Tampilkan postingan dengan label Mohamad Reza Kurniawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mohamad Reza Kurniawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Saya dan Tokoh Sejarah: Sejarah di Mata “Kaki” Sang Mantan RI 2

Prolog: Sebuah Curahan Hati Penulis

Bukan bermaksud untuk membanggakan keturunan, hanya sekedar menunjukkan kelemahan diri saya. Sebagai seorang yang dapat dikatakan lahir diantara tokoh-tokoh besar walaupun hanya sebagai kurcaci yang bersembunyi diantara raksasa-raksasa sejarah, seharusnya saya tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas ini. Diantara tokoh besar tersebut, Pak Sudharmono (Alm) yang pernah menjabat sebagai Mensekneg dan Wakil Presiden Republik Indonesia merupakan suami dari bude ibu saya, Pak Andung Nitimihardja (Alm) yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Duta Besar Indonesia untuk Meksiko merupakan paman saya, dan paman saya yang lain, Pak Firman Ghani merupakan mantan Ajudan wakil presiden Try Sutrisno, Kapolda Maluku dan Kapolda Jawa Timur, serta tak ketinggalan kakek saya, TB. Arifin (Alm) yang merupakan ayah dari ibu saya, yang dahulunya merupakan pejabat eselon 1 di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Namun, karena kebanyakan dari mereka sudah lama meninggal dan kalaupun ada yang masih hidup, baik sebagai pelaku maupun hanya sekedar saksi hidup, sangat sulit untuk ditemui karena sebagian mereka telah memasuki usia yang cukup tua sehingga pikun, sulit untuk mengingat peristiwa-peristiwa itu ataupun berada di luar kota dan saya sebagai penulis kurang memiliki waktu senggang untuk itu sehingga agak tersendat-sendat dalam proses pengerjaan. Setelah sekian lama, akhirnya saya memutuskan untuk mewawancarai salah satu “orang terdekat” Pak Sudharmono yang sempat merasakan hidup sehari-hari bersama beliau, yaitu supirnya yang bernama Pak Engkos yang saat ini tinggal di kawasan Cilandak.

Pada Rabu sore yang sejuk, sepulangnya saya dari sekolah, saya berpapasan dengan beliau. Hal ini adalah kejadian yang biasa, memang karena rumahnya dapat dicapai dengan berjalan kaki dari rumah saya. Namun saya kemudian teringat dengan tugas yang diberikan kepada saya dan saya memutuskan untuk mewawancarai beliau, sehingga saya kembali keluar dan hendak mencari beliau. “Mau pergi lagi, ya dek?” kata beliau seraya tertawa melihat saya keluar dari pintu rumah. Ternyata beliau masih berada tak jauh dari pintu rumahku. Lalu, saya utarakan maksud saya untuk mewawancara beliau. Beliau tambah tertawa geli mendengarnya dan berucap “Boleh saja, tapi bapak kan bukan siapa-siapa”.

Pria Tua Yang Ramah

Lalu, siapakah Pak Engkos yang hendak saya ceritakan ini? Ia adalah suami dari seorang istri dan seorang ayah dari tiga anak, beliau hampir memasuki usia kepala delapan, usia yang dapat dikatakan panjang untuk ukuran orang masa kini yang rata-rata meninggal pada usia kepala enam. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di Cilandak bersama istri dan ketiga anaknya tersebut, walaupun beliau masih belum dikaruniai cucu dari ketiga anaknya, dan seorang keponakannya yang duduk di kelas 5 SD yang bernama Fajar yang ia perlakukan layaknya cucunya sendiri. Untuk orang seusianya, dapat dikatakan ia masih gagah, badannya masih tegap, berambut putih, berkacamata dan murah senyum. Hampir setiap sore, ia duduk di depan rumahnya, kadang ia duduk seorang diri, kadang ia ditemani sang istri atau pergi ke poskamling terdekat untuk berbaur bersama teman-temannya, kadang sambil minum kopi, menonton pertandingan bola lewat televisi, atau sekedar berbincang-bincang, yang mana teman-temannya rata-rata juga telah banyak mengalami asam-garam kehidupan dan tengah menikmati masa tua. Sering kali ketika saya bertemu dengannya sepulang dari sekolah, beliau menyapa dengan sapaan khasnya, yaitu “Baru pulang sekolah, ya dek?” disertai dengan senyuman dengan sedikit tawa yang merupakan ciri khasnya yang membedakan dengan orang lanjut usia lainnya. Ya, beliau adalah seorang pria tua yang ramah.

