya, Ia seringkali berpindah-pindah domisili karena Ia bekerja di perusahaan Negara. Selama hidupnya, Ia telah merasakan berumah tinggal di Jakarta, Cirebon, Jambi, Pontianak, Padang, dan Aceh. Ia pun tidak jarang mengikuti berbagai pelatihan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Seperti mengikuti workshop UNDP pada tahun 1984 dan mengikuti training manajemen kepelabuhan di Belgia yang diselenggarakan oleh APEC pada tahun 1981.

PENGALAMAN MEMPERJUANGKAN BANGSA INDONESIA
Sebagai orang yang sudah hidup melalui berbagai macam generasi, mulai dari masa penjajahan, masa proklamasi, masa mempertahankan kemerdekaan, hingga masa reformasi sekarang, ia memiliki banyak pengalaman saat membela Negara Indonesia baik saat ikut berperang atau hanya saat menjadi penduduk yang terjajah pada zaman itu.

Pada masa penjajahan Belanda, waktu itu kampung tempat Ia tinggal diduduki oleh Belanda sehingga seluruh penduduk harus mengungsi ke tempat lain. Tidak terima begitu saja, sebagian dari keluarga bapak Rukasah ini melakukan gerilya yang akhirnya harus kehilangan Tjahri karena kesalahan saat percobaan granat. Ia sendiri mengungsi ke Gunung Galunggung sampai kembali lagi ke Tasik saat situasi sudah aman karena masih SMP. Mereka sendiri mengungsi sebelum Belanda sampai di Tasikmalaya dari Jakarta.

Pada tahun 1962, Ia dipanggil oleh pemerintah untuk bertugas melaksanakan TRIKORA, yaitu dengan menyerang Irian Barat. Ia berangkat dengan kapal MH Thamrin atau Jakarta Lloyd. Ia berangkat bersama-sama Tentara Rakyat Indonesia lalu mereka sebagai komponen sipil yang bertugas akan melaksanakan tugas pemerintahan setelah Irian Barat diduduki.

Para komponen sipil yang terdiri dari berbagai instansi seperti kepolisian, jaksa, maupun instansi pelabuhan waktu itu dimiliterisir oleh angkatan laut dan Beliau sendiri akhirnya mendapat pangkat Sersan Mayor I. setelah selesai dimiliterisir oleh angkatan laut, para komponen sipil yang sudah naik pangkat mendapat briefing di pulau peling di daerah Sulawesi. Mereka mendapat pengarahan dari Jenderal Soeharto selaku panglima mandala saat itu. 

Logo Pasukan TRIKORA kepunyaan Bapak Rukasah
Pada saat itu Jenderal Soeharto memberi penjelasan bahwa mereka akan menyerang Irian Barat dan mengambil alih pemerintahannya sesuai bidang masing-masing setelah Irian Barat berhasil ditaklukkan. “Jadi waktu itu Soeharto memberikan pengarahan suruh menyerang Irian Barat, lalu petugas komponen sipil akan melakanakan pemerintahan masing-masing setelah kota sudah direbut. Itu tugasnya seperti itu. Tapi, tidak jadi perang, jadi kita pulang saja.” Jelas Bapak Rukasah.
Lalu mereka memulai perjuangan mereka dengan kapal masing-masing. Bapak Rukasah sendiri menaiki  kapal yang sama dan melalui perjalanan selama berhari-hari. Walaupun persiapan sudah sangat matang, masih ada saja hal-hal konyol yang terjadi saat itu. “Ya mungkin saking terburu-burunya lah, waktu itu pelurunya tertinggal di pesawat dan beberapa personil tidak membawa senjata. Tapi kita waktu dimiliterisir yang dikasih senjata hanya sersan jenderal aja, sersan mayor gak dapat.” Aku Bapak Rukasah. lalu kesalahan lain adalah saat ke Gorontalo pistol para Jaksa tercebur ke laut. “Jadi waktu itu karena kita harus ke pulau kecil di Gorontalo, turunnya harus pakai tangga tali. Jadi mungkin karena jalannya terlalu sulit , ya jatuhlah senjatanya itu.” Kata Bapak Rukasah.

