Tampilkan postingan dengan label Kartika Dwi Baswara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kartika Dwi Baswara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

Tugas 4 Sejarah; Saya dan Tsamina Mina- E E!

Tsamina mina eh eh
Waka Waka eh eh

Tsamina mina zangalewa
Anawa aa
This time for
Africa


Sekarang ini, siapa pula yang tidak kenal lagu tsamina mina? Lagu yang dibawakan oleh Shakira  sebagai lagu tema dari FIFA World Cup 2010 itu sangat terkenal dari berbagai usia dan banyak sekali menuai fenomena. Mulai dari video anak berumur 2 tahun yang menari saat lagu itu diputar dan ‘keajaiban-keajaiban’ lainnya.

Sebagaimana teman-teman sudah tahu, FIFA World Cup tahun lalu telah dilangsungkan di sebuah negara yang bertepatan dengan negara asal dari Nelson Mandela, sang pembela diskriminasi warna kulit dan seorang presiden dari negara yang akan saya bahas, yaitu Afrika Selatan.
Bendera Afrika Selatan

Gambaran singkat untuk Afrika Selatan kira-kira bias dijelaskan sebagai berikut; Afrika merdeka dari Britania raya pada tanggal 31 Mei 1910 (dominion) dan 31 Mei 1961 (Republik). Ibu kota dari Afrika Selatan terbagi menjadi beberapa bagian, Cape Town adalah ibu kota perundangan, Pretoria sebagai ibu kota eksekutif dan ekonomi, sedangkan ibu kota bagian kehakiman ditempatkan di Bloemfontein.
Pada masa dahulu, pemerintahan negara ini dikecam karena politik 'apartheid'nya. Pada Februari 1990, akibat dorongan dari bangsa lain dan tentangan hebat dari berbagai gerakan anti-apartheid khususnya Kongres Nasional Afrika (ANC), pemerintahan Partai Nasional di bawah pimpinan Presiden F.W. de Klerk menarik balik larangan terhadap Kongres Nasional Afrika dan partai-partai politik berhaluan kiri yang lain dan membebaskan Nelson Mandela dari penjara.  Penindasan kaum kulit hitam terus berlanjut sehingga akhir abad ke-20. 

Jacob Zuma
Tetapi, dewasa ini, Afrika Selatan adalah sebuah negara demokratis dengan penduduk kulit putih terbesar di benua Afrika. Afrika Selatan juga merupakan negara dengan berbagai macam bangsa dan mempunyai 11 bahasa resmi, yaitu Afrikaans, Inggris, Zulu, Xhosa, Swazi, Ndebele, Sotho Selatan, Sotho Utara, Tsonga, Tswana dan Venda. Negara ini juga terkenal sebagai produsen berlian, emas dan platinum yang utama di dunia.

Afrika Selatan menganut Republik Presidensiil sebagai system pemerintahannya. Jacob Zuma adalah presiden yang memipin negara ini sejak 9 Mei 2009 sampai dengan saat ini.
Dari segi geografi, Republik Afrika Selatan adalah sebuah negara di benua Afrika bagian Selatan. Afrika Selatan bertetangga dengan Namibia, Botswana dan Zimbabwe di utara, Mozambik dan Swaziland di timur laut. Keseluruhan negara Lesotho terletak di pedalaman Afrika Selatan.
Afrika Selatan terdiri dari sembilan provinsi yaitu:
  1. Eastern Cape
  2. Free State
  3. Gauteng
  4. KwaZulu-Natal
  5. Limpopo
  6. Mpumalanga
  7. North West
  8. Northern Cape
  9. Western Cape
Sedangkan, yang termasuk kota-kota utama di Afrika Selatan adalah Johannesburg (kota terbesar), Durban, Cape Town, Pretoria, Kimberley, Port Elizabeth dan Bloemfontein.
Pemandangan Cape Town
Afrika Selatan mempunyai iklim yang berbeda-beda. Di barat daya negara ini, iklimnya adalah Mediterania, di kawasan pendalaman ia beriklim sederhana, dan di timur laut iklimnya adalah subtropis.
Afrika Selatan merupakan salah satu negara tertua di benua Afrika. Banyak suku telah menjadi penghuninya termasuk suku Khoi, Bushmen, Xhosa dan Zulu. Penjelajah Belanda yang dikenal sebagai Afrikaner tiba disana pada 1652. Pada saat itu Inggris juga berminat dengan negara ini, terutama setelah penemuan cadangan berlian yang melimpah. Hal ini menyebabkan Perang Britania-Belanda dan dua Perang Boer. Pada 1910, empat republik utama digabung di bawah Kesatuan Afrika Selatan. Pada 1931, Afrika Selatan menjadi jajahan Britania sepenuhnya.
Afrika Selatan merupakan negara demokrasi konstitusional dengan sistem tiga tingkat dan institusi kehakiman yang bebas. Terdapat tiga peringkat yaitu nasional, wilayah dan pemerintahan lokal yang mempunyai badan legislatif serta eksekutif dengan daerah kekuasaan masing-masing.

Presiden Afrika Selatan memegang dua jabatan yaitu sebagai Kepala Negara dan juga Kepala Pemerintahan. Ia dipilih sewaktu Sidang Nasional (National Assembly) dan Majelis Provinsi-provinsi Nasional (National Council of Provinces) bergabung. Lazimnya, Presiden adalah pemimpin partai mayoritas di Parlemen.

National Assembly mempunyai 400 anggota yang dipilih melalui pemilu secara perwakilan proporsional. National Council of Provinces, yang telah menggantikan Senat pada 1997, terdiri dari 90 anggota yang mewakili setiap 9 provinsi termasuk kota-kota besar di Afrika Selatan.
Di Afrika Selatan, pemilu diadakan setiap 5 tahun dan setiap rakyat berusia 18 tahun ke atas diwajibkan untuk ikut. Pemilu terakhir ialah pada April 2004, di mana partai ANC berhasil memenangkan 69,68% kursi di parlemen.
Afrika Selatan adalah anggota beberapa organisasi internasional, di antaranya:
*       Persemakmuran
*       FAO : Food and Agriculture Organization
*       G-24
*       G-77
*       Gerakan Non-Blok
*       WHO : World Health Organization
Fashion di Afrika Selatan
Kesenian Afrika Selatan dapat dilihat dari berbagai lukisan gua dan batu oleh suku San, beberapa di antaranya dilukis sejak 26.000 tahun yang lalu. Manik-manik yang direka secara teliti oleh suku Zulu juga merupakan kerajinan tangan yang populer di negara ini. Sayangnya, budaya kaum kulit hitam telah dihapus sewaktu era-apartheid. Tradisi sehari-hari yang berkaitan erat dengan tradisi dan budaya kaum kulit hitam telah diabaikan dan juga dihapuskan. Contoh yang paling ketara adalah pemusnahan "District Six", suatu kawasan multibudaya di Cape Town dan Sophiatown di Johannesburg, di mana banyak pemusik-pemusik terkenal internasional berkumpul dan mengasah kemahiran mereka. Antara kelompok musik terkenal termasuklah Ladysmith Black Mambazo yang berhasil membawa musik Afrika Selatan ke dunia Barat, sebelum dan juga selepas apartheid.