Masa Kecil dan Masa Muda

Pak Engkos lahir di Sukabumi pada tanggal 25 Agustus 1932. Beliau bukanlah orang yang terlahir dari keluarga terpandang kala itu, sehingga beliau tidak pernah mengenyam pendidikan apapun. Masa muda beliau dihabiskan dengan bekerja untuk penjajah sebagai buruh atau tenaga kerja kasar, tepatnya pada masa penjajahan Jepang. “Waktu dulu dek, saya tidak pernah merasakan sekolah. Pas jaman Jepang, saya sudah kerja. Ya, kerja menggali lubang-lubang yang dalamnya sekitar 2 meter untuk keperluan militer Jepang, walaupun pada saat itu sih belum tahu gunanya untuk apa dan kayaknya tidak terpakai”. Pada masa penjajahan Jepang yang pada saat itu kurang lebih usia beliau sekitar antara 10 sampai 12 tahun yang dapat dibilang usia remaja, beliau “ikut serta” menggali lubang-lubang yang saya perkirakan akan menjadi bunker untuk kepentingan Jepang. Adapun mengapa lubang-lubang itu tidak terpakai lagi karena seingat saya tidak ada perang yang begitu fenomenal yang tercatat dalam buku teks sejarah yang meletus disana, dan kemungkinan Jepang membuatnya hanya untuk berjaga-jaga. Bayangkan betapa kejamnya penjajah Jepang ketika pada usia yang sangat muda, anak-anak seharusya bermain atau diberi pendidikan, bukannya dipekerjakan. Sedangkan pada masa penjajahan Belanda, beliau tidak menceritakannya. Kemungkinan pada masa itu anak-anak Sukabumi relatif masih bisa bermain bebas layaknya anak-anak pada umumnya. Pada usia 18 tahun, yaitu sekitar tahun 1949 atau 1950, beliau memutuskan untuk mengadu nasib dengan merantau ke Jakarta dan pada saat itu beliau kembali menjadi buruh, kali ini buruh pabrik di sebuah pabrik sabun.

“The Transporter”

Suatu ketika, nasib mempertemukan beliau dengan Pak Sudharmono seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di atas, Pak Engkos bekerja sebagai supir Pak Sudharmono. “Pak Dhar orangnya baik, sabar dan tidak pernah marah sehingga saya merasa nyaman bekerja untuk beliau” ujar Pak Engkos seraya mengingat-ingat kembali. Peristiwa yang paling beliau ingat pada saat itu adalah peristiwa 27 Juli 1996, meskipun kala itu Pak Sudharmono tidak lagi menjabat RI 2. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Pak Engkos dan ayah saya, peristiwa itu adalah peristiwa pendudukan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro oleh massa pendukung Suryadi. “Pada kala itu, di dalam intern PDI sendiri telah diadakan kongres untuk menentukan pimpinan partai tersebut dan berdasarkan hasil kongres, Megawati Sukarnoputri berhak menempati posisi Ketua Umum PDI. Namun, pemerintahan Suharto hanya mengakui bahwa Suryadi yang notabene pro-pemerintah sebagai ketua umum partai tersebut, sehingga terjadilah bentrokan tersebut. Saat itu, Suryadi nampak diperkuat oleh massa yang berpakaian preman yang disinyalir satuan pengamanan” kata ayah saya yang mencoba membantu saya memahami peristiwa tersebut. “Pada saat itu, Pak Sudharmono hendak akan pulang dari kantor BP7 di Jalan Proklamasi ketika kejadian itu berlangsung di kantor PDI di Jalan Diponegoro. Pada saat itu keadaan kacau balau sehingga diarahkan oleh Pak Suryadi ke Cikini jadi saya mengantar beliau pulang menuju Senopati melalui Cikini” cerita Pak Engkos. Yang membuat saya sedikit bingung, bagaimana Pak Suryadi memberitahunya untuk lewat Cikini, apakah melalui massanya yang kurang tahu atau Pak Suryadi sendiri yang menginstruksikan Pak Sudharmono atau Pak Engkos yang kemungkinan lewat telepon. Hingga kini, walaupun Pak Sudharmono telah tiada, Pak Engkos masih sering mengunjungi kediamannya pada tiap hari lebaran untuk bersilaturrahim dengan keluarga besar Pak Sudharmono, bersama dengan para kaki-tangan pak Sudharmono lainnya.

Sedikit Tentang Tragedi 27 Juli 1996

Untuk tragedi ini, terdapat bermacam-macam nama orang menyebutnya. ada yang menyebutnya Peristiwa 27 Juli 1996, ada yang menyebutnya Tragedi 27 Juli Berdarah, KUDATULI ( Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), sabtu kelabu dan sebagainya. Peristiwa 27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Sukarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Suryadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, khususnya di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat. Beberapa kendaraan dan gedung terbakar.Pemerintah saat itu menuduh aktivis PRD sebagai penggerak kerusuhan. Pemerintah Orde Baru kemudian memburu dan menjebloskan para aktivis PRD ke penjara. Budiman Sudjatmiko mendapat hukuman terberat, yakni 13 tahun penjara. Mengulas kembali pernyataan ayah saya yang sebelumnya menuturkan bahwa ada kejanggalan seperti massa yang berpakaian merah memiliki beberapa ciri khas yang menurut ayah saya hanya dimiliki satuan pengamanan (Polisi atau TNI) dan dikatakan bahwa Suryadi telah mendapat pengakuan dari Pemerintahan Suharto, ada sedikit kemungkinan walaupun sedikit mereka-reka, bahwa rezim Suharto memiliki peran dalam insiden ini sehingga masih menjadi suatu hal yang membingungkan saya pribadi sebagai penulis.