Ternyata ada perjuangan yang hampir sama lelahnya dengan perang yaitu saat perjalanan menuju kawasan perang. Menurut bapak Rukasah, hal tersebut sangat membosankan karena harus berdiam di kapal yang sama tanpa melakukan apa-apa. Namun karena mendapatkan mandate langsung dari Mandala, Ia menjadi bersemangat walaupun hanya dengan modal nekat. Makanan sehari-hari mereka bahkan tidak terlalu mengenyangkan karena hanya mendapat asupan seadanya seperti telur dan nasi. Menurutnya, tidak ada kegiatan lain yang khusus saat berada di kapal.

Namun, perjuangan mengarungi laut itu akhirnya berakhir dengan cukup sia-sia. Karena sebelum tiba di Irian Barat mereka mendapat informasi bahwa Belanda sudah kabur dari Irian Barat. “Waktu itu kita bawa persenjataan lengkap. Kita ada persenjataan udara dan dari persenjataan laut kita bawa kapal selam. Mungkin melihat situasi seperti itu Belanda takut, jadi kabur mereka” Ingatnya.

Bapak Rukasah (Paling Kanan) berfoto dengan rekannya
Akhirnya para komponen sipil dipulangkan kembali ke daerah masing-masing. Bapak Rukasah sendiri kembali ke pelabuhan tanjung priok di Jakarta untuk menunggu instruksi selanjutnya. Kemudian Ia menerima panggilan dari KOTI (Komando Tertinggi) untuk bertugas mengisi pemerintahan Irian Barat yang sudah kosong. Setelah izin cuti untuk menikah, berangkatlah Ia menuju Irian Barat menggunakan pesawat. Ia pun akhirnya memilih untuk pulang ke Jakarta saat ditawarkan pilihan apakah ingin tetap di sana atau pulang.

Dengan perginya Belanda dan terisinya pemerintahan di Irian Barat maka misi TRIKORA pun berakhir. Semua tentara dipulangkan ke daerahnya masing-masing kecuali yang ditugaskan di Irian Barat dan masing-masing dari mereka yang mengikuti misi TRIKORA ini mendapatkan penghargaan dari pemerintah yaitu Satya Lencana Satya Dharma

SUKA DUKA MEWAWANCARAI TOKOH SEJARAH
Yang pertama kali saya rasakan saat mewawancarai tokoh sejarah adalah kesulitan mencari informasi secara spesifik dari narasumber. Karena peristiwa tersebut memang sudah sangat lama sehingga narasumber sendiri kesulitan untuk mengingat-ingat peristiwa yang pernah dialaminya. Saya juga sempat kesulitan untuk mengarahkan pembicaraan karena saat narasumber berbicara ia kerap menceritakan semuanya bahkan melebihi dari yang saya butuhkan.

Kesulitan kedua yang saya dapati adalah soal waktu. Walaupun rumah saya dan narasumber berdekatan, saya tetap saja kesulitan mencari waktu untuk mewawancarainya sampai akhirnya saya menemukan waktu yang tepat untuk melakukan wawancara. Untungnya narasumber sangat baik karena ia mau mengeluarkan berbagai macam dokumennya seperti sertifikat, ijazah, maupun foto-fotonya pada masa dahulu.

Kesulitan ketiga adalah dalam pengerjaan dokumen. Karena target yang sebenarnya cukup banyak yaitu sekitar 8000 karakter, saya sempat kesulitan saat merangkai kata-kata untuk menulis laporan ini. Saya sendiri mewawancarai narasumber selama dua hari yang pada hari kedua saya sampai membawa laptop saya ke lokasi wawancara agar saya dapat mengetik sambil mendengarkan kisah beliau. Bahkan untuk mengerjakan ini dibutuhkan waktu hingga malam hari karena banyak yang harus dikerjakan.