Sosis Boerewors
Dari segi makanan, bistik atau sosis boerewors, sayur rebus dan chips (kentang goreng) adalah makanan utama, dan makanan yang lebih menantang biasanya agak menakutkan. Makanan di sini mengarah lebih kepada daging. Makanan kaum Afrika jarang dijual di restoran-restoran disini, walaupun orang-orang dapat mendapatkan nasi yang murah serta "stew" dari gerai-gerai di perkotaan. Bir dan brandy merupakan minuman paling popular di kalangan masyarakatnya, dan anggur semakin popular di sini.
Di Afrika Selatan, masa persekolahan adalah selama 13 tahun - atau tingkat. Namun, tahun pertama pendidikan atau tingkat 0 dan tiga tahun terakhir yaitu dari tingkat 10 hingga tingkat 12 (juga dipanggil "matric") tidak diwajibkan. Kebanyakan sekolah dasar menawarkan tingkat 0. Tetapi tingkat ini dapat juga dibuat di TK. Lazimnya untuk memasuki universitas, seseorang wajib lulus "matric" dengan minimum tiga mata pelajaran tingkat tinggi dan bukan sekadar lulus (standar). Malah beberapa universitas prestisius akan mengenakan syarat akademik yang lebih tinggi. Walaupun begitu, mereka yang lulus "National Senior Certificate" layak untuk belajar di "technikon" atau kampus teknikal.
Afrika Selatan adalah sebuah negara maju dengan penduduk yang berpendapatan sederhana. Negara ini kaya dengan bahan tambang terutamanya bahan tambang bernilai tinggi seperti emas, platinum dan berlian. Ia juga mempunyai sistem keuangan, perundangan, telekomunikasi, energi, infrastruktur yang maju dan modern. Bursa sahamnya di Johannesburg begitu aktif hingga pernah berada di urutan ke-10 terbesar di dunia.
Bahkan, mengutip dari http://www.ifinance-today.com/ menurut beberapa ekonom, memang layak menjadi anggota baru dalam aliansi negara-negara berkembang BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China) dibanding Indonesia. Afrika Selatan unggul dalam beberapa sektor, termasuk infrastruktur,  ketersediaan sumber daya alam yang melimpah serta birokrasi yang lebih baik dan tengah berkembang menjadi negara industri.

Namun demikan, wabah HIV merupakan masalah yang sangat besar di negara ini. Diperkirakan 4,79 juta penduduknya dijangkiti AIDS dan pemerintahan Afrika yang baru terpaksa mengeluarkan berjuta-juta Rand untuk menangani masalah ini. Sejak Afrika Selatan membuka perbatasannya selepas berakhirnya Apartheid, sindikat NAPZA internasional telah memasuki negara ini. Kini Afrika Selatan adalah produsen mariyuana terbesar di dunia.
Hubungan Indonesia-Afrika Selatan sudah terjalin baik sejak tahun 1994 ketika kedua negara menandatangani komunike bersama pembukaan hubungan diplomatik. Secara politis, Indonesia ikut mendukung perjuangan Kongres Nasional Afrika (ANC), partai yang dulu dipimpin Nelson Mandela, untuk menentang apartheid.

Sejak zaman Presiden Soeharto sampai Megawati Soekarnoputri, kunjungan ke Afrika Selatan sudah pernah dilakukan. Begitu sebaliknya, Mandela setidaknya dua kali ke Indonesia, yakni ketika masih menjadi presiden (1997) dan setelah tak menjadi presiden (2002).

Saya memang belum pernah ke Afrika Selatan, namun saya memiliki satu orang teman yang kebetulan adalah warga asli dari AfSel. Nama teman saya adalah Nakato Bella. Saya bertemu dengannya saat bersama-sama datang ke acara Asean Youth Conference yang diadakan di Jakarta bulan lalu.

Bella datang jauh-jauh dari Afrika untuk 'berkenalan' dengan Indonesia. Ia mengaku sangat tertarik datang ke Indonesia karena kemajemukan penduduknya. Walaupun sempat tidak diperbolehkan orang tua untuk pergi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam dan orang tua Bella yang sempat berpikir "Bella, kau tidak boleh pergi! Orang-orang Islam disana akan membunuhmu dan mengirimkan potongan tubuhmu dalam paket kembali ke Afrika" Bella akhirnya pergi juga, setelah beradu debat dan menjelaskan segala detail tentang Indonesia.
Bella bercerita bahwa kehidupan di Afrika sana tidaklah mudah. "kau harus bekerja untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Orang-orang tidak selalu optimis, karena itulah kau harus meyakinkan kepada mereka bahwa kau bisa. Berdoalah, dan jadilah orang yang baik. karena good things happen to good people".

Bella ingin menjadi inspirasi untuk orang-orang, remaja lebih khususnya.Setelah berbagi pengalaman dan bercerita tentang passionnya untuk mengubah dunia, Bella sukses mengubah pandangan saya akan orang Afrika yang barbar menjadi pekerja keras dan ambisius. walaupun saya tahu sifat satu orang memang tidak bisa mencerminkan sifat penduduk. 

Setelah mendengar pengalaman dari Bella, saya tersadarkan bahwa kehidupan di luar sana sangatlah 'kejam' dan kita tidak bisa terus menerus berleha-leha. Mungkin, inilah saat yang tepat untuk kita bercermin dan mulai belajar dari orang lain. 
Semoga Bermanfaat,

Kartika Dwi Baswara

Jumat, 20 Mei 2011

Tugas 3 Sejarah: Saya dan Museum Ga-WOW TOUCH SCREEN!