Epilog: Yang sudah lalu biar berlalu

Sebagai sebuah artikel mengenai sejarah, mungkin pembaca merasa sedikit aneh,mengapa penulis memberi judul bagian tersebut demikian? Karena, tampaknya filosofi inilah yang dianut Pak Engkos. Ketika menceritakan kisah hidupnya, beliau menjawabnya dengan singkat padat dan jelas seraya masih menyunggingkan senyumnya yang diselingi sedikit tawa. Dapat dikatakan, semua yang saya tulis di artikel ini adalah semua yang ia katakan. Selama saya mewawancarai beliau, saya merasa ia seolah mengatakan kepada saya “Yang sudah lalu biarkan saja berlalu, yang penting masa kini dan masa yang akan datang bahagia”. Mungkin, telah banyak pengalaman pahit yang ia rasakan namun ia berupaya untuk tidak mengeluh dan melupakan masa lalunya yang kelam. Ia tidak terbawa perasaan ketika ia bercerita tersebut walaupun pernah beliau sedikit berhenti tersenyum. Ya, biarlah pria tua tersebut menikmati sisa hidupnya dengan tenang dan bebas tanpa beban yang berarti. Kalau mungkin pembaca sudah melihat seluruh isi artikel ini dan menemukannya mirip dengan sumber lain di internet atau kekurangan lainnya, saya hanya dapat memohon maaf. Semoga bermanfaat!

Reza

Selasa, 31 Mei 2011

SAYA DAN ANGOLA: CAPOEIRA DE ONDE É QUE VEIO? EU VIM DE ANGOLA Ê!


Oi!

       Apa yang timbul di benak anda ketika saya menyebutkan kata Angola?  Mungkin hanya suatu negara antah berantah di Afrika atau peserta FIFA world cup tahun sekian. Memang, Angola tidak mempunyai peran yang sebegitu pentingnya bagi percaturan politik dunia secara luas (global), tetapi bagi saya, Angola merupakan tempat yang menarik perhatian saya, karena Capoeira, sebuah beladiri yang berasal dari Brasil ternyata memiliki akar di Angola berupa sebuah tarian yang disebut N’golo dan tarian ini jugalah yang kelak akan melahirkan beladiri lain yang mirip dengan Capoeira di daerah lain, misalnya di Martinique terdapat Ag’ya atau Ladja. Pada artikel ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang negara Angola. Republik Angola alias República de Angola adalah sebuah negara di Afrika Barat Daya yang berbatasan dengan Namibia di selatan, Zambia di timur, Republik Demokratik Kongo di utara, serta Samudera Atlantik di sebelah Barat. Angola juga memiliki eksklave yaitu Cabinda, yang berbatasan dengan Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo. Ibukota negara ini adalah Luanda, bahasa resminya adalah Bahasa Portugis dan mata uang negara ini adalah Kwanza.


  
Angola dibagi menjadi 18 provinsi dan 163 kota. Provinsi-provinsi tersebut adalah
  1. Bengo
  2. Benguela
  3. Bié
  4. Cabinda
  5. Cuando Cubango
  6. Cuanza Norte
  7. Cuanza Sul
  8. Cunene
  9. Huambo
  1. Huila
  2. Luanda
  3. Luanda Norte
  4. Luando Sul
  5. Malanje
  6. Moxico
  7. Namibe
  8. Uige
  9. Zaire

     Setiap negara, setiap bangsa bahkan setiap orang pasti memiliki sejarahnya sendiri, tak terkecuali Angola. Kini. saya akan sedikit bercerita tentang sejarah Angola berdasarkan referensi yang saya dapat. Sebagai seorang Indonesia, yang jelas bukan merupakan Angoleiro dan bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Angola, saya mohon maaf apabila saya banyak membuat kesalahan disini.
Letak Angola
Pemandangan di Kota Luanda

Periode I: Angola, Perbudakan dan Perdagangan Budak (Abad 15-19 Masehi)

       Hanya sedikit yang dapat ditelusuri dari sejarah Angola sebelum Portugal datang, hanya kedatangan 
imigran Bantu dari utara yang membawa kebudayaan besi pada awal abad masehi. Portugis mendarat di Angola pada abad ke-15 masehi, sekitar tahun 1482 di suatu tempat yang kini berada di Angola Utara, yaitu kerajaan Kongo di utara. Di selatan, terdapat kerajaan lain yaitu Ndongo yang dikuasai oleh raja yang disebut Ngola, yang diperkirakan menjadi asal kata Angola. Ada beberapa wilayah dari negara ini sempat direbut Belanda dari tangan Portugis pada sekitar tahun1641-1648 sampai Portugis berhasil merebutnya. Tujuan awal Portugis menjajah Angola adalah untuk emas. Seiring dengan berkembangnya usaha penanaman Tebu milik Portugis di Amerika Latin, tepatnya di Brasil, Portugis melihat pentingnya penambahan tenaga kerja disana dengan cara “merekrut” budak dari Angola.