Namun, pada akhirnya saya pun merasa cukup bangga saat tulisan ini selesai dibuat. Disamping sudah selesai, saya belajar banyak tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu. Ternyata sejarah tidaklah hanya yang kita tahu seperti di buku saja. Ternyata, di luar buku itu ada juga kisah-kisah menarik dari berbagai tokoh yang tidak dituliskan dalam buku tersebut. Semoga informasi ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan berguna untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Amin.






Selasa, 12 April 2011

16 Tahun Hidup Saya



Setiap sesuatu pasti ada permulaannya, begitupun dengan saya. Tanggal 27 Februari 1995 merupakan hari yang membahagiakan bagi orang tua saya. Anak pertama mereka yaitu saya lahir di sebuah rumah sakit di Jakarta. Saya merupakan anak dari bapak saya Sukma Wijaya dan ibu saya Siti Aisyah. Sejak saat itulah kehidupan saya dimulai. Pada tahun 1998 tepatnya pada tanggal 29 September, saya memiliki adik pertama bernama Shabrina yang menjadi adik saya satu-satunya. 
Sebagian besar hidup saya saat masa baru lahir sampai Sekolah Dasar dihabiskan di rumah kakek dan nenek saya di kompleks Taman Alfa Indah F3/36. Saat SD kelas 2, saya pindah rumah ke kompleks yang sama namun hanya berbeda gang. Dua rumah yang di dalamnya terdapat banyak kisah kehidupan masa kecil saya hingga sekarang. Walaupun sudah pindah rumah, saya tetap sering berkunjung ke rumah nenek saya karena jaraknya yang sangat dekat. Di kompleks tersebut, saya memiliki teman baik. Mereka tiga bersaudara bernama Aca, Yudha, dan Citra. Kami berteman sejak TK dan tumah yang dekat pula yang menyebabkan saya sering berkunjung ke rumahnya. 

Pada saat balita, postur tubuh saya cukup gemuk jika dilihat dari foto saya saat baru lahir. Kemampuan saya saat balita berkembang dengan cukup pesat. Ibu saya mengatakan bahwa pada umur sekitar 9 bulan saya sudah bisa berjalan sendiri. Dan anehnya saya bisa berjalan karena terjadi mati listrik. “Waktu itu abang lagi belajar jalan, lalu tiba-tiba mati lampu. Abang langsung lari ke papah. Sejak itu abang langsung bisa jalan.” Kata Ibu saya. 

Namun saat balita juga, saya pernah mengalami suatu kecelakaan yang mengakibatkan terdapat cekungan pada kepala saya. “Waktu itu kamu sedang lari-larian lalu terjatuh dan kepala kamu jatuh di batu.” Kata Ibu saya menjelaskan. Walaupun begitu, kecelakaan tersebut tidak memiliki dampak yang berarti pada saya. 

Pada masa balita juga, saya pernah mengalami trauma dengan balon kempis. Hal yang masih belum saya ketahui alasannya hingga sekarang. Pada sekitar umur 4 tahun, setiap saya melihat sebuah balon yang kempis dan melayang kesana-kemari saya selalu berteriak sambil menangis. “Abang dulu kalo liat balon kempis langsung teriak Buang! Buang!” jelas ibu saya.



Pendidikan saya dimulai dari saat TK. Saya masuk TK Citra Ananda yang berada di kompleks perumahan saya pada umur 4 tahun karena kemampuan menulis dan berbicara saya saat itu sudah baik. Menurut Ibu saya, saat saya TK saya sangat ingin privasi. Setiap Ibu atau Bapak saya mengintip ke dalam ruangan, saya selalu mengusir mereka. Tidak seperti adik saya yang selalu meminta Ibu untuk tetap berada di ruangan tanpa bergerak sedikitpun. Masa TK saya berlangsung dengan lancar, tanpa ada masalah dengan guru dan menjadi salah satu murid kesayangan guru TK saya hingga sekarang.