Artikel saya kali ini akan menceritakan tentang petualangan yang saya lakukan hari ini, hari Jum’at, 20 Mei 2011, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Walaupun diterjang hujan yang cukup deras,  saya tetap bersemangat karena saya akan mengunjungi Museum Nasional, yang mempunyai nama beken Museum Gajah. Mungkin inilah yang disebut dengan keajaiban Hari Kebangkitan Nasional, saya merasa sangat bersemangat dan merasa sangat ingin ‘bangkit’ untuk menyelesaikan tugas sejarah yang ke-3 ini. Selepas solat Jum’at saya langsung pergi ke Halte Blok M untuk mengantre Transjakarta.  
Tidak perlu menunggu terlalu lama di halte, karena sekitar 7 menit setelah saya membeli karcis, bis pun segera datang. Saya sangat merekomendasikan kepada teman-teman yang ingin berpergian ke museum yang berlokasi di Jakarta untuk menggunakan Transjakarta dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi. bayangkan! walaupun hujan cukup deras yang menyebabkan banjir di beberapa ruas penting DKI, ataupun adanya demo/unjuk rasa di sekitar Monumen Nasional, dan kenyataan bahwa saya pergi ke museum pada hari Jum’at siang yang identik dengan berhamburannya pegawai kantor di jalanan untuk makan siang tidak menyebabkan Transjakarta terhambat macet. Waktu yang diperlukan untuk saya sampai ke Museum Gajah dengan selamat dari Blok M hanyalah 20 menit. Dan bagian terbaiknya adalah, Transjakarta memiliki halte yang berada TEPAT di depan museum gajah. Alhamdulillah, jadi saya tidak perlu meneruskan perjalanan saya kali ini dengan naik taksi. Sekedar informasi untuk teman-teman yang ingin berpergian ke museum yang berada di daerah Kota (lebih dikenal dengan sebutan ‘daerah Mangga Dua’ untuk telinga teman-teman yang senang berbelanja)Transjakarta juga beroperasi sampai ke Kota, lho. Jadi, sangat memudahkan akses untuk teman-teman yang ingin berpetualan kesana. Museum yang bisa ditemukan di daerah Kota antara lain;  Museum Layang-layang, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, dan masih banyak lagi.
Kembali ke Museum Gajah, sekedar intermezzo saja Museum Gajah didirakan pada 24 April 1778 dan berlokasi di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. Museum ini disebut pula Museum Gajah karena memiliki patung gajah perunggu pemberian dari Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871. Sesampainya saya turun dari Transjakarta, saya langsung memasuki gerbang berwarna hijau lumut dari Museum Gajah. “Disambut” dengan Patung Gajah dan beberapa meriam yang menghadap kea rah Monumen Nasional, saya memulai penjelajahan Museum Gajah kali ini. Harga tiket masuk yang harus dibayar bisa dibilang sangat murah; hanya dengan merogoh kocek Rp 2.000,- (bahkan tidak lebih dari harga sebotol air mineral) dan anda akan bertambah pintar dari hari sebelumnya.
Tiket masuk Museum Gajah. Hanya Rp 2000!!!
Situs pertama yang saya kunjungi adalah koleksi patung dari Museum Gajah yang terletak di bagian utara loket tiket. Patung yang paling menarik perhatian saya adalah patung dewa perusak yaitu; patung dewa Syiwa. sangat disayangkan bahwa patung tersebut sudah memiliki beberapa kerusakan; antara lain di bagian mulut dan bagian bawah tubuh. Patung dewa Syiwa yang lain (plakat di patung ini menyebutkan bahwa nama lain dari dewa Syiwa adalah Dewa Bhairawa) memiliki ukuran kurang lebih 4 meter.  Dewa ini terkesan dewa yang paling ‘ganas’ dan menyeramkan. Bagaimana tidak? dengan tangan memegang belati dan tangan yang satunya memegang mangkuk (yang konon katanya berisi darah manusia) ditambah dengan hiasan berornamen tengkorak yang mengelilingi kaki Dewa Bhairawa sungguh membuat dewa ini akan memenangkan penghargaan untuk dewa yang paling ditakuti.
Beralih dari koleksi patung, saya beranjak masuk ke ruangan etnografi. Saya tidak terlalu memfokuskan perhatian ke koleksi di sepanjang ruangan ini, karena kebetulan di lokasi sedang mati lampu. Tentunya membuat suasana museum menjadi lebih horror apabila dibandingkan dengan suasana museum jika lampunya dapat dinyalakan. Di ruangan ini terdapat berbagai koleksi keramik, kerajinan, kesenian, dan masih banyak lagi dari berbagai pelosok daerah se-Indonesia.
Setelah dari ruangan etnografi saya beranjak ke gedung baru di Museum Gajah, yang disebut dengan Gedung B. berbeda dengan ruangan yang sebelumnya saya kunjungi, gedung b benar-benar terkesan lebih modern, terlebih lagi dengan adanya teknologi touch screen yang tersebar merata di gedung 4 lantai ini, tentunya lebih efektif memberikan informasi mengenai museum dan barang-barang koleksi dari Museum Gajah sendiri. Selain dari teknologi touch screen (yang sukses membuat saya terlihat seperti orang kampung masuk kota), terdapat pula escalator dan lift disetiap lantainya. Bagian yang paling saya suka dari Gedung B adalah; gedungnya yang sangat terang. dipenuhi lampu-lampu sorot disetiap koleksi barang dan berpuluh-puluh lampu yang senantiasa menerangi ruangan membuat perjalanan saya tidak se-“horror” perjalanan ruang etnografi saya. Untuk teman-teman yang sangat peduli lingkungan, tenang saja tidak perlu takut menghambur-hamburkan energy listrik yang tentunya bisa menyumbang kerusakan lingkungan, karena gedung dengan lampu-lampu yang banyak sekali jumlahnya ini baru diaktifkan listriknya saat ada pengunjung yang datang. Jadi, apabila sedang sepi dari pengunjung, listrik tidak dinyalakan.
Koleksi dari gedung B berisi tentang barang & alat dari zaman prasejarah. lantai 1 dipenuhi dengan replica dari manusia zaman prasejarah dan poster-poster yang berisi informasi tentang zaman pra-sejarah dan penemu-penemu dari manusia pra-sejarah; seperti Eugene Dubois dan lain-lain. Lantai 2 berisi koleksi dari alat-alat yang digunakan selama masa pra-sejarah; mulai dari alat transportasi (replica perahu), alat komunikasi (nekara), dan lain-lain. Hampir sama dengan lantai 2, lantai 3 juga berisi alat-alat. bedanya, di lantai 3 memiliki koleksi prasasti yang lebih banyak karena di lantai ini lebih difokuskan kepada organisasi atau bagaimana kerakyatan pada masa dahulu kala dibentuk. Di lantai 4 dapat ditemui koleksi dari kerajinan emas dan perak. Namun, sayangnya karena keterbatasan waktu saya tidak sempat mengunjugi koleksi di lantai 4.
Nah, sekarang koleksi Museum Gajah yang akan saya bahas adalah koleksi yang berasal dari lantai 3 Gedung B; yaitu prasasti-prasasti. prasasti yang akan saya bahas adalah prasasti Mulawarman, dan prasasti Ciaruteun.
Prasasti Mulawarman berasal dari kerajaan Kutai. Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yang berdiri pada abad ke-4 Masehi; terletak di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Berdirinya kerajaan ini menandakan berakhirnya masa pra sejarah dan dimulainya kontak dengan bangsa India. Kerajaan Kutai ini menganut kepercayaan Hindu Syiwa. Prasasti ini menceritakan tentang Raja Mulawarman yang merupakan raja yang memerintahkan untuk menulis Yupa. Pada prasasti ini, diceritakan bahwa Raja Mulawarman adalah raja terbesar Kerajaan Kutai yang pernah mengorbankan 20.000 ekor sapi kepada Brahmana dalam upacara Vratyastoma. Raja Mulawarman adalah raja ketiga dari Kerajaan Kutai setelah Raja Kudungga  (raja Kerajaan Kutai yang belum menganut agama Hindu), dan Raja Asmawarman (raja Kerajaan Kutai yang masuk menjadi penganut agama Hindu melalui upacara Abhiseka dan memperluas wilayahnya dengan upacara aswamedha. Raja Asmawarman juga dianggap sebagai Wangsakerta atau pembentuk keluarga).
Prasasti Mulawarman
Prasasti yang kedua adalah prasasti Ciaruteun. Prasasti ini berasal dari Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara adalah kerjaan kedua yang berdiri di nusantara setelah Kerajaan Kutai. Lokasi dari Kerajaan Tarumanegara ini ada di Jawa Barat (diperkirakan ada di wilayah Bogor) dan berdiri pada abad ke V masehi. Kerjaan ini menganut agama Hindu Waisnawa atau aliran Wisnu. Raja yang disebut dalam Prasasti Tarumanegara adalah Raja Purnawarman yang merupakan titisan Dewa Wisnu (Dewa penjaga). Prasasti merupakan salah satu sumber mengenai Kerajaan Tarumanegara.
Prasasti Ciaruteun
Tulisan yang terdapat dalam Prasasti Ciaruteun terdiri dari empat baris yang masing-masing terdiri dari delapan suku kata. Menurut narasumber, Prof.Vogel adalah orang yang menerjemahkan arti dari tuilsan pada permukaan prasasti ini. Kurang lebih pesan yang disampaikan dari prasasti ciaruteun adalah: “Kedua jejak telapak kaki yang seperti jejak kaki wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman raja Tarumanegara”.


Dari keterangan Prasasti Ciaruteun tersebut, telah didapat sebuah keterangan yang menjelaskan tentang keberadaan Purnawarman sebagai seorang raja Tarumanagara, yang menganut agama Hindu aliran waisnawa. Selain tulisan, dalam prasasti Ciaruteun terdapat juga lukisan yang berbentuk ikal dan sepasang tanda mirip gambar laba-laba atau matahari. Lukisan telapak kaki dianggap sebagai lambang langkah raja Purnawarman ke surga yang dipersamakan dengan perjalanan matahari, dari mulai terbit, kemudian mencapai titik tertinggi, terbenam, sampai akhirnya terbit kembali.
Yang membuat saya ingin menggali lebih dalam tentang prasasti ciaruteun adalah adanya telapak kaki yang cukup besar di permukaan prasasti ini. tidak seperti prasasti yang lain, yang kebanyakan hanyalah berisi tulisan sansekerta yang dipahat di batu, prasasti ciaruteun memiliki cap telapak kaki, yang konon ditafsirkan sebagai kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti) dan melambangkan kekuasasan seseorang sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan diibaratkan dewa Wisnu yang dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Untuk teman-teman yang memang ingin mengetahui lebih dalam tentang prasasti bisa mengunjungi museum taman prasasti di Jalan Tanah Abang No.1, Jakarta Pusat. Museum cagar budaya hasil peninggalan Belanda ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno serta miniature makam khas dari berbagai provinsi di Indonesia dan koleksi kereta jenazah antik.
Sekian informasi perjalanan dari saya. semoga bermanfaat.
Salam hangat,
Kartika Dwi Baswara