         Sedikit tentang perbudakan bangsa Portugis derhadap bangsa Angola di Brazil diceritakan pada lagu “Um dia na senazala” yang berarti “Suatu hari di kuartal budak” yang merupakan lagu digunakan di kalangan Capoeirista (praktisi Capoeira)  sebagai lagu pengiring. Berikut adalah cuplikan liriknya:“Um sofria na senzala sob a vista do coronel, que olhava do sacada como um raio vem do céu…” yang berarti Ia (para budak) merderita di senzala (kuartal budak) di bawah pantauan sang kolonel. Ia melihat dari atas balkon bagaikan petir yang menyambar dari langit…” Maksudnya apabila ada budak yang terlihat malas bekerja, diancam oleh mandor perkebunan yang tampak sebagai kolonel dengan tembakan senapan yang diumpamakan seperti petir. Apa yang membuktikan bahwa mereka bekerja di suatu perkebunan? lirik “Moendo cana e, socando pilão” yang berarti penggilingan tebu, tadorong, kuat-kuat”. Lalu, apa yang membuktikan bahwa mereka datang dari Angola?, Dalam lagu Tindolelê auê Cauiza yang dipakai untuk mengiringi Maculelê, sebuah tarian sekaligus ilmu beladiri yang menggunakan tongkat yang mirip dengan Capoeira, diulang berkali-kali lirik “Eu vim de Angola ê” yang berarti saya datang dari Angola. Perbudakan dapat dianggap selesai pada sekitar abad ke-19, dimana terjadi embargo barat terhadap perdagangan budak dari Angola pada tahun 1836, walaupun dikalangan bangsa Portugis hal ini masih legal sampai 1875. Hal ini menyebabkan pemerintah Portugis berupaya untuk mengadakan perkebunan itu di Angola dengan Kopi, Gula dan Kapas sebagai komoditas utamanya. Selain itu pada 1880-an, terjadi perebutan wilayah-wilayah di Afrika antar kalangan Eropa.


Periode II: Periode Kolonialisasi dan Dekolonialisasi (1885-1975)

       Penguasaan Bangsa Portugis terhadap Angola mendapat pengakuan dari negara-negara di Eropa pada 1880-an, dan perbatasan-perbatasan Angola Portugis dipertegas dengan hasil perundingan di Eropa pada 1891. Pembangunan lebih diintensifkan lagi disana, misalnya dengan diadakannya pembangunan rel dari Luanda ke Malanje, suatu daerah yang terhitung subur di daerah Afrika.

        Dalam periode ini, terjadi beberapa perubahan dari internal Portugal itu sendiri, yaitu berubahnya sistem pemerintahan monarki ke republik pada 1910 dan kemudian pada 1926 Portugal dibawah kepemimpinan diktator militer yang menyebabkan makin ketatnya kendali Portugal di Angola.

       Pada periode ini, tepatnya sekitar1950-1960-an, muncul kelompok-kelompok yang berjuang untuk mengupayakan kemerdekaan Angola. Karena kelompok-kelompok tersebut bersifat kesukuan dan kewilayahan/kedaerahan, terjadi masalah-masalah seperti perebutan kekuasaan, perbedaan ideologi dan lain-lain, yang menyebabkan kelompok-kelompok ini tak jarang berselisih satu sama lain.  Adapun Tiga kelompok yang dominan adalah:
  • Gerakan Populer untuk Kemerdekaan Angola (Movimento Popular da Libertação de Angola, MPLA) yang dibentuk pada 1956 dan dipimpin oleh Agostinho Neto,  memiliki massa yang kuat di Kimbundu dan intelek-intelek berdarah campuran di Luanda, dan memiliki hubungan yang kuat dengan partai Komunis di Portugal dan Blok Timur.
  • Front Nasional untuk Kemerdekaan Angola (Frente Nacional para a Libertação de Angola, FNLA),dipimpin oleh Holden Roberto yang memiliki massa etnis di wilayah Bakongo di utara dan memiliki hubungan dengan Amerika Serikat serta rezim Mobutu di Kinshasa.
  • Persatuan Nasional untuk Kemerdekaan Total Angola (União Nacional para a Indepêndencia Total de Angola, UNITA) berdiri pada 1957 dan dipimpin oleh Jonas Malheiro Savimbi memiliki massa etnis di wilayah Ovimbundu yang dapat dianggap sebagai jantung negara tersebut karena terletak di tengah-tengah negara tersebut dan menjalin kerjasama dengan Republik Rakyat Cina dan Apertheid di Afrika Selatan.
       Selain tiga organisasi tersebut, Portugis juga menghadapi masalah-masalah lain yang mengganggu kelanggengan kekuasaannya di Afrika, seperti pemberontakan dan gerilya yang dilakukan para buruh di perkebunan kapas dan kopi di sana. Bangsa Portugis telah berusaha mempertahankan kekuasaan mereka, misalnya dengan mengirimkan tentara-tentara kolonial ke sana, namun masih saja Portugal mengalami kesulitan menangani itu dan masalah internal di negaranya sendiri hingga pada 1970-an, satu persatu koloni Portugal memerdekakan diri. Angola merdeka pada November 1975.