Hal yang paling mengerikan yang saya ingat saat TK adalah saya pernah terjepit di tangga perosotan yang berada di arena bermain di TK saya. Saat itu saya sedang bermain dengan teman baik saya saat TK yang bernama Tommy. Ketika menaiki tangga perosotan, saya mendapati Tommy melewati bawah perosotan. Entah bagaimana ceritanya saya langsung memasukkan kepala saya ke celah tangga perosotan tersebut dengan harapan saya bisa mengejar dia. Yang terjadi adalah badan saya terjepit mengarah ke luar perosotan. Saya sangat panik saat itu dan tiba-tiba saya dipanggil guru saya dari kejauhan yang tidak tahu-menahu soal kondisi naas saya. Namun, saya juga masih belum tahu kenapa saya akhirnya bisa keluar setelah dipanggil oleh guru saya tersebut. Hal yang aneh tapi terus teringat oleh saya




Masuk ke zaman SD. Saya tergolong cepat untuk masuk SD karena waktu masuk pertama kali saya masih berumur lima setengah tahun. Saya bersekolah di SD Negeri 05 Pagi atau disebut juga SDN Mexico Pagi. Sama seperti saat TK, saya juga sangat menginginkan kebebasan saat saya bersekolah. Ibu saya menjelaskan “Abang dulu waktu dijempun ramai-ramai sampai ada Ninik sama Aki Abang bilang “Pada ngapain sih ramai-ramai jemput Abi? Memang mau arisan?””.

Saat kelas satu, saya sempat dimarahi oleh guru saya karena penulisan huruf a saya berbeda dengan yang diajarkan guru. Pertama kali saya menulis a bentuknya bulat dengan tangkai di belakangnya yang akhirnya saya rubah menjadi huruf a seperti di tulisan ini. SD saya hanya memiliki dua kelas yang masing-masng kelasnya beranggotakan 40 orang. Walau begitu, di SD saya tidak mengenal pengacakan kelas kembali saat naik kelas sehingga saya terus bersama teman saya di kelas B selama 6 tahun yang mengakibatkan saya kurang mengenali teman saya yang berada di kelas A.
Saat SD kelas dua, saya ingat waktu itu karena saat guru keluar dan sedang berjalan menuju kemari, saya bersama teman-teman saya mengintip dan berteriak “Bu Guru datang!” dan ketika guru masuk kami semua dipukuli penggaris kayu panjang walaupun dengan tidak terlalu keras. Saya pun sebenarnya bingung kenapa dimarahi, itu kan bukan apa-apa.

Saya suka sekali dengan olahraga. Namun, saat itu saya pernah dimarahi guru olahraga saya karena bermain-main saat berolahraga. Waktu itu kami sedang bermain kasti dan kebagian posisi jaga. Saya bersama teman saya Doni malah bermain suit dan saat bola sudah dipukul dan bolanya mengarah ke kami, kami diam saja sehingga guru menghampiri kami dan mencubit bagian sekitar jambang kami sambil dibawa ke tengah lapangan dan kami dimarahi guru kami yang bernama Pak Hutah.
Saat SD kelas tiga, saya memiliki wali kelas seorang perempuan bernama Bu Budi. Dia adalah pemeluk agama Kristen yang taat namun juga memiliki sifat toleransi yang tinggi. Namun sebenarnya bukan hanya itu yang spesial. Saat itu saya bertengkar dengan teman baik saya yang bernama Ariel hanya karena masalah game. Kami berdebat kalau tidak salah tentang game GTA. Hanya dengan hal sepele itu kami berdebat sampai menangis. Walaupun beberapa menit setelah kejadian itu pun kami berdamai lagi

Masa yang paling saya senangi saat SD adalah pada saat kelas empat SD. Kelas empat di SDN Mexico memiliki ruangan yang cukup sempit di sebelah hall. Walau begitu, wali kelas saya yang bernama Ibu Cicih membuat suasana kelas menjadi menyenangkan. Saya ingat sekali kami pernah melakukan berbagai percobaan yang salah satunya adalah percobaan yang membuktikan bahwa telur dapat melayang di air dan diakhiri dengan makan telur bersama di kelas. 