Rabu, 04 Mei 2011

Tugas 2: Saya dan Tokoh Sejarah, Nenek ku Seorang Kapiten


Mungkin judul diatas tidak sepenuhnya benar; nenek ku bukanlah seorang kapiten seperti yang saya nyatakan diatas. Akan tetapi akan lebih tepat apabila disebutkan; nenek ku adalah seorang mayor yang merangkap sebagai ibu dengan 6 anak.
Ya, beliau lah seorang wanita perkasa yang tak akan duduk manis melihat negrinya diinjak-injak, tak akan menutup mata apabila melihat orang terlunta, dan akan berteriak apabila seseorang menyuruhnya untuk diam dan bertekuk lutut. Ia adalah Hajjah Habibah Lubis, wanita perkasa yang hidupnya terkatung di laut, terkurung di hutan.
Setamat Sekolah Dasar, yang disebut HIS (Holland Inlandsche School), beliau melanjutkan ke Chu Gako, sederajat SMP. Di SMP ini beliatu tidak dapat meneruskan sekolah, karena Bapak berhenti ekerja dari DVO (Department Van Oorlog) sebagai Derde Commis karena kantornya ditutup.
Beliau terpaksa bekerja membantu orang tua, mengingat jumlah saudara beliau dua belas orang dan masih kecil-kecil. Selain alsaan ekonomi, beliau bekerja untuk mendapatkan tanda kepegawaian agar tidak diganggu oleh tentara Jepang. Pada zaman Jepang, gadis-gadis yang tidak sekolah atau tidak bekerja mendapat perlakuan tidak wajar, yaitu dijadikan gundik atau geisha.
Beliau terpaksa bekeraj di Gunseikanbu sebagai juru usaha karena keadaan memaksa. Pimpinan beliau waktu itu ialah Eiri San (San = Tuan), sekretaris Iiono San yang waktu itu menjabat Cookang (residen).
Beliau satu ruangan dengan Eiri San dan Teuku Nya’ Arief (kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional).  Beliau menjabat sebagai ketua Komite Pemerintah Daerah Aceh. Karena pergaulannya dengan orang Jepang cukup luwes, Habibah berkesempatan untuk belajar memahirkan bahasa Jepang. Kesempatan ini tentu saja tidak beliau lewatkan. Beliau berani berpidato dalam bahasa Jepang di hadapan orang-orang Jepang di bioskop Banda Aceh. Karena keberanian itu, beliau mendapat banyka penghargaan, antara lain Nippon O Taete, sekaligues menjadi juru bahasa bersama Bapak Bustanil Arifin (kemudian menjadi Mentri Kooperasi/Kabulog).
Habibah mengatakan bahwa pengalaman yang paling berkesan selama bekerja yaitu ketika beliau dipanggil Kempei, bernama Matsubuchi. Perawakannya yang tinggi besar dan gemuk, wajahnya yang seram, dan kumisnya yang tebal membuatnya disegani dan setiap penduduk yang berurusan dengan dia tidak akan pernah ada yang kembali, alias mendapat hukuman mati.
Habibah dipanggil karena disuruh membuatkan minnuman untuk tamunya, Isutani San. Oleh karena itu bukanlah pekerjaan dari Habibah, makan beliau menolak. Lantas, Isutani San marah dan membentak beliau, “Binatang!”. Seketika itu juga, darah Habibah mendidih dan langsung menjawab cercaan Isutani San dalam Bahasa Jepang, “Mosi watakusiwa dobatsu anato no dobotku” (Kalau saya binatang, kamu juga binatang”. Untungnya, Habibah tidak ditampar atau ditahan, ternyata ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, Kempai melakukan harakiri (bunuh diri).
Tahun 1945
Sekitar pukul 08.00 pagi, semua pegawai kantor berkumpul di halaman pendopo. Di hadapan rakyat Aceh, termasuk Habibah, telah berdiri Iiono San, di samping Eiri San, mengumumkan bahwa Nippon kalah tapa syarat dan akan kembali ke negeri Sakura. Pengumuman ini disampaikan Eiri San dalam bahasa Indonesia. Semua orang bergembira. Waktu itu bendera Jepang masih berkibar di atas gedung. Setelah Teuku Daud Beureuh menggantikan tempat Iiono San, barulah bendera Jepang diturunkan dan Merah Putih dikibarkan. Semua berjalan lancer tidak ada huru-hara.
Kantor tempat Habibah bekerja dijadikan kantor residen, yang menjadbat residen adalah Teuku Tjik Daoed Syah, sedangkan wakilnya Teuku Amin. Pimpinan beliau sendiri waktu itu Commis Usman. Kantor berdekatan dengan tangsi tentara Jepang di sekitar Kota Alam, Banda Aceh. Suasana hari itu sangat mengerikan, kapal terbang dengan suara gemuruh melayang-layang sangat rendah, seperti mau menyambar-nyambar. Habibah sangat takut apabila ada bom yang dijatuhkan, selintas beliau teringat masa kecil ketika senang membaca buku-buku sejarah, dan buku yang paling berkesan bagi beliau adalah Perang Aceh. Dalam buku itu dikisahkan bagaimana kejamnya tentara kompeni Belanda, orang kape (kafir), membunuh rakyat.
Masuk Dunia Militer
Ketika itu, beliau berumur delapan belas tahun. Bersama Sarijah, Supinah, Sumiyati, dan Anneke, beliau mendaftarkan diri ke kantor Pesindo Banda Aceh untuk menjadi anggota Laskar Wanita. Banyak pegawai kantor pemerintah dan swasta serta anak-anak sekolah yang juga mendaftar. Faktor yang menyebabkan beliau ingin masuk kelaskaran, selain abang tertua, Mohammad Zein, menjadi anggota Pesindo, juga karena seringnya beliau mendengar siarang radio, terutama pidato Bung Tomo di Surabaya. Pidatonya selalu berkobar-kobar, membakar semangat, dan membangkitkan keberanian.
Beliau masuk Laswi dengan pangkat Sersan. Komandan beliau waktu itu Bapak Ali Hasymi, Ketua Pesindo yang kemudia menjabat Gubernur Aceh. Sepulang kerja, hamper setiap hari selalu berkumpul di lapangan, belajar baris-berbaris dari pukul 16.00 hingga 18.00 petang. Selain itu, beliau juga diajarkan cara menggunakan senjata. Pendidikan ini diberikan oleh Ketua Laswi, yaitu Ciek Angah.
Malam hari, beliau sering mendapat tugas di statsiun kereta api Banda Aceh. untuk tugas malam, beliau sering mendapat kesulitan pamit orang tua, karena beliau masuk Laswi tanpa sepengetahuan orang tua. Tugas malam merupakan tugas wajib, karena kalau tidak datang akan dilaporkan ke komandan. Pada Suatu hari, sekitar pukul 22.00, Habibah akhirnya memeberanikan diri pamit kepada orang tua dengan keterangan panjang lebar. Akhirnya orang tua Habibah pun rela melepaskan anak gadisnya untuk bertugas demi perjuangan, dengan pesan agar menjaga diri, jangan membuat aib nama keluarga, dan masih banyak lagi.
Selama masa revolusi, kereta api tiba tidak menentu, kadang pukul 01.00 lewat tengah malam atau pukul 02.00. Selama menunggu, beliau sering menyanyikan lagu-lagu perjuangan agar tidak mengantuk.Kalau kereta api tiba, wajib mendengar instruksi agar jeli melihat penumpang yang turun. Regu putrid siap memeriksa setiap penumpang wanita. cara memeriksanya, mereka tidak terkecuali harus masuk ke dalam salah satu ruang stasiun. Koper, baju, konde, semua diperiksa dengan teliti satu per satu. Biasanya kaki tangan Belanda menyelipkan kode di konde merekam berupa benang merah putih biru atau angka 1234. Setiap penumpang yang dicurigai dicatat namanya, kemudian dilaporkan kepada komandan.
Masuk Dapur Umum, Membantu Palang Merah
Pada zaman perjuangan, rasanya apa yang dapat dilakukan ingin Habibah kerjakan. Bersama  
Anna, Lisma, Hiswani, serta teman-teman lain membantu ibu-ibu di dapur umum membungkus makanan. Kadang-kadang, yang dibungkus hanya ketan kuning dengan kelapa inti, lain waktu nasi putih dengan gulai Aceh. Makanan yang telah dibungkus daun pisang, dibawa ke front untuk para prajurit yang sedang berjuang di garis depan.
Khusus untuk Palang Merah,langsung dibimbing dan diuji oleh Letkol Dokter Hahjudin, Kepala Rumah Sakit Banda Aceh. Saya lulus dan mendapat diploma Palang Merah. Setelah lulus, seringkali ditugaskan di Rumah Sakit Kota Alam, merawat orang-orang yang menderita luka bakar atau patah tulang.
Pengalaman Tak Terlupakan
Ketika Presiden Soekarno datang ke Aceh, Habibah ikut menyambutnya berbaris bersama lascar yang lain. Di hari kedua, ketika Bung Karno singgah di pendopo, Habibah pun berusaha hadir di sana. Oleh karena Habibah adalah pegawai karesidenan, beliau bebas keluar masuk pendopo dan sempat berfoto bersama Presiden di tangga bersama residen dan wakilnya, keluarga Bapak Jamil, Noermala Saleh, dan lain-lain.