Periode III: Periode Kemerdekaan (sejak 1957)
        
Bendera Angola
      Sungguh fakta yang menyedihkan, bahwa di balik kemerdekaan Angola dari Portugal, Angola kerap mengalami perang sipil yang disebabkan oleh tiga kelompok yang sebelumnya mempunyai misi yang sama: memerdekakan Angola. Bahkan, perang sipil yang pada masa kolonialisme Portugal telah terjadi menjadi lebih sering terjadi. Semerdekanya Angola, masalah tidak begitu saja hilang. Dalam perebutan terhadap ibukota, MPLA berhasil mengalahkan para pesaingnya. UNITA, yang mengklaim memiliki massa pendukung paling banyak meminta kepada Portugal untuk menyelesaikan tugas terakhirnya sebagai kolonialis untuk mengadakan PEMILU, walaupun Portugis secara cepat meningggalkan Angola dan tidak memikirkan kelompok mana yang berhak untuk meneruskan kekuasaan. Karena MPLA yang didukung oleh Uni Soviet dan Kuba mendeklarasikan kemerdekaan Angola dan menguasai ibukota Angola yaitu Luanda, MPLA secara otomatis berkuasa dan pemimpinnya, Agostinho Neto menjadi Presiden Angola.UNITA dan FNLA kemudian membuat pemerintahan tandingan di Huambo, Benguela. Disinilah mereka mendapat bantuan dari Afrika Selatan di negara tetangganya, Namibia untuk memerangi MPLA yang Marxis.
    
Lambang Negara Angola
  Konflik di Angola kemudian berlanjut menjadi sebuah perang dingin. Amerika Serikat mengirimkan dana ke UNITA dan FNLA dan mendorong keterlibatan Afrika Selatan. Uni Soviet memberikan dukungan serupa dengan MPLA, sementara Presiden Castro, bersemangat untuk menyebarkan komunisme di Afrika, mengirimkan kontingen besar pasukan Kuba ke Angola. Pada awal November 1975 Afrika Selatan dan Kuba bertempur dalam pertempuran di Ebo, dengan kemenangan pada pihak Kuba dan MPLA.

        Keterlibatan Afrika Selatan meningkat selama bertahun-tahun karena situasi di negara tetangga Namibia, dimana kelompok pemberontak SWAPO menerima dukungan dari Angola (MPLA). Dari sudut pandang Afrika Selatan, mempertahankan kendali di Namibia dan memerangi komunisme di Angola adalah satu kesatuan. Namun pada tahun 1988, karena perang dingin sudah terlalu berlarut-larut, kedua belah pihak (Afrika Selatan dan Kuba) akan menarik pasukan mereka dari Angola.Hal ini menyebabkan perang sipil Angola kembali mengecil sebagai urusan internal. FNLA pada akhir 1980-an mundur dari persaingan ini, menyisakan MPLA, yang dipimpin oleh José dos Santos sejak kematian Neto pada tahun 1979, dan UNITA, di bawah kendali pendirinya, Jonas Savimbi sebagai dua pesaing. Dari tahun 1989 ada beberapa upaya oleh dua orang untuk mencapai gencatan senjata. Solusi dibuat lebih mudah ketika MPLA memutuskan untuk membanting setir dari konsep Marxisme-Leninisme dan negara satu partai-nya. Sebuah perjanjian dicapai pada tahun 1991 yang melahirkan sebuah konstitusi baru, penggabungan kedua pasukan yang bersengketa tersebut dan penyelenggaraan pemilu multipartai.

       Pemilihan berlangsung sebagaimana mestinya pada tahun 1992. MPLA memenangkan pemilihan tersebut dengan UNITA di tempat kedua. Savimbi nampaknya tidak dapat menerima kenyataan tersebut Perang saudara pecah lagi, bahkan lebih keras daripada sebelumnya. Selama dua tahun pertempuran, terhitung bahwa sekitar dua juta orang akhirnya jauh dari rumah, alias menjadi pengungsi (20% dari populasi). Lebih dari 20 juta ranjau darat tertanam kala itu.Pada bulan November 1994, di bawah mediasi PBB di Lusaka, perdamaian yang agak “goyah” ini disepakati. Ini melibatkan demobilisasi bertahap pasukan UNITA dan partisipasi UNITA dalam pemerintahan sebagai partai politik, dengan Savimbi sebagai wakil presiden Angola. Namun kemajuan masih jauh dari meyakinkan. Demobilisasi tidak berlanjut. Savimbi membatalkan keputusannya untuk melayani Angola sebagai wakil presiden dan UNITA  enggan untuk melepaskan kendali atas daerah yang meliputi tambang berlian. (Sesuai dengan sumber dana kedua kubu, minyak dapat dikatakan secara eksklusif dikuasai MPLA, sementara pertambangan berlian selama ini mendanai UNITA).Perjanjian tersebut dinyatakan batal pada bulan Desember 1998, dan kembali menghadapi perang saudara. Selama tahun 1999, UNITA memegang kendali atas sekitar 75% dari pedesaan, dan membuat para petani yang ketakutan pindah  kota-kota yang dikuasai pemerintah (MPLA)  di mana kelaparan dan penyakit mengancam kehidupan ratusan ribu jiwa. Pada tanggal 22 Februari 2002, Jonas Savimbi, pemimpin UNITA, tewas dalam pertempuran dan gencatan senjata dicapai oleh kedua fraksi. UNITA membubarkan angkatan bersenjatanya dan menerima perannya sebagai partai oposisi utama. Meskipun situasi politik negara itu mulai stabil, Presiden Dos Santos sejauh ini menolak untuk melembagakan proses demokrasi biasa. 