Di kelas empat pula saya memiliki teman bernama Toni. Dia sepertinya keturunan bule dengan badannya yang besar dan juga botak. Dia merupakan anak yang sangat badung menurut saya waktu itu. Dia sering menangisi Bu Cicih dan pernah membanting teman saya yang bernama Faqih. Dia pun membuat kami kesal dan akhirnya kami mendukung pengeluaran dia dari sekolah tersebut.
Tahun berganti dan saya pun naik ke kelas lima. Untuk urusan akademik, saya tidak mempunyai banyak masalah sehingga yang saya ingat adalah kejadian memalukan. Saat itu saat istirahat dari pelajaran marching band, saya berbicara dengan teman saya yang berujung dia mengejek saya dan akhirnya saya menangis. Memang saya tergolong cengeng dulu sehingga disinggung sedikit saya sudah bisa menangis. Kami pun akhirnya didamaikan oleh guru marching band tersebut.
Namun dari marching band pula saya pertama kalinya melakukan penampilan di depan pemerintah. Saat itu kalau tidak salah sedang ada festival saat kenaikan kelas yang mengundang beberapa pemerintah. Dengan pianika Yamaha saya, kesempatan itu saya lakukan dengan baik dan kami sangat senang dapat memainkan pertunjukkan dengan baik.

Tidak terasa akhirnya saya telah memasuki masa terakhir saya di SD. Sedih sekali rasanya harus berpisah dengan teman-teman SD saya walaupun saya masih menemuinya beberapa di SMA. Saya sangat ingat saya dipuji oleh wali kelas saya. Dia mengatakan “Usia memang sangat berpengaruh pada kemampuan berpikir anak, tapi Alhamdulillah kita di sini punya teman yang walaupun usianya muda, ia bisa tetap bertahan. Teman kita itu adalah Abi”. Tentu saja saya sangat senang dipuji seperti itu. Saya pun menjadi termotivasi untuk terus belajar.

Hal yang paling saya ingat waktu itu adalah saat menjelang masa-masa kelulusan. Di saat kami semua mencari sekolah, saya hanya mendaftar ke SMP Labschool Kebayoran dan SMP An-Nisaa. Setelah mengikuti tes dan tidak lulus di Labschool saya langsung mendaftar ke SMP An-Nisaa dan langsung lulus karena hasil tes saya mencukupi. 

Di antara lika-liku kelanjutan sekolah tersebut, teman saya yang bernama Kiki atau sekarang saya panggil Kiawan yang juga menjadi teman SMA saya lulus SMP Labschool Kebayoran setelah berdiskusi dengan kepala sekolahnya. Waktu itu memang dia terlalu memamerkan kelulusannya sehingga semuanya termasuk saya diajak untuk mendiamkannya. Saya sempat mendiamkannya selama tiga hari namun akhirnya saya meminta maaf dan membantu menjadi mediator dari perselisihan tersebut. Dan akhirnya kami semua berdamai. 

Selain kejadian tersebut, saya mengalami kejadian memalukan terakhir di masa SMP saat ujian praktek Agama. Walaupun tergolong anak yang berbudi pekerti baik, jujur saya masih belum paham agama waktu itu. Saya dimarahi oleh guru Agama saya yaitu Bu Aam karena saya tidak hafal niat wudhu dan doa setelah wudhu. Saya sangat menyesal waktu itu dan langsung menghafalkannya setelah ujian praktek. Guru saya tersebut akhirnya meninggal dunia beberapa bulan sebelum saya menulis autobiografi ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Akhirnya tibalah saat pelepasan kami. Acara wisuda SD kami waktu itu diselenggarakan di Ballroom Hotel Atlet Century Park. Kami menampilkan beberapa lagu kepada para orang tua murid. Namun, saat teman-teman saya pentas menampilkan lagu ‘menuju puncak’ saya tidak ikut pentas karena entah mengapa saya tidak diajak ikut latihannya. Akhirnya acara selesai dan kami semua berpisah. Suatu momen yang sangat mengharukan. Namun memang kita harus bergerak maju dan berjuang secara masing-masing untuk mencapai kesuksesan.