Tanggal 10 Juni 1948, Habibah menikah dengan Usman Effendie, seorang anggota TNI dari Sumatra Timur Bagian Intel berpangkat Letnan II. Berhubung tugas suami Habibah di Sibolga, beliau pun ikut mendampinginya berjuang, meninggalkan orang tua dan sanak saudara. Dalam perjalanan ke Banda Aceh, Meulaboh, Meukik, dan Tapaktuan, Habibah ikut rombanongan TNI selama lebih kurang sepuluh hari.
Habibah ditugaskan di Bagian Kesehatan (PMI). Romobongan yang terdiri dari dua belas orang itu, wanitanya hanyalah Habibah seorang diri. Naik kendaraan dari Banda Aceh menuju Meulaboh selama satu hari, dan dari Meulaboh ke Meukikjuga ditempuh dalam waktu satu hari. Kendaraan yang menyerupai gerobak dan sering mogok di jalanan, ditambah dengan kodisi jalan darurat yang belum beraspal, membuat perjalanan jarak dekat itu ditempuh dalam waktu satu hari.
Di Meukik, menginap di rumah penduduk. Setelah dua hari dalam perjalanan, rasanya badan pegal-pegal. Oleh karena situasi perang, yang kemungkinan sewaktu-waktu apapun bisa terjadi, hati beliau selalu diliputi rasa was-was. Namun, rombongan selalu siap siaga, walaupun sedang beristirahat.
Keesokan harinya, berangkat lagi melanjutkan perjalanan menuju Tapaktuam yang memakan waktu satu hari. Akhirnya, Habibah istirahat di rumah penduduk, perjalanan pannjang terasa sangat melelahkan karena harus menyebrangi dua sungai dengan menggunakan rakit.
Dari Tapaktuan menuju Sibolga, bersama beberapa orang dari angkatan darat, laut, dan udara terpaksa mengarungi Samudera Hindia dengan tongkang. Kebetulan kebagian tempat di atas atap, karena tongkang kecil itu sudah penuh sesak dengan penumpang lain.
Dalam perjalanan, tongkang yang ditumpangi diserang badai membuat terhempas kesana kemari. Cadik tongkang patah, orang-orang panik berteriak-teriak menyuruh mencari keseimbangan. Habibah takut sekali melihat ombak bergulung-gulung semakin menggunung. terbayang wajah orang tua, maklum baru pertama kali pergi jauh tanpa mereka. Perasaan beliau saat itu, “pasti mati tenggelam”. Beliau berpegangan erat dengan tangan Usman, suami Habibah, untuk mencari kekuatan dan ketenangan. Rasanya perahu yang ditumpangi hendak ditelan laut, persis seperti sabut kelapa yang terombang-ambing dipermainkan ombak. Hujan turun semakin deras, suara gemuruh menunjang deburan gelombang yang mengganas diseling kilatan petir menyambar-nyambar di kegelapan langir, memacu debaran jantung yang semakin cepat berdetak. Begitu angin bertiup kencang, layar pun cepat diturunkan. Namun, perahu ketinggalan kompas dan semua penumpang berusaha mencaru keseimbangan agar perahu tidak terbalik.
Setelah beberapa jam dipermainkan gelombang, akhirnya badai berlalu dan tongkang kami terbawa arus ombak menuju sebuah pulau, bernama Pulau Dua. Semua penumpang lalu menuju pula itu, yang tidak berpenghuni. Untuk mencapai pulau itu, harus naik perahu kecil, dan ketika Habibah meloncat dari tongkang ke perahu itu beliau tergelincir dan tercebur ke laut, untunglah Usman cepat menangkap tangan Habibah.
Semua penumpang tongkang terpaksa menginap di pula tersebut. Walaupun tidak ada rumah penduduk, tetapi banyak saung bekas tempat tinggal nelayan. Di situlah  tempat menginap sampai tongkang selesai diperbaiki. Habibah kedinginan, maklum baju basah dan angin bertiup dengan sangat kencang. Dalam penantian di pulau itu, karena banyak buah sukun, berhari-hari hanya makan sukun bakar dan ikan bakar tanpa nasi. Untung dalam perahu banyak persediaan air, alhasil untuk minum tidak mendapat banyak kesulitan.
Setelah tongkang siap berangkat, akhirnya pun berlayar lagi. Hampir satu minggu terapung dikelilingi laut lepas, sebelum akhirnya sampai di Sibolga. Dari Sibolga melanjutkan perjalanan ke Padang-Sidempuan, lalu kemudian ke Kotanopan bersama-sama Laskar Republik Indonesia.
Dari kotanopan, berjalan kaki (long march) bersama anggota Laskar RI dibawah pimpinan Kapten Kasmir dan mayor Ali, menuju Bonjol melewati jalan tikus di Bukit Dua Beleh. Dalam perjalanan ada beberapa lascar yang terserang penyakit malaria. Tugas Habibah adalah merawat mereka yang sakit. Obat yang beliau berikan adalah Etebrin, pil berwarna kuning. Merawat orang sakit dalam perjalanan memang tidak mudah, karena ada yang harus ditandu.
Di Muara Sipongi, bergabung dengan terntara disana dan tanpa disangka-sangka bertemu dengan Letnan Sangkot Lubis. Selagi beristirahat, sering berkumpul mendengarkan radio, terutama siawan dari Jawa dan daerah sekitar pos perjuangan. Waktu itu belanda sudah masuk kota Pandang-Sidempuan dari Sibolga, juga Bukit Tinggi. Habibah pada saat itu tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan medan. Setelah mendengar berita itu, rombongan berangkat lagi melalui jalan setapak (jalan tikus) masuk hutan keluar hutan. Hutan di Sumatra terkenal banyak binatan buasnya. Bila berjalan beriringan, Habibah tidak pernah mau ditempatkan paling belakang, karena takut diterkam harimau.
Selama perjalanan keluar-masuk hutan, selain kaki terasa pegal, baju pun sudah penuh tambalan, karena sering koyak tersangkut ranting-ranting pohon. Alhamdulillah, selama perjalanan dalam perjuangan Habibah tidak pernah sakit. hampir di setiap desa rombongan selalu berhenti, penduduk selalu ramah dan menyediakan makanan ala kadarnya. Kalau Habibah ingin makan enak, terpaksa beliau pergi ke kota dan menjual gelang atau cincin pemberian orang tua.
Perjalanan dilanjutkan lagi ke kota Rao, yang terkenal dengan nyamuk malarianya. Kata orang,gigitan nyamuk malaria bisa membuat pecah ban mobil, begitulah yang digambarkan tentang ganasnya nyamuk di kota itu. Mendengar hal itu, Habibah sama sekali tidak merasa takut. ketika malam tiba, berjalan di jalan raya menuju Bonjol dan menginap di rumah penduduk. kebetualan Habibah menginap di rumah Zus Yo, penyiar radio Nirom, yang juga pejuang dan rumahnya dekat Kali Bonjol. Pada suatu malam, hujan turun dengan derasnya, air sungai meluap ke jalan. Habibah takut sekali, karena tidak bisa berenang. Pernah suatu waktu beliau hamper tenggelam, ketika menyebrang untuk mendengar kabar dari teman-teman seperjuangan yang waktu itu ada di seberang. Di Bonjol, kami bergabung dengan laskar RI yang dipimpin oleh Mayor Ahmad Taher, yang kemudian menjabat Mentri Telkom, beserta Ibu Roslila, istrinya.
Pada akhir tahun 1949, kembali ke Kotanopan, Panyabungan, kemudian ke Sibolga. Di sana, bertemu dengan Mayor Ibrahim Aji, Bapak Marpaung, yang kemudian menjadi Duta Besar RI di Australia, dan juga Letnan Hasibuan. Saya menginap di rumah Letnan Hasibuan di Jalan Simare-mare. Ketika itu, Bapak Hasibuan bersama teman-teman lain termasuk Usman, suami Habibah, membentuk kesatuan CPM. Setelah itu, Habibah tidak turut melanjutkan perjuangan karena sakit malaria tropikana.
***
Pengalaman saya sewaktu mewawancarai narasumber dapat dikatakan tidak begitu bersusah-payah. Mengingat narasumber adalah nenek kandung dari pihak ibu, jadi dapat dengan mudah bertemu. Memori dan ingatan dari narasumber juga masih sangat baik, walaupun umurnya sudah kepala delapan. Ekspresi dan masih tajamnya kemampuan narasumber untuk meruntutkan kejadian member kemudahan bagi penulis. Satu-satunya kesulitan adalah pengaturan jadwal untuk wawancara dan menarasikan tugas ini sendiri, dikarenakan waktu dan jadwal penulis yang sangat padat, dikarenakan tugas dari sekolah maupun luar sekolah yang cukup banyak.
Salam hangat,
KDB
bersama keluarga besar