   Di antara masalah utama Angola adalah krisis kemanusiaan yang serius (akibat perang berkepanjangan), berlimpahnya ladang ranjau, dan tindakan gerakan gerilya yang memprerjuangkan kemerdekaan eksklave utara Cabinda (Frente para a Libertacao do Enclave de Cabinda/FLEC). Pada 1 Agustus 2006, Nota Kesepahaman (MoU) untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Provinsi Cabinda dan menyebabkan berakhirnya FLEC sebagai organisasi gerilya yang menuntut kemerdekaan Cabinda.  Meskipun tidak semua fraksi FLEC mendukung kesepakatan damai, nota Kesepahaman ini merupakan langkah penting dalam membawa perdamaian untuk Cabinda.

       Inilah sedikit cerita tentang Angola, suatu negeri yang telah mengalami banyak kepahitan-kepahitan dalam sejarahnya, mulai dari perbudakan hingga perang saudara. Semoga dapat bermanfaat.

Muito Axé


Reza

Sumber:

Senin, 30 Mei 2011

SAYA, MUSEUM TRANSPORTASI DAN DAMRI: HABIS MAKANAN DAMRI KUTELAN


Sebelumnya, saya mohon maaf kalau judulnya agak aneh. Tidak ada unsur sadistis apapun dalam artikel ini, yang hanya akan berisi kunjungan saya ke Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah pada hari Minggu 29 Mei 2011 pada pukul 09:00. Sedikit cerita saja, bahwa sebelumnya saya hendak mengunjungi Museum Basuki Abdullah yang terletak di Jalan Keuangan, Cilandak yang sebelumnya merupakan kediaman sang pelukis yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Sebelumnya, saya telah mencari dan melihat sedikit tentang museum tersebut dan seharusnya museum tersebut buka. Namun, keadaan berkata lain lantaran museum tersebut tutup dan dalam masa renovasi. Apa boleh buat, saya harus mencari museum lain dan Museum Transportasi di TMII adalah jawabannya.

     Suasana di museum ini tampak menyenangkan karena pencahayaannya yang bagus karena “setengah terbuka”, maksudnya ada bagian outdoor dan indoor, dan bagian indoor cukup dicahayai oleh cahaya matahari melalui jendela yang besar, bahkan hampir dapat dibilang ruangan indoor hanya ditutupi tembok kaca sehingga jauh dari kesan museum pada umumnya yang gelap dan suram. Museum ini ternyata dapat juga berfungsi menjadi ruang pertemuan karena ketika saya mengunjungi meuseum tersebut, ada murid-murid sekolah dasar ditemani para guru yang tampaknya sedang mengadakan acara wisuda. Didalamnya, terdapat empat modul atau empat bagian, yaitu modul transportasi pusat yang menceritakan sedikit tentang transportasi konvensional dan tradisional seperti sepeda, andong, becak dan cikar, modul transportasi darat yang terdiri dari sepeda motor, mobil, bus dan kawan-kawannya, modul transportasi laut yang terdiri dari kapal-kapal dan modul transportasi udara yang terdiri dari pesawat. Ketika anda berada di depan Museum Transportasi dan akan memasuki museum tersebut, anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang bagi saya dan beberapa orang yang hanya pernah naik pesawat sejumlah hitungan jari atau tidak pernah sama sekali, jarang ditemui yaitu pesawat Garuda DC-9 PK-NGT yang pernah melayani penerbangan ASEAN-Australia, dan sebuah helikopter milik tim SAR yang berwarna oranye. Ya, seperti yang telah saya nyatakan sebelumnya, rupanya terdapat ruang pameran outdoor yang menunjukan sarana-sarana transportasi tua yang dulunya pernah berjasa bagi kepentingan negara, seperti pesawat dan helikopter tadi, serta beberapa lokomotif, dan bus DAMRI yang akan saya ceritakan. 