Akhirnya masuklah saya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama. Saya pergi ke SMP An-Nisaa di daerah Pondok Aren yang sebenarnya jauh dari rumah saya di daerah Joglo. Di situlah saya pertama kali merasakan yang namanya MOS. Walaupun tidak ada bullying, namun saat itu saya cukup tegang memulai 3 hari pertama di SMP. Saya ingat kami semua pernah dimarahi oleh OSIS karena hal yang akhirnya kami tahu itu sebenarnya dibuat-buat dan tidak terjadi.
Hal yang paling saya ingat saat MOS SMP adalah saat pentas seni. Kelompok kami waktu itu menampilkan pentas tentang putri mas. Saya waktu itu menjadi kakek si putri mas dan neneknya diperankan oleh teman saya Setha. Saat itu pentas kami tidak begitu bagus namun di akhir cerita si raksasa yang diperankan oleh Fauzan dilempari oleh kertas.

Hari pertama setelah MOS saya mulai memasuki ruang kelas. Ruang kelas yang sederhana sebenarnya namun enak untuk ditempati. Saya masuk kelas 7U waktu itu dengan wali kelas Ibu Uthie. Kelas saya tergolong kelas pintar karena terdapat banyak anak pintar. Karena jumlah murid di angkatan yang hanya 58, saya sangat mengenal setiap teman saya di SMP. 7U memberikan suasana kompetisi yang sangat baik bagi saya, walaupun begitu mereka semua sangat bersahabat walau di awal banyak dari mereka yang iseng.

Minggu pertama setelah mos, saat sedang mengerjakan tugas di kelas penghapus saya direbut oleh Fauzan, teman saya yang berpostur tubuh besar dan tinggi. Saya mencoba merebutnya dan akhirnya putus asa dan menangis. Teman saya sontak meminta maaf dan mengembalikan penghapus saya. Sebenarnya saya malu karena kesan pertama saya ke teman adalah saya cengeng.

Pernah suatu ketika juga saat catatan sangat banyak saya bercanda sedikit ke teman saya. Saya mengatakan “kalau kita boleh bawa hp, gue nyatet ini pake hp aja” namun teman saya yang juga termasuk Fauzan menganggap saya sombong dan membuat pernyataan bahwa hp saya dibalut emas dan sebagainya. Akhirnya saya kembali menangis dan kali ini masalah diselesaikan oleh guru matematika saya Bu Sri. Lama kelamaan, sifat cengeng saya berhasil saya kurangi setelah diberikan tips-tips oleh Ibu saya.

Setahun pertama di SMP akhirnya saya lewati dengan cukup baik. Memasuki tahun kedua di SMP, saya berada di kelas 8B dengan wali kelas Pak Budi. Saat pemilihan ketua kelas, saya akhirnya ditunjuk langsung oleh semua teman untuk menjadi ketua kelas. Satu kesempatan yang sangat baik untuk melatih kepemimpinan saya. Secara keseluruhan urusan kelas saya berjalan lancar walaupun sempat ada satu masalah dengan guru matematika yang tidak saya selesaikan dengan baik.

Saya sangat menyukai sepak bola. Saya mengikuti ekskul sepakbola selama dua tahun berturut-turut. Walau tergolong memiliki postur yang kecil saya cukup berani untuk menjadi penyerang walaupun bermain dengan kurang baik. Pada tahun kedua saya berpidah posisi sebagai kiper hingga sekarang. 

Selain sepakbola, saya juga menyukai hal-hal yang berkaitan dengan computer. Sejak SMP saya sudah sering duduk di computer selama berjam-jam walaupun hanya untuk bermain dan browsing internet. Namun sejak itu keingintahuan saya tentang komputer bertambah.