Rabu, 13 April 2011

“Tugas 1- 17 Tahun Hidup Saya, Pencarian Passion Tiada Akhir”


“Understanding is a wellspring of life unto him that hath it”
                                                                                Proverbs 16:22

Saya adalah seorang siswi yang bersekolah di SMA Labschool Kebayoran dan sedang duduk di bangku kelas XI IPA 3. Pencarian passion tiada akhir menjadi judul autobiografi saya, karena selama 17 tahun saya hidup, saya belum bisa mengatakan dengan pasti apa passion saya. Saya tidak yakin, pekerjaan macam apa yang saya rela lakukan tanpa diberi imbalan. Mungkin terdengar sedikit pamrih dan egois, tapi itulah kenyataannya. Sedihnya, selagi teman-teman yang lain sudah mengetahui dengan mantap akan menjadi apa kelak mereka di masa depan, saya masih ragu dan bahkan masih sering berubah pikiran.
Walaupun jujur saya belum bisa menentukan dengan pasti apakah passion saya itu, namun untuk mengetahui dengan pasti apakah passion sesorang, maka haruslah ditempuh dengan mencoba segala sesuatunya bukan? Karena itu, saya adalah tipe orang yang sangat  sering mencoba berbagai hal, bisa jadi hal itu pulalah yang sukses membuat saya jadi bimbang menentukan jurusan kuliah masa depan saya, saking banyaknya hal yang membuat saya tertarik. 
Perkenalkan, saya adalah seorang kutu buku tukang debat yang senang bermain gitar yang gemar menggambar dan senang mendaki gunung.
Saya adalah Kartika Dwi Baswara dan inilah autobiografi saya.
PERIODE I; Bayi Kecil itu Adalah Aku
Saya tidak dapat mengingat banyak hal dari periode ini. Periode ini bermula pada saat saya dilahirkan, hingga berumur 5 tahun. Pada saat itu, saya hanyalah organisme kecil yang baru saja membuka mata untuk pertama kalinya setelah ‘tertidur’ selama 9 bulan dengan nyaman di rahim ibu. Inilah debut pertama saya di bumi, Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta 6 Maret 1994 sekitar pukul 07.00 WIB oleh pasangan Onny Sartono, seorang pegawai negri, dan Itje Roosita, yang berprofesi sebagai wartawan. Saya tidak mengingat apa-apa, saya tidak mengingat siapa suster yang menggendong saya. Saya tidak mengingat seberapa terang cahaya yang pertama kali saya lihat. Bagaimanapun, mendengar dari cerita oleh orang tua saya, mereka mengatakan bahwa saya dulu tergolong pada bayi yang kurus. Berat saya hanya 3 Kg. Orangtua saya juga memperlihatkan kartu golongan darah dan sertifikat kelahiran saya. Bukti nyata bahwa saya adalah anak kandung dari orangtua saya.Pada tanggal yang sama, 39 tahun yang lalu lahirlah seorang Cyprien Ntaryamira. beliau adalah mantan dari presiden Burundi.
(1995) Pada umur 1 tahun, saya sudah bisa berjalan dan kata pertama yang saya ucapkan adalah “babu” yang merupakan gabungan dari “mbak” dan “ibu”. Pada saat saya kecil, yang mengasuh saya adalah pembantu rumah tangga yang saya anggap seperti ibu sendiri. Namanya adalah Mbak Nah. Ia sudah bekerja bersama dengan keluarga saya selama 11 tahun. Karena kakak saya sudah sekolah (perbedaan umur saya dan kakak saya adalah 5 tahun) maka saya sejak berumur 1 tahun sudah terbiasa untuk memegang bolpen dan kertas. Saya juga sering melukis di tembok yang tentunya membuat ibu saya marah.Di tahun ini, Finlandia, Swedia, dan Austria bergabung ke dalam Uni Eropa.
(1996) Ada kebiasaan di keluarga kami untuk menyempatkan pergi ke mall bersama-sama pada hari Sabtu untuk membeli buku. Pada umur 2 tahun, karena bosan dibelikan buku cerita dan mewarnai, saya memilih sendiri buku anak-anak berbahasa Inggris yang cukup mahal harganya. buku itu saya pegang terus dan tidak mau saya lepaskan. Entah apa yang ada di pikiran saya, karena pada saat itu saya masih belum bisa membaca.Pada tanggal 20 januari, Yasser Arafat dipilih kembali sebagai presiden Palestina.
(1997) Menginjak usia 3 tahun, jiwa wartawan dari ibu saya turun secara alamiah ke saya. Pada saat bermain bersama Mbak Nah, saya menepuk seekor nyamuk. Tanpa alasan yang jelas, saya membuat berita tertulis tentang itu di atas kertas. Judulnya adalah “Tewasnya seekor nyamuk”. Padahal pada saat itu saya baru belajar merangkai kata! oh, dan di tahun ini pula saya masuk play group di Bakti Mulya 400, mengenal berbagai macam teman baru dengan sifat beragam dan untuk pertama kalinya mengikuti ekstrakurikuler menggambar. sejak pertama kali mengikutinya, saya langsung senang sekali. saya selalu menunjukkan hasil mewarnai saya selama kepada ibu saya, dan ekspresi bangga dari wajah ibu saya selalu sukses membuat saya ingin mewarnai dan mewarnai lagi. mewarnai tetap menjadi ekskul yang saya senangi dan saya selalu menjadi peserta dari ekskul ini sampai dengan kelas 6 SD. Ternyata, ada 2000 barang seni dan antik Perancis yang dicuri oleh Nazi, hal ini terbongkar pada tanggal 27 Januari.
(1998) Usia 4 tahun, terjadi sesuatu yang sangat penuh keajaiban. Saat sedang bermain bersama kakak saya, saya terjatuh dari tempat tidur tingkat dengan kepala terlebih dahulu yang menumbuk tanah. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Ibu saya mengatakan, itu karena saya masih dilindungi Allah. Di tahun ini, saya mulai memasuki taman kanak-kanak. masih di tempat yang sama, yaitu Bakti Mulya 400.
Di tahun ini pula terjadi kerusuhan besar-besaran. rakyat anti rezim Soeharto setiap harinya demo meminta diturunkannya Soeharto dari kursi kepresidenan. Saya yang masih balita tidak tahu menahu mengenai hal ini. satu hal yang saya tahu, pada saat dilaksanakannya pemilu saya pro golkar, dan selalu meminta ibu saya untuk membeli stiker dan kaos dengan lambang golkar. Lagi-lagi tanpa alasan yang jelas mengapa saya melakukan hal itu.
(1999) Usia 5 saya mulai mengenal olahraga baru yaitu, berkuda! selagi menginap di rumah nenek saya di Bandung, saya diajak untuk pergi berkuda di daerah Lembang. tentu saya senang bukan kepalang, karena saya belum pernah berkuda sebelumnya, dan berkuda adalah hal yang keren.
Di tahun ini pula, gelar juara monopoly keluarga saya diberikan ke saya. Setelah sukses mengalahkan kakak, ibu, dan ayah saya dalam permainan monopoly yang sering kami mainkan.  Mungkinkah hal ini berarti saya cocok menjadi pengusaha? ngomong-ngomong soal monopoly dan uang, pada tahun ini tanggal 1 Januari, mata uang Euro disahkan lho!
**Cita-Cita selama berada pada periode 1 : Guru