     
                                             Angkutan udara yang terpampang di luar museum




                             Garasi bagi transportasi yang sudah usang namun bersejarah

  Di artikel ini, saya akan sedikit bercerita tentang DAMRI. Pertama-tama, ada satu hal yang sedikit mengganggu pikiran saya, yaitu apakah kepanjangan dari DAMRI? DAMRI adalah akronim dari Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia.  Apa yang ada dipikiranmu apabila mendengar kata DAMRI? ya, 100 buat anda yang menjawab bus transport dari dan ke bandara SOEKARNO HATTA, sekalipun masih belum tepat (hehehe). Maaf kalau saya ngelantur lagi, ketika baru pulang dari Jogja pada studi lapangan kemarin, saya ditemani oleh salah seorang teman saya, Fajar pulang menggunakan bus DAMRI yang kalau tidak salah kala itu harga tiketnya Rp. 25.000,-. Ya, that’s what DAMRIs are for. Tetapi, tahukah anda bahwa DAMRI memiliki sejarah panjang dan penting yang berpengaruh terhadap nasib negara ini?
      DAMRI, sekali lagi adalah kepanjangan dari Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia yang dibentuk berdasarkan Makloemat Kementerian Perhoeboengan RI No.01/DAMRI/46 tanggal 25 Nopember 1946 dengan tugas utama menyelenggarakan angkutan orang dan barang diatas jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor.    Dalam perkembangan selanjutnya sebagai Perusahaan Umum (Perum), nama DAMRI tetap diabadikan sebagai brand mark dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini yang hingga saat ini masih tetap konsisten menjalankan tugasnya sebagai salah satu service provider angkutan orang dan barang dengan menggunakan bus dan truk.
   Apabila ditelusuri lebih jauh lagi, cikal bakal DAMRI sudah dapat dilihat pada zaman Jepang, tepatnya pada tahun 1943, yang mana pada saat itu terdapat dua usaha angkutan di jaman pendudukan Jepang, yaitu JAWA UNYU ZIGYOSHA yang mengkhususkan diri pada angkutan barang dengan truk, gerobak/cikar dan ZIDOSHA SOKYOKU yang melayani angkutan penumpang dengan kendaraan bermotor/bus.Tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, dibawa pengelolaan Kementrian Perhoeboengan RI, JAWA UNYU ZIGYOSHA berubah nama menjadi “Djawatan Pengangkoetan” untuk angkutan barang dan ZIDOSHA SOKYOKU beralih menjadi “Djawatan Angkoetan Darat” untuk angkutan penumpang. Guna memperlancar proses pengopersian serta untuk meneruskan kedua jawatan tersebut, dengan berdasar pada peraturan dewan pertahanan negara tahun 1946 no.4, di Yogyakarta didirikan jawatan angkutan darat bermoto (JADB) yang berada dibawah panitia angkutan darat (PAD). Dalam peraturan dewan pertahanan negara (pasal 9 ayat a. sub 3) antara lain disebutkan bahwa kepada jawatan  angkutan darat bermotor (DABB) ditugaskan untuk menerima penyerahan semua  kendaraan bermotor, yang digunakan sebagai angkutan umum.25 November 1946, kedua jawatan itu digabungkan berdasarkan Makloemat Menteri Perhoeboengan RI No.01/DAM/46 dibentuklah “Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia”, disingkat DAMRI, dengan tugas utama menyelenggarakan pengangkutan darat dengan bus, truk, dan angkutan bermotor lainnya.Tugas ini pulalah yang menjadikan semangat “Kesejarahan” DAMRI yang telah memainkan peranan aktif dalam kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan melawan agresi Belanda di Jawa.
       Sebegitu pentingkah peran DAMRI masa itu? Tentu, walaupun wujud DAMRI kala itu tidak seperti DAMRI pada saat ini. Yang perlu diingat, kala itu armada pertama DAMRI belum berbentuk bus, yang pada sekitar tahun 1945-1950-an masih berbentuk cikar, atau dengan kata lain kereta yang berukuran panjang 515 cm. lebar 200 cm dan tinggi 275 cm  yang ditarik sapi. Pada 1946, cikar DAMRI berfungsi sebagai angkut logistik militer di daerah Banyumas, Surabaya dan Mojokerto. Mungkin anda kini dapat mengerti maksud tajuk di atas. Benar, apabila perbekalan habis, maka sapi-sapi yang dipakai sebagai penarik cikar itu………  DISEMBELIH untuk dimakan. Selain itu, cikar tersebut di hancurkan agar jejaknya terhapus, mungkin untuk menghindarkan sang kusir DAMRI dan kawan-kawan dari hukuman, menurut sudut pandang saya.Setelah angkutan bermesin sudah mulai digunakan secara massal, kini era cikar DAMRI  telah berakhir.
       Setelah revolusi kemerdekaan selesai, DAMRI terdesak keberadaannya oleh perusahaan angkutan milik swasta oleh karenanya status DAMRI dirubah dan hanya dijadikan bagian/urusan dari jawatan lalulintas jalan (DLLD). Sedangkan dalam tugasnya sehari-hari DAMRI hanya diberikan tugas sebagai angkutan perintis saja dan menampung kepentingan angkutan dari daerah pedalaman ke kota (Feeder lines). Pada waktu itu setiap unit DAMRI didaerah-daerah berdiri sendiri dan perkembangannya tergantung  pada kondisi dan situasi daerah. Setelah berlakunya tertib sipil, maka telah diberlakukan kembali undang-undang lalu lintas jalan yang lama (MVV dan MVO), diamana dalam penerapannya pengusaha-pengusaha angkutan lama (sebelum perang dunia ke dua) mempunyai hak historis dalam menentukan perijinan trayek. Hal ini merugikan DAMRI karena menyebabkan sangat sulit untuk mendapatkan izin trayek yang menguntungkan, sementara oleh pemerintahan daerahnya diberi trayek-trayek perintis saja, dimana angkutan swasta tidak mau melayani karena tidak menguntungkan. Sementara itu DAMRI dituntut harus mampu bertidak sebagai unit cadangan strategi ekonomi. Disamping itu karena DAMRI adalah alat pemerintah, maka setiap saat bila diperlukan, DAMRI dapat dijadikan unit cadangan strategi Hankamnas.
      Berdasarkan surat keputusan Menteri Perhubungan No.14/17/100 tanggal 12-11-1955 DAMRI mempunyai status sebagai Jawatan Vertikal yang berpusat di Jakarta dan merupakan bagian dari Depatemen Perhubungan.Adapun bentuk organisasi keuangan DAMRI dalam masa itu diatur menurut ketentuan-ketentuan ICW, dengan surat keputusan Menteri Perhubungan tanggal 29 Desember1955 No.L.35/2/24 dan berkedudukan sebagai jawatan menurut aturan pemerintah No.20 tahun 1952.Kebijakan Pemerintah waktu itu terhadap tugas pokok dan fungsi DAMRI telah dipertegas lagi, yaitu sebagai angkutan perintis dan sebagai stabilitator tarif, untuk mencegah oknum perusahaan angkutan swasta menaikkan tarif terlalu tinggi dan keburukan-keburukan lain perusahaan angkutan swasta karena angkutan swasta umumnya melaksanakan kebijakan berdasarkan kepentingan ekonomis dan komersil saja.
Tahun 1961, terjadi peralihan status DAMRI menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Negara (BPUPN) berdasarkan PP No.233 Tahun 1961, yang kemudian pada tahun 1965 BPUPN dihapus dan DAMRI ditetapkan menjadi Perusahaan Negara (PN). Tahun 1982, DAMRI beralih status menjadi Perusahaan Umum (PERUM) berdasarkan PP No.30 Tahun 1984, selanjutnya dengan PP No. 31 Tahun 2002, hingga saat ini. Dimana PERUM DAMRI diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan jasa angkutan umum untuk penumpang dan atau barang di atas jalan dengan kendaraan bermotor.
       Hingga saat ini, DAMRI memiliki jaringan pelayanan tersebar hampir diseluruh wilayah Republik Indonesia.  Dalam kegiatan usahanya kini, DAMRI tidak hanya menyelenggarakan pelayanan angkutan perkotaan, angkutan antar kota, angkutan khusus bandara, angkutan travel,angkutan paket (logistik) dan angkutan keperintisan, tetapi ternyata DAMRI sudah goes regional dengan membuka jasa angkutan lintas batas negara.  Khusus pada pelayanan angkutan lintas batas negara yang diawali dengan pembukaan trayek Pontianak-Kuching (Malaysia) beberapa tahun lalu, terhitung mulai tanggal 26 Oktober 2008 telah merambah sampai ke Brunei Darussalam (Pontianak-Kuching-Brunei Darussalam).  Dalam waktu dekat akan segera disusul dengan pembukaan pelayanan ke Papua New Guinea (Jayapura-Vanimo) dan Timor Leste (Kupang-Dilli).
                                             Salah satu seragam kondektur bus DAMRI