Akhirnya kami memasuki tahun terakhir di SMP yaitu kelas Sembilan. Saya kembali bertemu Pak Budi sebagai wali kelas saya di kelas 9B. Bagi saya, kelas Sembilan merupakan salah satu titik perubahan dalam hidup saya dan merupakan tahun terbaik saya selama masa SMP. Di masa inilah kami seangkatan semakin saling mengenal satu sama lain. Mulai dari masa kelas Sembilan inilah saya akrab dengan siapa saja. Yang tadinya hanya akrab dengan sesama laki-laki saya pun juga akrab dengan teman perempuan sehingga bisa dibilang hubungan sosial saya semakin meningkat.
Masa ini adalah masa paling merindukan karena kedekatan kami membantu saya untuk selalu ceria dan terus berjuang di masa-masa menjelang ujian nasional. Guru-guru semakin bersahabat dan semakin semangat memompa semangat kami semua. Saya merasa sangat beruntung mempunyai teman seperti mereka walaupun hanya ber58 orang. Saat yang paling menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi saya pada masa SMP adalah saat pengumuman kelulusan. Di satu sisi, kami semua senang karena bisa lulus 100% dari Ujian Nasional. Namun, hal itu juga merupakan pertanda. Kami semua akan berpisah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kami semua pun akhirnya berpisah dan melanjutkan ke sekolah masing-masing. Kami semua tersebar di berbagai sekolah. Saya sendiri walau awalnya sudah pasti akan bersekolah di SMA Izada yang notabene satu yayasan dengan SMP saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA Labschool Kebayoran setelah diterima di sana. Dengan ini dimulailah karir saya di SMA.

Hari pertama masuk pun tiba. Kesan pertama saya terhadap Labschool adalah keras. Kami harus berjuang menerima tekanan mental dari kakak-kakak OSIS pada saat MOS dan yang lebih parahnya lagi adalah metode makan komando yang sangat menyiksa pernapasan dan mulut. Banyak sekali kegiatan untuk murid awal tahun di Labschool. Mulai dari MOS, Trip Observasi, LAPINSI bagi yang ingin, TPO, dan BINTAMA. Semua kegiatan di atas jelas terisi dengan bentakan-bentakan dari kakak OSIS yang sepertinya semakin hari semakin menjadi-jadi. Namun karena kegiatan tersebut, saya merasa mental saya lebih terangkat untuk menjalani hidup. Sejak masuk Labschool saya sangat jarang sakit dan jarang merasa takut. Walaupun menderita tapi sebenarnya ada manfaatnya juga.
Kelas sepuluh merupakan masa adaptasi saya terhadap banyaknya siswa di SMA Labschool Kebayoran. Jumlah teman seangkatan di Labschool adalah yang paling banyak yang pernah saya dapat. Saya sempat kesulitan mengenal teman-teman saya terutama saat saya masih berada di kelas akselerasi yang letaknya terpencil di dekat masjid. Tapi, saya berhasil menjalani kehidupan dengan baik di Labschool dan meraih prestasi yang cukup memuaskan selama kelas 1.