PERIODE 2; Kekuatan Super Anak SD; Gadis yang Tak Nampak
Masa SD adalah masa yang paling saya tidak sukai. Alasannya:
Andaikan google earth diperintahkan untuk mencari lokasi saya,  bahkan andaikan saya setinggi gedung WTC sebelum kejadian 9/11, saya yakin google earth tidak akan menemukan saya
Mengapa?
Karena saya tidaklah ‘terlihat’. Saya adalah teman yang kelak, 10 tahun setelah lulus SD tak akan diingat namanya.
2000, millennium baru, sekolah baru, teman baru. Terdengar menyenangkan, padahal tidak. Teman-teman baru yang saya awalnya anggap dapat dengan mudah berteman dengan saya, ternyata terlalu kekanak-kanakan.  Hal ini membuat saya sulit untuk mendapatkan teman dekat. Tentu, tentu saya berbicara kepada hamper semua orang yang menjadi teman kelas saya, hanya saja saya tidak mempunyai teman dekat seperti saat di Taman Kanak-Kanak dulu.  Saya yang bersifat pendiam pun tidak memiliki masalah dengan itu.Di tahun ini, ada meteorit bernama Targish Lake yang 'mengunjungi' bumi lho!
2001, kelas 2 SD. Di kelas ini saya mulai mendapatkan banyak teman, mungkin karena teman-teman baru saya memiliki sifat yang mirip dengan sifat saya. Di tahun ini pula saya mulai mengikuti ekskul tae kwon do dan menggambar. Dunia pendidikan berkembang sangat pesat dengan berhasilnya operasi Robert Tools yang menjadikannya orang pertama yang hidup dengan jantung buatan.
2002, saya naik ke kelas 3. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di kelas ini, karena semuanya sama-sama saja. Namun, ada sesuatu yang menggemparkan terjadi di tanah Indonesia. Yaitu, terjadinya bom bali 1, yang menewaskan ratusan turis local dan wisatawan mancanegara. Sungguh mengerikan, hal ini tentunya berdampak pada kestabilan Negara. Pada tanggal 1 Februari, reporter dari Wall Street Journal, bernama Daniel Pearl dibunuh setelah sebelumnya diculik di Karachi, Paksitan.
2003, untuk pertama kalinya saya pergi ke luar negri! ini terjadi pada bulan oktober, dan sekolah sedang tidak libur, jadi saya ‘terpaksa’ bolos selama kurang lebih 3 minggu. ayah, ibu, kakak, dan tentnya saya pergi ke Perancis untuk mengunjungi Bude (kakak dari bapak) yang kebetulan baru sembuh dari penyakit kanker. Saat sudah sampai disana, kami diajak bertamasya  pula menyebrangi berbagai Negara tetangga, seperti Belanda, Belgia, dan Luxembourg. Di tahun ini saya mencoba ekstrakurikuler baru, yaitu tae kwon do. Di tahun ini, dilaksanakan G8 Summit ke-29, di Évian-les-Bains, Perancis.
2004, kelas 5. ada satu hal yang saya lakukdan dan menurut saya itu cukup, tercela dan tidak pantas ditiru, apabila saya bisa mengatakannya demikian.
Satu hari, ada teman sekelas saya yang mencela orang tua saya karena nama mereka. Entah atas dasar apa dia melakukan hal itu, yang jelas membuat saya marah besar. Orangtua saya adalah 2 figur peran yang sangat saya cintai dan hormati. Begitu mudahnya nama mereka dicela sama saja seperti menyulut api di pompa bensin. Hatiku bergulung-gulung dan berdebur, layaknya ombak yang kalang kabut saat tsunami besar-besaran di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.
saya selalu berpikir, “saya akan baik-baik saja karena saya bersama orangtua saya”. bapak saya adalah bata dan semen dan merupakan titik utama kekokohan keluarga saya yang berperan pula menjadi lem yang merekatkan kami sekeluarga menjadi satu. tentu, ia adalah orang yang keras dan disiplin. tapi itu tidak berarti ia adalah orang yang kasar dan jahat. ia hanya ingin menjadikan kedua putrinya menjadi anak-anak terbaik.
maka, seperti teori aksi = reaksi, saat ada yang memberi mu gaya 100 N, maka kamu akan terdorong ke terbalikan arah gaya tersebut 100 N. Dengan kata lain, saat ada yang meledek orang yang kamu hormati dan membuatmu kesal 100 kali lipat, maka kamu akan bereaksi 100 kali lipat pula. Awalnya, saya tidak bereaksi dan berusaha untuk sabar. Lama kelamaan, seperti air yang sedang mendidih dan dibiarkan di masak di atas api, saya sudah tidak tahan lagi dan munculah jambakan pertama saya dan diiringi oleh beberapa pukulan khas remaja perempuan.
Berita ini tentu sampai ke orang tua saya, dan mereka kaget. Anak perempuan yang pendiam berani menjambak preman sekolah Karena membela nama baik orangtuanya. Saya sudah pasrah dan iklas apabila Karena saya memang pantas untuk dihukum. Bagaimanapun, ternyata orangtua saya hanya menasihati saya.
Semenjak itu, bapak yang saya kira terbuat dari batu ternyata hanyalah manusia biasa. Karena bingung, saya menceritakan tentang seluruh kejadian ini kepada sahabatku.
Kata-kata yang ia ucapkan, sangatlah mengena:
“There’s nothing wrong with melting. It only proves he’s warm”
Akibat dari kejadian ini adalah ibu saya memberhentikan saya dari ekskul tae kwon do.
Tahun ajaran 2005-2006, KELULUSAN! akhirnya masa jahiliyah ini akan segera berakhir. Saya sangat bersyukur dan tidak sabar untuk mulai memakai rok biru. Bukan berarti selama saya SD saya tidak memiliki teman, saya mempunyai 5 sahabat yang sangat spektakuler, hanya saja banyak pula hal-hal yang ingin cepat-cepat saya tutup buku karena saking jengkelnya, seperti kejadian kelas 5.
23 Desember 2005; sehari sebelum natal, Chad menyatakan perang terhadap Sudan.
**Cita-cita saya semasa SD : Rockstar
PERIODE 3;Rok Biru Baru!
Banyak sekali kenangan saya saat SMP, sampai-sampai saya bingung harus menceritakannya darimana. Saya adalah murid lulusan dari SMP Labschool Kebayoran dan Alhamdulillah, tidak seperti saat SD, saya tidak kesulitan mendapatkan teman dekat di SMP.  Bahkan saya termasuk ke dalam organisasi siswa (OSIS) saat saya SMP. sungguh, hal itu bukanlah hal yang dapat dengan mudah dilupakan. saya mendapatkan berbagai teman dengan watak dan sifat yang tentunya beragam, dan pelajaran yang tidak ternilai harganya; berorganisasi.
Di SMP ini ekskul yang saya ikuti adalah teater. teater sangat mengubah hidup saya, karena dengan mengikuti teater saya yang tadinya sangat pendiam dan pemalu berubah drastis menjadi orang yang lebih berani tampil di depan.