        
             Fungsi DAMRI sebagai angkutan penumpang dan angkutan barang tempo dulu.


       Seperti yang kita ketahui DAMRI pada era manapun juga merupakan sarana angkutan barang selain sebagai angkutan penumpang. Hal ini dapat dilihat pada Truk DAMRI merk Internal Harpenter buatan Amerika ini. Truk ini beroperasi pada tahun 1963, tahun yang sama dengan tahun pembuatannya. Sayangnya, hanya terdapat miniaturnya saja di sini. Sebagai bus penumpang, bus DAMRI yang ada di sebelah saya ini adalah bus DAMRI tua yang saya temukan  yang paling serupa dengan bus DAMRI sekarang. Yang berada dalam foto tersebut adalah Bus DAMRI bermerk TATA tipe LP, 1210.E buatan India. Bus ini memiliki panjang 9,5 meter, lebar 2,4 meter dan tinggi 2,9 meter dan memuat antara 30-40 penumpang dan dapat digolongkan sebagai bus ukuran sedang. Bus ini mulai beroperasi pada 1978 di Surabaya, Semarang dan Bandung. Pada foto ini, dapat dilihat rute yang dilalui bus ini adalah Cicaheum-Cibeureum di Bandung. Kunjungan saya ke museum ini membuat saya rindu untuk menaiki bus ini lagi sebagai seorang DAMRIDER dan membuat saya ingin menelusuri tentang DAMRI lebih jauh lagi. Sungguh kenangan yang takkan kulupa.

                                         Penulis beserta Bus DAMRI tahun 1978

                                    Penulis diantara beberapa miniatur DAMRI
                                  

Salam DAMRIDERS,

Reza