Jika di kelas 10 sangat berat, kelas 11 justru sebaliknya. Kelas 11 merupakan kelas yang paling santai menurut saya karena sangat banyak waktu yang tersedia untuk belajar. Walaupun saya menjadi OSIS yang harus membagi waktu belajar dengan kegiatan, saya rasa kelas 11 masih merupakan kelas yang tersantai.
Kelas sebelas juga merupakan titik perubahan kedua dalam hidup saya setelah masa SMP kelas 9. Hal yang paling mencolok adalah saya mengubah gaya rambut saya dari yang tadinya botak menjadi sedikit panjang. Hal yang menurut saya paling berubah adalah masalah perasaan yang tidak bisa saya tuliskan di sini karena merupakan hal pribadi.
Secara keseluruhan, angkatan saya di SMA Labschool Kebayoran yang bernama ‘Nawa Drastha Sandyadira’ merupakan angkatan yang sangat seru, kreatif, bersahabat, dan sejujurnya sedikit nyeleneh. Walaupun begitu, kami semua tetap satu angkatan yang masuk bersamaan dan semoga akan lulus bersamaan juga.
Di masa SMA, saya mengikuti banyak kegiatan seperti futsal, rohis, pemeriah, dan komunitas computer di sekolah saya. Namun yang paling berkesan dari semua yang saya ikuti adalah ketika saya dilantik menjadi pengurus OSIS ‘Dranadaraka Wiraksaka’ pada tanggal 17 Agustus 2010. Sebuah perjuangan yang cukup berat menurut saya karena harus mengikuti lebih banyak kegiatan dari siswa yang tidak berminat menjadi OSIS. Selain itu, kami semua juga harus melakukan banyak latihan untuk melaksanakan LALINJU atau Lari Lintas Juang yaitu lari sejauh 17 km dari TMP Kalibata sampai SMA Labschool Kebayoran pada 9 Agustus 2010. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan namun meninggalkan banyak kenangan dan saat perjuangan itu diakhiri dengan pelantikat pada tanggal 17 Agustus menjadikan LALINJU sebagai salah satu momen tak terlupakan dalam hidup saya.
Sebagai OSIS, kami pun harus mendampingi adik kelas dalam berbagai kegiatan terutama kegiatan Trip Observasi. Saya sendiri merasa senang mempunyai adik kelas yang dapat akrab dengan saya karena saya selalu tidak bisa akrab dengan kakak kelas sejak saya SD. Bagi saya, OSIS memberikan banyak pengalaman tentang bagaimana memimpin suatu kelompok dan juga bagaimana kita mengatur suatu acara yang akan kita buat.

Saya mengambil bidang rohani dalam OSIS yang memiliki 3 program kerja, yaitu Sahur On The Spot, Pembinaan Ca-Rohis, dan Lampion. Hal yang paling saya senangi adalah Sahur On The Spot karena kita bersama berbagi makan sahur kepada anak yatim dan sangat menyenangkan saat bisa melihat mereka makan dengan lahapnya. Namun, yang terberat bagi saya adalah Lampion karena saya mengetuai acara tersebut. Saya merasakan perjuangan yang benar-benar berat saat merencanakan Lampion. Dari acara ini saya akhirnya mengerti bagaimana sirkulasi keuangan itu sangat penting bagi kita. Banyak sekali yang harus kita atur, mulai dari bagaimana mempertahankan jumlah peserta hingga mencari dana kesana-kemari. Bahkan kami sempat dibuat bingung karena sampai hari H biaya yang ada masih kurang, untungnya ada pertolongan dari orang tua murid yang bersedia memberikan donaturnya kepada kami. Hal tersebut merupakan pengalaman paling berharga bagi saya dalam hal mengorganisir suatu acara.

Pengalaman-pengalaman yang telah saya dapatkan tersebut memacu saya untuk terus bergerak kedepan. Saya akhirnya percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Segala hal yang ingin kita lakukan asalkan itu baik dan bermanfaat pasti bisa tercapai asal kita mau bekerja keras. Begitu juga dengan impian saya di masa depan.

Seperti yang saya tulis di atas, saya sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan computer. Saya bercita-cita untuk menjadi desainer grafis yang senantiasa membuat suatu karya seni yang memiliki nilai keindahan dan komersil. Saya percaya dengan apa yang dikatakan guru saya. Mendapatkan uang itu mudah, semua hal bisa dijadikan uang asal kita tahu caranya dan mau berusaha.
Seperti sekarang ini, mungkin saya masih merasa berat untuk mencerna pelajaran yang diberikan oleh guru terutama pada mata pelajaran biologi. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin bukan? Saya yakin saya dan seluruh teman seangkatan saya pasti bisa melaksanakan segala sesuatu yang ada di sekolah dan kami semua akan lulus seangkatan dengan nilai yang memuaskan. Amin!