Selain teater, kegiatan tambahan yang saya ikuti adalah les gitar. saya sangat mencintai hobi ini, karena dengan musik saya dapat menyampaikan emosi dan perasaan saya terhadap satu dan lain hal. Hanya saja, saya tidak berlama-lama mengikuti les gitar klasik ini. Alasannya sangat simpel, karena saya tidak menyukai musik klasik. Partitur yang terlalu membingungkan dan musik yang tidak sesuai selera saya membuat saya hanya bertahan menjadi murid sekolah gitar selama 2,5 tahun. Selanjutnya, saya menyadari bahwa jenis musik yang saya senangi adalah rock. Dari sini, saya mulai menabung untuk membeli gitar listrik dan belajar dengan cara otodidak.
Terlepas dari ekskul saya yang cukup banyak, bisa dibilang, SMP Labsky adalah salah satu dari sedikit sekali SMP yang memiliki banyak kegiatan. salah satunya adalah bintama. selama 5 hari kami ditempa dan dibimbing oleh marinir yang berkedudukan di Cilandak. satu kata yang dapat menggambarkan bimensi; indescribable. Bayangkan saya untuk pertama kalinya disuruh untuk makan dengan menggunakan omprengan, dalam 10 hitungan (kira-kira sekitar 3 menit) makanan dengan nasi setinggi gunung dan daging sekeras sandal jepit harus habis. Teman saya yang duduk di depan saya sampai muntah, dan saya harus menyaksikan itu semua sambil terus menyantap makanan.
Kelas 9 adalah kelas yang sangat penuh dengan TRY OUT. hamper setiap 3 minggu sekali dilaksanakan try out, entah itu dari sekolah atau sanggar atau sekolah atau sanggar. muak sudah pasti. tapi saya mengerti itu semua demi kebaikan saya sendiri. Alhamdulillah, dengan bimbingan seluruh guru dan teman, saya dapat lulus dengan NEM yang membanggakan.
**Cita-cita Si Rok Biru : Design grafis, pilot, arsitektur
PERIODE 4; Ucapkan Halo Pada MAFIA (Matematika Fisika Kimia) !
Pada tahun 2009, setelah akhirnya lulus dari SMP Labschool Kebayoran saya melanjutkan perjalanan pendidikan saya (tidak jauh-jauh, bahkan tidak sampai berbeda 1 KM), yaitu ke SMA Labschool Kebayoran.
Di SMA ini hidup saya juga banyak mengalami perubahan menjadi lebih baik lagi. Mulai dari keikutsertaan saya ke dalam ekskul pecinta alam dan debut saya di bidang penelitian. Saya yang dulu saat SMP adalah tipe anak yang senang bercanda berubah menjadi orang yang lebih dewasa.
Pecinta alam labschool kebayoran atau PALABSKY telah mengajari saya apa itu arti persahabatan, kerjasama, dan tanggung jawab. bukan sekedar ekskul pecinta alam yang kerjanya naik turun gunung setiap minggu, akan tetapi juga pembelajaran mengenai berorganisasi dan untuk menghormati satu sama lain. Kegiatan yang kami lakukan juga sangat beragam, mulai dari susur pantai, navigasi darat, pendakian gunung pertama saya selama di Palabsky (yaitu gunung kencana di Jawa Barat), rafting, caving (penyusuran gua), rock climbing, dan eksplorasi gunung.
meletusnya gunung Rinjani pada tahun 2010, secara tak langsung membuat hati saya ‘meletus’ juga karena kegirangan. saya dilantik menjadi pengurus palabsky dengan nama angkatan Adrika Phataka yang memiliki arti satu gunung yang tangguh. saya menjadi sekretaris umum angkatan dengan nomor anggota 089.09.AK06
Selain mengikuti kegiatan organisasi, akademik saya pun juga mengalami peningkatan dibandingkan saat saya duduk di bangku SMP.  Saya sudah cukup sering menjadi peserta dalam berbagai lomba penelitian, baik yang secara skala nasional maupun internasional. Sayangnya, di skala internasional saya masih belum mendapatkan medali, mungkin suatu saat nanti.
Berguncangnya situasi politik di Timur Tegah dapat dengan baik menggambarkan gemelut suasana hati saya karena bingungnya hendak melanjutkan studi kemana setelah lulus SMA nanti. maklum, saya sekarang sudah berada di penghujung tahun kelas XI dan tahun depan, akan segera mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; kuliah.
**Cita-cita Sang Remaja Ibu Kota : Scientist, Diplomat
PERIODE 5; Akhir dari Sebuah Awal
Ini adalah akhir dari autobiografi saya, namun ini semua adalah awal dari pencapaian cita-cita saya. Pada saat autobiografi ini ditulis, saya masih belum tahu akan menjadi apa saya di masa datang. Menjadi sukses  tentu adalah harapan semua orang. Namun, saya masih belum bisa mendefinisikan arti kata sukses . Setelah bertahun-tahun lamanya terbawa arus mimpi dan harapan, saya harap, di kelas XII SMA tahun depan saya sudah bisa menentukan cita-cita itu. Akan tetapi, karena hal itu belum terjadi, saya akan menuliskan harapan saya dari cita-cita yang pada saat ini saya inginkan.
Saya ingin menjadi Wakil Indonesia untuk UNESCO.  Karena, saya peduli dan prihatin akan pendidikan anak Indonesia. Saya ingin menjadikan Indonesia lebih baik lagi dari sebelumnya dan kebutuhan akan pendidikan anak Indonesia terjamin. Hal ini tentu tidaklah mudah, karena itu saya harus giat belajar dari sekarang. Saya akan menjadi salah satu dari siswa Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional atau National University of Singapore jurusan Law.
Kelak, saat saya sudah bekerja di Negara pusat UNESCO yaitu di Paris, saya tidak akan melupakan hobi-hobi saya, terutama bermusik.
Akhirnya, pencarian titik terang di tengah badai telah selesai.
Kepada para pemuda yang membaca autobiografi ini, saya berharap dapat memberi inspirasi akan mimpi dan passion.  Karena dari mimpilah, inovasi-inovasi hebat berasal, dan toh kelak, kitalah yang akan menjadi sang generasi penerus yang menjadikan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik lagi.
Di akhir kata, biarkanlah saya untuk mengucapkan
“Let us all rise and be the architect of our own destination”
Salam hangat,
K.
salah satu pementasan teater
Pada saat ulang tahun ke 7; rambut AFRO!

Baby Tika :D

Digendok mbak Nah

berenang bersama kakak; umur 3 tahun

Lomba menggambar; umur 4 tahun

berkuda bersama sepupu

Jelajah tangkuban perahu

 
6 tahun